Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
65


__ADS_3

Adam menghampiri Tambun yang sedang mengompres wajahnya,Mata Tambun terbelalak,detak jantungnya cepat,napasnya turun naik tidak beraturan.


Dirinya masih memasang kuda kuda takut Adam tiba tiba menyerangnya lagi,


Brang! Baskom stainles jatuh ke lantai tatkala tangan Adam ingin meraih handuk kompres,Adam mengambil baskom itu lagi dan mengisinya dengan air.


Adam mendekat lagi ke arah Tambun,tanpa bicara,tangannya mendekati wajah Tambun,di tepisnya lagi tangan Adam.


Adam masih betah mengulang aksinya,sampai akhirnya Tambun melempar handuk ke lantai.


Adam meraih handuk tersebut,berjalan lagi ke arah Tambun,


"Diam kau! kalau tidak ku hancur wajahmu!" Kali ini Adam mengeluarkan suara yang keras menggertak Tambun.


Tidak ada pergerakan dari Tambun,dia pasrah mau melawan pun badannya masih lemah setelah berduel dengan Adam.


Adam mendekatkan tangannya ke wajah Tambun,memijit perlahan bagian tulang rahangnya. Setelah lama memijit barulah Adam mengompres lebam akibat kepalan tangan Adam.


"Iss!,!ssh! hss!" Beberapa kali Tambun mendesis,Adam tidak memperdulikan, wajahnya masih angkuh tidak mau bicara dengan Tambun.


Ini orang udah gebukin gue,masih juga dia mau nolong gue,kirain tadi mau kasi gue bonus gebuk lagi,habis raut wajahnya seperti superman yang tidak bisa senyum


Yang awalnya Tambun ketakutan sekarang rileks saja,membiarkan Adam bermain seperti anak kecil mengelap setiap inci wajah sangarnya.


"Maaf,aku tadi tersulut emosi,tidak bermaksud membuat wajahmu bengkak begini" Adam berhenti mengompres Tambun.


Dia kembali duduk bersandar di tembok.


"Baru dalam penjara inilah aku nemu orang aneh seperti dia,mirip tembok tapi bisa lunak " Tambun berucap nyengir.


Adam tetap cuek matanya di pejamkan kaki sebelah di tekuk dan yang sebelah membujur.


Apa aku masih pantas di sebut sebagai manusia


Batin Adam.


"kamu tidak mau berbagi cerita sesama teman senasib seperjuangan?" Tambun duduk mendekati Adam perlahan,bicaranya pun berhati hati,takut kalau Adam akan menghantam rahangnya lagi.


Adam masih diam,hanya melirik sekilas pada Tambun,


"Hhhhh, ya sudah kalau tidak mau cerita,sorry dengan kejadian yang tadi" Tambun bicara lagi berharap Adam mau bicara dengannya.


"hmmm..." Adam.


Gila,cuma berdehem saja,benar benar tembok lunak ini manusia,ngeri juga kalau bicaranya berdekatan,sebaiknya jaga jarak saja,


Huh! seumur seumur jadi preman baru kali ini wajahku jadi permen.


Tambun bergeser perlahan,duduk di seberang Adam,Nyalinya menjadi menciut.


"Ehm,boleh tau di mana kamu belajar bela diri, besok besok bisa jadi suhu di sini " Tambun berusaha mencairkan suasana.


Adam membuka matanya menatap serius pada Tambun,Sudut bibir Tambun bergerak sebelah,


"Kamu mengejekku ?" Adam berjongkok menatap Tambun.

__ADS_1


"Ti..tidak," Tambun bergidik ngeri.


"Kalau tidak kenapa bibir kamu sebelah bergerak seperti kumis kucing?" Adam menunjuk sudut bibir Tambun.


"Oh,ini.." Tambun menyentuh sudut bibirnya.


"Ya" Adam singkat.


"Tapi bisa duduk tidak,? semakin di tatap bibirku semakin cepat bergerak" Tambun semakin takut.


Adam duduk persis di sebelah Tambun.


Ini orang bikin jiwa penasaran saja,terkadang bisa bikin merinding terkadang bisa bikin membeku


Tambun menyentuh tengkuknya.


"Kenapa belum di jelaskan," Adam mengangkat alisnya.


"Apanya?" Tambun bingung


Adam menyentuh sudut bibir Tambun yang tidak bergerak lagi.


"Oh,lupa " Bibir Tambun bergerak lagi takut tiba tiba Adam berubah menjadi monster.


