Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
55


__ADS_3

Dahlia sudah tidak peduli lagi dengan rumah tangganya, gunjingan para tetangga di anggap resep obat yang harus di minum tiga kali dalam sehari.


Seperti biasanya rombongan ibu ibu yang menunggu tukang sayur yang sering mangkal di depan rumah orang tua Dahlia.


"Eh, dengar dengar Dahlia sudah menjanda deh "


"Masa iya sih!? "


"Kalau tidak pisah dari suaminya kenapa juga dia pulang ke rumah orang tuanya,anaknya juga di bawa pindah ?"


Perbincangan beberapa ibu rumah tangga saling bersahutan,telinga Dahlia seakan sudah kebal yang di pikirnya biarkan saja mereka bicara toh dirinya tidak pernah merepotkan mereka.


"Sayuuurrrrr.......! yur sayuuuurrr ! " yang di tunggu emak emak sudah tiba,


Dengan sekejap motor tukang sayur sudah penuh di kelilingi oleh para ibu langganannya.


Dahlia juga ikut memilih beberapa sayuran yang dia perlukan, tanpa di hiraukan pertanyaan dari rombongan wartawan dadakan.


"Mbak Lia mau beli apa mbak..." Sudah menjadi kebiasaan tukang sayur menggoda Dahlia.


"Bayam satu ikat udang setengah kilo,tauge setengah kilo,brokoli,ayam satu kilo,bawang bombay satu kilo,cabe keriting setengah kilo,cabe rawit agak banyak ya dari biasanya "

__ADS_1


Tukang sayur memasukkan semua belanjaan Dahlia ke dalam kantong kresek.


"Tumben mbak Lia beli cabe banyak, apa menunya sambel pedas terus Mbak he he... bercanda ya mbak Lia..." Sambil menyodorkan kantong berisikan semua belanja Dahlia.


"Iya Bang, Lia mau bikin sambel super pedas, nanti mau Lia bagi bagikan dengan ibu ibu yang di sini " Sindir Dahlia setelah membayar Dahlia segera masuk kerumah membiarkan para ibu bergosip lagi tentangnya.


Huh! mesti kuat menghadapi rombongan wartawan tanpa kamera ini


Dahlia menghembuskan napasnya di susunnya belanjaannya di kulkas.


**


Sebelum rencananya di laksanakan Adam pergi untuk menemui Dahlia, dirinya ingin menjelaskan semua rencananya


Setiba di rumah orang tua Dahlia Adam melihat Dahlia sibuk dengan tanaman bunganya.


Hobinya tidak berubah gemar merawat bunga hanya badannya yang berubah drastis jauh lebih kurus. Tekanan batin telah menyusutkan berat badannya.


"Lia....." Sebuah suara yang tidak asing di telinga Dahlia di alihkan pandangannya ke sumber suara.


Aura kebencian terpancar dari wajah Dahlia di sipit kan matanya yang masih menyisakan cerita kesedihannya .

__ADS_1


Di hentikan kegiatan menyiram bunga dan ingin berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


"Lia, tunggu ! Mas ingin bicara,tolong beri aku waktu, setelah ini Mas tidak akan muncul lagi jika pintu maaf mu sudah tertutup, tapi beri aku sedikit waktu saja untuk bicara " Langkah Dahlia terhenti


"Apa lagi yang kamu bicarakan! bicara saja aku tidak punya banyak waktu untuk orang sepertimu !" Adam terhenyak Dahlia menyebutnya dengan sebutan 'Kamu' bukan dengan kata 'Mas lagi'


Separah inikah benci mu terhadapku Lia...


Tidakkah ada kesempatan lagi untukku


Pak yatno yang mendengar suara tinggi Dahlia segera keluar dari rumah untuk melihat apa yang telah terjadi.


Adam hanya menganggukkan kepala hormat dengan mertuanya tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Ada apa Lia.... ada keperluan apa kamu ke sini.... " Deg ! bagaikan mimpi di siang hari Adam mendengar perkataan Mertuanya.


Orang yang dulu selalu penuh wibawa kini seperti seorang mafia yang akan menghabisi musuhnya. Tatapan matanya begitu tajam tidak ada keteduhan sedikitpun.


"Ayah tolong katakan pada orang asing ini supaya pergi dari sini, Lia tidak mau melihatnya lagi " Perih di hati Adam mendengar perkataan dahlia yang mengatakan dirinya orang asing.


"Yah.... beri aku sedikit waktu untuk bicara dengan Lia yah .. aku mohon ...."

__ADS_1


Adam bersimpuh di kaki Pak Yatno.


Kedua tangannya memegang kaki pak Yatno Suaranya juga bergetar.


__ADS_2