Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
pergi dari sini dan menikah?


__ADS_3

"Mamah, janji akan membuat kamu mendapatkan kasih sayang seorang ayah, meskipun dia bukan ayah kamu Nak," gumam Nia.


Nia tau kalau apa yang dia lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan, tapi mau bagaimana lagi, dia terlalu mencintai Arka.


Nia sudah mengagumi Arka sejak lama, tapi hati laki-laki itu sudah terpaut pada Ayarra. Bahkan Arka tidak pernah menoleh atau melirik pada wanita mana pun. Meskipun dulu Ayarra belum menerima cintanya.


Nia juga sempat berpikir kalau dia tidak boleh seperti ini, tapi kembali lagi. Rasa kagum, cinta dan obsesi membuatnya nekad.


Tangan Nia terulur membuka laci kecil yang ada di samping kasurnya, dia mengambil lembaran kertas yang bertuliskan alamat serta nomor telepon orang yang telah merenggut kesuciannya.


Nia sudah beberapa kali membaca nomor dan alamat tersebut, tapi tetap saja dia belum mau menghubungi Fathan. Atau mungkin memang tidak akan pernah menghubunginya.


'maafin aku, Fathan! bukannya aku ingin memisahkan kamu dari anakmu, tapi cobalah mengerti, kalau aku sangat mencintai Arka, aku bahkan melakukannya bersamamu itu demi Arka,' batin Nia seraya membakar kertas tersebut.


Saat Nia tengah membakar kertas itu, Nayla masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Nayla terkejut saat melihat Nia membakar sesuatu.


"Sayang, apa yang kamu bakar?" tanya Nayla sambil mematikan api tersebut.


Padahal kertas itu belum terbakar sempurna, Nayla mengambil kertas itu dan hendak membacanya. Namun, Nia langsung merampas kertas tersebut.


"Mamah, ngapain sih ke sini?" kata Nia, wajahnya terlihat tegang.


"Mamah, cuma pingin ngasih tau kamu kalau kamu harus turun ke bawah, karena harus mencoba gaun pengantin," jawab Nayla seraya melirik kertas yang dipegang oleh Nia.


"Oh, yaudah bentar lagi aku turun Mah, Mamah duluan aja," ucap Nia.


Dia menaruh kembali kertas yang tadi dia bakar ke dalam laci. Nayla yang masih penasaran dengan kertas itu terus saja memperhatikan Nia.


"Sayang, kertas apa itu?" tanya Nayla penasaran.


"Bukan apa-apa Mah, cuma kertas yang udah nggak kepake dan mau aku bakar," jawab Nia sambil memasang senyum.


"Yaudah ayok Mah kita turun!" Nia menarik lengan Nayla dan membawanya keluar dari kamar.


Saat Nia dan Nayla menuruni anak tangga, beberapa orang yang mengenal Arka terdengar bisik-bisik.


Entah apa yang mereka bisikan, mungkin karena yang mereka tau Arka adalah kekasih sahabatnya. Jadi, mereka berpikir kalau Nia merebut kekasih sahabatnya, tapi bukankah itu benar?


"Itu dia calon pengantinnya," ucap Adit penuh bangga.

__ADS_1


Nayla dan Nia tersenyum kemudian berjalan menghampiri Adit yang sedang duduk bersama pemilik butik yang dia panggil.


"Wah, anaknya cantik juga ya Pak, pantas saja masih kecil udah mau menikah," ujar asisten pemilik butik yang hendak membantu Nayla memilih gaun pengantin.


Adit sengaja memanggil mereka ke sini, dari pada harus ke butik, karena kondisi Nia tidak memungkinkan. Nia kan sedang hamil jadi, tidak mungkin kalau Adit membuatnya kelelahan.


"Sini Mbak, kita pilihkan gaun pengantin yang sesuai dengan Mbak-nya. Biar semakin terlihat cantik dan pangling." Pemilik butik yang Adit undang menarik pelan lengan Nia dan menunjukan beberapa gaun terbaik yang dia bawa.


"Mbak, mau yang seperti apa nanti dipernikahan?" tanya sang pemilik butik tersebut.


"Aku mau yang seperti Cinderella, pokoknya aku pingin terlihat cantik di depan suamiku, kebayanya juga aku mau yang terlihat menarik dan wah," jawab Nia. Dia terlihat sangat bahagia dan tidak sabar saat mengatakan itu semua.


***


Sementara itu di tempat lain, Bayu dan Angel tengah membantu merapikan pakaian Ayarra, karena hari ini Ayarra sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter.