"Em,gimana ya ngomongnya," Tambun menggaruk kepalanya.


"Kamu yang tau,kenapa kamu bertanya" Adam kesal.


Tuh kan benar dia hampir berubah jadi monster


Batin Tambun.


"Hups! ha..ha...ha...!" Adam tertawa terbahak,sangat lucu menurutnya,seorang preman punya ciri khas sendiri.


Tambun merubah raut wajahnya tidak suka dengan tawa Adam,di paling wajahnya ke samping.


"Sorry bro,sorry.... tidak bermaksud membuatmu marah,tapi kamu telah berhasil membuat aku tertawa selama aku dalam penjara, " Adam menutup mulut dengan tangannya.


Tambun melihat Adam tertawa memang bukan tawa yang di buat,ataupun tawa mengejek.


"Apa yang kamu takutkan dariku tadi? ku lihat bibirmu bergerak cepat seperti gerakan kelinci sedang makan ?"


"Aku takut kalau wajahku di kasi bonus lagi he he he...." Tambun malu malu.


"Ha ..ha...ha...." Adam kembali tertawa,sampai penjaga menegurnya.


"Andai bapak tau topiknya saya tidak yakin kalau bapak tidak tertawa seperti saya " Adam menjawab teguran penjaga.


"Jangan berisik !" Penjaga kembali menegur Adam.


"Ha ..ha...ha..." Giliran Tambun yang tertawa.


"Kamu tertawa kan apa ?" Adam bertanya.


Tambun membisikkan sesuatu di telinga Adam,keduanya tergelak tertawa terbahak.

__ADS_1


Penjaga meletakkan telunjuk di keningnya sambil mengatakan keduanya tidak waras.


Seorang penjaga lainnya datang menghampiri penjaga yang pertama,membisikkan sesuatu di telinga penjaga pertama.


"Hah!" Penjaga pertama dengan cepat memperbaiki resleting celananya yang terkancing setengah tiang,Adam dan Tambun kembali tertawa lepas.


"Diam! " Penjaga kedua berkata dengan keras.


"Jika kalian berdua tidak bisa diam,kalian akan di hukum mengepel seluruh bangunan ini !" Penjaga kedua memberi peringatan lagi.


Penjaga pertama datang kembali


"Saudara Adam,ada yang ingin bertemu dengan anda"


Penjaga kedua membuka gembok,Adam berjalan mengikuti langkah penjaga pertama,


Tiba di ruangan khusus pengunjung tidak terlihat seorangpun di sana.


"Silakan anda duduk di sini,saya akan panggilkan orang yang ingin bertemu saudara"


Adam duduk,


Tap!tap!tap!tap! terdengar derap sepatu berjalan dari arah samping,Adam menoleh,melihat siapa yang datang.


"Rudi," Adam memalingkan wajahnya ingin rasanya dia berbalik ke ruang tahanan lagi,


"Haiii Adam,apakah kamu baik baik saja," Seringai Rudi terkesan mengejek.


"Aku jauh lebih baik berada di sini,punya banyak sahabat dan saudara yang satu profesi ha..ha..ha..." Adam membalas seringai Rudi sangat menyeramkan.


"Hemmmm, sepertinya taring mu sudah mulai muncul bayi angora ku " Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi Rudi.


Adam menjadi murka mendengar Rudi mengatakan dirinya bayi angora.


Rudi ingin membalas tamparan Adam,tangannya tertahan oleh Adam,


"Seekor bayi angora akan tumbuh dewasa dan akan menjadi lebih lincah nantinya" Adam menyeringai.


"Pak,saya mau kembali ke dalam saja," Adam berjalan tanpa menunggu penjaga mengantarnya.


Rudi menyentuh pipinya


"Berani sekali angora itu mencakar ku,belum merasakan kuku dan taring harimau rupanya cih!" Rudi berdecih.


"Aku ingin kalian menghukum angora kecil itu!"Rudi marah


"Baik Tuan," Penjaga pertama patuh.


Rudi pergi dari ruangan pengunjung,berjalan keluar menuju mobilnya.


Sang ajudan membukakan pintu untuknya.


Rudi masuk pintu mobil di tutup kembali oleh ajudan Rudi.


"Her,ke rumah sakit sekarang," Rudi datar.

__ADS_1


"Baik tuan" Herman tahu tuannya sedang marah.


Sang harimau sedang murka,aku tidak boleh bicara,bisa bisa mulutku yang di cakarnya.


__ADS_2