
"Nia, gimana kandungan kamu sayang?" tanya Yumna saat Nia baru datang ke rumah.
"Baik Mah, semuanya sehat." Nia menjawab seraya tersenyum kikuk.
"Syukurlah, kamu pulangnya malam banget, Mamah jadi khawatir. Duduk di sana dulu yuk! atau mau langsung ke kamar?" ucap Yumna.
"Aku mau langsung ke kamar aja deh Mah," jawab Nia seraya melangkahkan kakinya. Namun, saat Nia tersadar akan sesuatu dia membalikkan tubuhnya. "Mah, apa Arka udah pulang?" tanya Nia.
"Sudah, dia ada di kamar," jawab Yumna.
Nia yang mendengar itu langsung melanjutkan langkahnya dengan setengah berlari, dan sesampainya di kamar, Nia melihat Arka tengah duduk di lantai sambil bersandar pada kasur dan dengan mata yang terpejam.
Nia masuk ke kamar kemudian menutup pintu dengan sangat hati-hati. Namun, Arka yang sensitif akan suara sekecil apa pun itu langsung membuka matanya dan melihat ke arah pintu.
Saat dia melihat ternyata yang menutup pintu itu adalah Nia, Arka kembali memejamkan matanya dan tidak peduli dengan apa yang Nia lakukan.
"Ar, kamu udah makan?" tanya Nia, tapi tidak di jawab oleh Arka.
Sebab tidak ada jawaban dari Arka, Nia pun terdiam, dia memilih untuk ganti pakaian tidur dan istirahat.
Sementara Arka tengah larut dalam pikirannya sendiri, dia sedang berpikir ke mana Ayarra pergi, karena udah udah bertanya ke mana pun, tapi tidak ada yang tau ke mana Ayarra pergi.
Arka terlalu larut dalam pikirannya, hingga dia pun tertidur dengan sendirinya.
Nia yang baru saja selesai berganti pakaian dan hendak tidur, sempat melirik Arka saat ada setetes air yang mengalir dari sudut matanya.
'apa dia lagi nangis?' batin Nia, kemudian dia naik ke atas kasur dan membiarkan Arka di lantai.
'apa lagi yang dia tangisin? apa dia udah tau kalau Ayarra, pergi?' Nia kembali membatin seraya merebahkan tubuhnya dan melirik Arka.
"Biarlah Arka tertidur di lantai, yang penting Arka tidur bersamaku malam ini,' gumam Nia pelan dengan senyum mengembang.
Lalu, dia pun memejamkan matanya, karena hari ini sangat melelahkan sekali untuknya dan janin yang tengah dia kandung.
***
Sementara itu di tempat lain.
Fathan mengajak Dokter Metha untuk makan bersama, dan saat mereka sampai di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat Dokter Metha bertugas.
__ADS_1
Begitu masuk ke dalam restoran tersebut Dokter Metha mengedarkan pandangannya mencari kursi yang nyaman untuk berbincang. "Di sana aja gimana?" Dokter Metha menunjuk ke salah satu kursi yang berada di ujung restoran ini.
"Ok." Fathan pun melangkah ke arah kursi tersebut diikuti oleh sahabatnya Dokter Metha.
Lalu, setelah mereka duduk, tidak lama pelayan pun datang, dan memberikan buku menu pada mereka berdua.
Fathan dan Metha pun memesan makanan, kemudian pramusaji itu mencatatnya dan setelah itu dia pun pergi untuk menyiapkan pesanan Fathan dan Metha.
"Aku denger kamu udah nikah ya?" tanya Fathan.
"Iya, dan aku marah sama kamu karena nggak dateng ke pernikahan aku." Metha bersedekap da– da. Pura-pura marah pada Fathan.
"Hey, bukannya aku nggak mau dateng, tapi waktu itu aku nggak tau, aku baru tau belum lama ini," ujar Fathan dan mereka pun terkekeh bersama.
