
"Stop! Apa kalian tidak malu mengatakan masalalu kalian ini hah? urusi masalah kalian, aku mau pergi," teriak Yumna kemudian dia hendak beranjak dari sana tapi Indra menahannya.
"Sayang, kamu harus tetap disini sampai nggak ada lagi kesalah pahaman," ujar Indra.
"Tapi aku sakit dengernya, Pah," lirih Yumna sambil menitikkan sedikit air mata.
David menatap Yumna dengan tatapan sendu, dia berharap Yumna bisa melihat kejujuran yang ada di matanya itu. Namun, setiap David menatapnya Yumna malah memalingkan wajah.
"Nggak sayang, Papah, bilang duduk ya duduk!" Indra tetap menyuruh Yumna untuk duduk.
Indra begitu bukan karena dia tega pada sang anak, tapi dia merasa semua ini harus diselesaikan sekarang juga. Jujur saja Indra merasa tidak percaya dengan yang dituduhkan oleh Nayla.
Bukan karena David menantunya, tapi karena dia tau sifat Brian dan David. Dua kakak beradik ini adalah orang-orang yang bisa dikatakan orang yang jujur.
Indra tau betul itu, walaupun sifat Brian pecicilan tapi dia bukan cowok yang gampangan. Sedangkan David. Sedari dulu dia adalah orang yang dingin tak tersentuh.
"Sudahlah Nay, ayok kita pulang, kamu sudah cukup menyakiti hati Mbakmu. Ayok pulang!" Rani menarik tangan Nayla mengajaknya untuk kembali ke Jogjakarta.
__ADS_1
Rani sama sekali tidak menyangka semua ini akan terjadi, dia merasa sangat bersalah pada Yumna dan Indra.
"Tunggu Mah, aku mau dengar penjelasan dari ayahnya Nada, dulu." Nayla menepis tangan Rani.
Lalu, menarik kerah baju David. "Kamu adalah laki-laki breng*sek yang pernah aku kenal, pengecut. Aku siap menjadi yang kedua asal---"
"Apa maksud kamu? jadi yang kedua? maaf sepertinya tidak akan ada yang kedua, karena saat Mas David, menikahimu aku yang akan mundur," potong Yumna, dan hal itu membuat David terkejut.
"Sayang, jangan ngomong gitu! itu nggak baik, percaya sama aku, bukan aku yang lakuin itu." David mencoba menjelaskan kembali pada Yumna, kalau apa yang dia ucapkan adalah kejujuran.
"Yumna, nggak boleh ngomong gitu sayang, jaga emosi kamu. Jangan karena emosi sesaat membuat kamu menyesal kembali." Indra memperingati Yumna.
"Betul juga, karena posisinya mereka berdua ada di apartemen adit," ujar Brian.
"Tolong, Dit, jelaskan semuanya! biar tidak ada lagi kesalah pahaman diantara mereka," pinta Indra.
"Sebenarnya saat aku kembali setelah mencari makan, aku melihat David dan Nayla sedang bercumbu tapi---"
__ADS_1
"Tuh kan kalian denger kan? sekarang kalian masih mau ngelak? masih mau bela David." Nayla memotong ucapan Adit dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Kamu bisa diem dulu nggak?! kamu denger kan kalau ada kata tapi," geram Brian.
Dia muak semua drama yang Nayla lakukan malam ini, bukan karena dia masih menyimpan perasaan. Namun, karena dia tidak tega pada Yumna, Kaka iparnya itu sedari tadi terlihat sangat sedih.
Sedangkan David, dari dulu sudah bersumpah kalau dia tidak melakukannya. Walaupun orang itu mabuk sekalipun pasti akan ada satu kejadian yang dia ingat.
Apa lagi melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya, tentu itu akan terasa berbeda esok paginya.
"Kenapa? apa karena dia kakakmu kan?" tanya Nayla.
"Bukan gitu tapi---"
"Tapi David memang tidak melakukannya." Adit memotong ucapan Brian membuat semua orang serempak menatapnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Nayla.
__ADS_1
BERSAMBUNG..