"Sayang, tadi Papah, sudah bilang sama kepala sekolah kamu, dan dia mengijinkan kamu untuk ikut ujian via online saja," tutur Bayu membuat Ayarra tersenyum lega.


"Apa kamu beneran mau pergi sayang? kenapa kamu nggak tinggal aja di sini, tapi jangan pernah ketemu sama Arka," ucap Angel dengan mata berkaca-kaca membayangkan anaknya yang dua hari lagi hendak pergi itu.


"Aku tinggal di sana juga untuk menjaga Opah, Mah, bukan cuma untuk menghindar dari Arka," jawab Ayarra santai dengan senyum simpul yang dia tunjukan.


Sebenarnya hatinya masih terasa perih, tapi dia mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihannya itu pada kedua orang tuanya.


"Sayang, tiketnya udah Papah, pesan. Apa benar kamu akan pergi besok lusa? Kamu kan baru keluar dari rumah sakit hari ini, apa nggak kecepatan sayang?" kata Bayu. Dia sebenarnya ingin sekali menahan Ayarra untuk tetap tinggal.


Akan tetapi dia menyadari jika itu semua tidak akan mungkin mudah untuk Ayarra, bagaimana bisa tahan melihat atau mendengar orang yang dia cintai bersanding dengan wanita lain.


Bahkan wanita itu adalah sahabatnya sendiri, siapa pun pasti akan memilih untuk pergi.


"Tapi Papah sama Mamah, harus janji untuk jangan membenci om David, tante Yumna, tante Nayla, om adit, atau bahkan Arka dan Nia sekalipun, karena sebenarnya ini bukan salah mereka. Tapi ini takdir aku," pesan Ayarra pada Bayu.


Angel dan Bayu pun mengangguk. "Mamah, nggak akan benci mereka sayang, karena mereka nggak bersalah," ucap Angel.


"Makasih Mah---."


Braaakkkk


"Ayarra," panggil Arka memotong ucapan Ayarra.

__ADS_1


Ayarra, Bayu dan Angel terkejut dengan kedatangan Arka. Dibelakang Arka terlihat Neil dan Yuda yang tengah mengatur napasnya. Mungkin karena mereka bertiga berlari.


Bayu berjalan menghampiri Arka dan menatapnya penuh amarah, kalau saja dia bukan Arka mungkin sudah Bayu hajar dia tanpa ampun.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bayu dengan ketus.


"Aku mau ketemu sama Ayarra Uncle," jawab Arka sambil menoleh kebelakang Bayu.


"Buat apa kamu ketemu sama Ayarra? apa kamu lupa kalau kamu sama anakku udah nggak punya hubungan lagi? dan itu semua karena kamu yang nggak setia," sindir Bayu.


Arka yang mendengar itu hanya bisa tertunduk.


"Pergi!" usir Bayu.


"Tapi aku pingin ngomong dulu sama Ayarra Uncle," tolak Arka membuat Bayu geram.


"Buat apa? bukannya kamu---."


"Mas, biarin dia ngomong dulu. Mungkin aja penting," kata Angel memotong ucapan Bayu.


"Terima kasih Tante, tapi aku pingin ngomong berdua saja sama Ayarra boleh kan?" ucap Arka.


Angel menoleh pada Ayarra, dan Ayarra pun mengangguk lemah. Melihat Ayarra mengangguk Arka tersenyum.


Melihat anggukan dari Ayarra, Bayu dan Angel beserta Neil dan Yuda pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ada apa lagi Ka?" tanya Ayarra tanpa menoleh pada Arka. Dia berpura-pura sibuk dengan barang-barangnya.


Arka berjalan menghampiri Ayarra dan menarik Ayarra agar menatapnya.


"Ay, aku cinta kamu, aku nggak bisa menikahi Nia, dan aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama kan? Jadi, bagaimana kalau kita pergi dari sini, dan menikah di tempat lain," tutur Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dia pun menggenggam erat tangan Ayarra.


BERSAMBUNG...


Hai 👋 semoga suka ya sama ceritanya, jangan lupa kalau kalian sudah selesai membaca, tolong ya tinggalkan like and komennya 🙏


Kalau ada typo atau apalah itu yang mengganggu, harap di maklum ya 🙏 jempolku emang suka nakal 😂😂


Kalau ada yang mau ngasih bunga atau love monggo dengan senang hati aku akan menerimanya 😂

__ADS_1


Bantulah author Somplak sedikit ini untuk menjadi lebih baik. Terima kasih 😘


~*Salam sayang Author Somplak Dikit*~


__ADS_2