"Terus apa yang mau kamu tanyain?"
"Begini Meth, aku---." Ucapan Fathan terpotong saat pramusaji membawakan pesanan mereka dan meletakkan ke atas meja.
"Terima kasih," ucap Fathan dan Metha bersama-sama pada pramusaji tersebut.
Pramusaji itu pun tersenyum dan mengangguk, kemudian dia pergi.
"Makan aja dulu! takut keburu dingin," ucap Fathan seraya memakan makanannya.
***
"Jadi, gini Meth, aku pingin tanya sesuatu ke kamu, soal seseorang," ujar Fathan setelah mereka selesai makan.
Metha mengambil minumannya yang ada di atas meja, dan meminumnya.
"Tanya apa? soal apa?" tanya Metha.
"Sebentar." Fathan merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.
Lalu, dia mencari foto Nia yang sudah dia simpan di galeri ponselnya itu, kemudian Fathan pun menyodorkan benda pipih persegi itu pada Metha.
Metha memperhatikan foto yang ada di dalam ponsel Fathan itu dengan saksama seraya mengkerutkan kening mencoba mengingat-ingat, siapa wanita yang ada di dalam foto itu.
Sebab, Metha merasa pernah mengenalnya. "Apa dia pacar kamu, atau calon istri kamu?" tanya Metha.
__ADS_1
Fathan menggeleng sambil meletakkan ponselnya ke atas meja. "Bukan, tapi dia anak dari Bos-ku," jawab Fathan.
"Terus apa hubungannya sama kamu?" Metha kembali bertanya karena dia belum mengerti maksud Fathan.
"Jadi gini Meth, perempuan ini baru nikah sama anak Bos-ku satu minggu yang lalu, tapi---."
"Tapi apa sih?" potong Metha bingung.
"Metha, dia tadi pagi periksa kandungan ke kamu kan?" tanya Fathan.
"Tadi pagi?" Metha tampak berpikir, dia mencoba mengingat-ingat pasien yang diperiksa olehnya tadi pagi.
"Ah, iya, aku inget sekarang, dia yang tadi pagi dateng sama Mamahnya kan? terus ada apa? ini kali keduanya dia aku periksa. Kandungannya udah dua bul---."
"Apa? dua bulan?" tanya Fathan dan Metha mengangguk.
"Apa karena ini kamu nanya sama aku? Baru nikah seminggu tapi udah hamil dua bulan? Hahahaha Fathan, bukannya hal kayak gitu udah biasa di jaman sekarang? bukan cuma dia aja kok Fathan," ujar Metha.
"Bukan gitu, tapi--- Metha, gimana cara ngitung kehamilan orang? dan apa mungkin satu kali berhubungan aja bisa langsung hamil?" tanya Fathan dengan raut wajah yang mulai terlihat sangat bingung.
Fathan semakin merasa ada yang janggal, dan sepertinya memang ada yang Nia coba sembunyikan.
"Sebenarnya ada apa sih?" Metha kembali bertanya karena raut wajah Fathan terlihat sangat bingung dan frustrasi.
"Dia itu hamil anakku Metha, tapi dia malah menikah sama orang lain," ucap Fathan.
"Apa?" pekik Metha, dia terkejut dengan pengakuan Fathan.
"Tapi tadi kata kamu dia menikah sama anak dari Bos kamu?" sambung Metha.
"Jadi gini Meth." Fathan pun menjelaskan semuanya. Dari mulai dia bertemu dengan Nia, hingga menghabiskan malam bersama.
Lalu, pernikahan Nia bersama Arka yang terasa janggal itu. Metha mendengarkan penuturan fathan dengan saksama sambil mencernanya.
"Jadi harus dengan cara apa aku membuktikan apa yang janggal ini Meth," tutur Fathan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tes DNA," ucap Metha tiba-tiba membuat Fathan terkejut dan langsung menoleh padanya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1