Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Ikut ke Jerman yuk!


__ADS_3

Di kantor Adit sedang merapikan berkas-berkas yang habis dipakai untuk rapat, sedangkan Brian tengah memainkan ponselnya. Sesekali Adit menoleh pada Brian ingin bertanya sesuatu tapi dia ragu, tapi karena penasaran dia pun memberanikan diri untuk bertanya soal perasaan Brian pada Nayla.


"Yan, lu udah move on dari Nayla kan?" tanya Adit tiba-tiba membuat Brian langsung menoleh padanya.


"Kenapa memangnya?" bukannya menjawab Brian malah kembali bertanya pada Adit sambil memicingkan mata.


"Nggak apa-apa, cuma nanya doang," jawab Adit sambil tersenyum dipaksakan.


Brian hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu kembali fokus pada ponsel. "Gua bahkan udah lupa," jawab Brian tanpa mengalihkan pandangan matanya.


Mendengar itu Adit tersenyum penuh arti, dia ingin mencoba untuk mendekati Nayla. Di terima atau tidak itu urusan nanti, yang paling penting saat ini perasaan yang ada dalam hatinya.


Perasaan yang sudah lama ia pendam, tapi kali ini perasaan itu semakin tidak tau malu jika berhadapan dengan Nayla. Adit, tersenyum ketika mengingat wajah cantik Nayla ketika dibawah Kungkungannya.


Brian yang sedari tadi memperhatikan Adit diam-diam hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah apa yang sedang Adit pikirkan sampai-sampai senyum-senyum sendiri seperti itu.


"Bener-bener udah nggak waras," gumam Brian tapi masih terdengar oleh Adit.


"Apa lu bilang?" ketus Adit sambil melotot pada Brian.


Brian hanya cengengesan seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuk membentuk v. Adit memutar bola mata malas melihat itu Brian seperti itu.


"Ayoklah pulang! gua juga mau ke rumah David," ajak Adit sambil memakai jas-nya yang tadi dia gantung di sandaran kursinya.


"Lu mau ngapain ke rumah, Mas David?" tanya Brian bingung.


"Gua mau nganterin laporan hari ini, gua nggak mau salah," jawab Adit dengan gugup.


Brian memicingkan matanya menatap Adit, mencari tau lewat tatapan mata sahabatnya itu.


"Woy, biasa aja kali liatinnya," sungut Adit sambil memukul kening Brian menggunakan selembar kertas laporan tadi.


"Lagian tumben banget, biasanya juga lewat ponsel." Brian menjawab sambil beranjak dari kursi dan merapikan pakaiannya.

__ADS_1


"Lu nggak lagi ngincer Kaka ipar gua kan?" sambung Brian.


"Gila, yang bener aja lu nuduh gua begitu," jawab Adit.


"Ya, siapa tau ajakan, soalnya Kaka ipar gua itu kan cantik." Setelah mengatakan itu Brian berjalan keluar ruangan diikuti oleh Adit.


"Gua bukan pebinor ya," ketus Adit, Brian hanya angkat bahu acuh.


'gua bukan ngincer Kaka ipar lu, tapi gua ngincer mantan calon Kaka ipar lu,' batin Adit sambil tersenyum.


Sesampainya di parkiran Adit langsung masuk ke dalam mobilnya diikuti boleh Brian. Adit mengkerutkan kening ketika melihat Brian masuk ke dalam mobilnya.


"Lu ngapain?" tanya Adit.


"Ya gua mau ikut, lu mau kerumah, Mas David kan? yaudah ayok!" jawab Brian santai sambil memakai sabuk penga*man-nya.


Adit hanya bisa mendengus sedangkan Brian terkekeh ketika melihat Adit kesal seperti itu.


______________________________________


"Lu beneran mau pergi ke Jerman?" tanya Angel pada Bayu yang sedang merapikan pakaiannya.


"Ya," jawab Bayu singkat dan tanpa menoleh.


"Lu nyerah? sudah sejauh ini dan lu nyerah?" tanya Angel membuat Bayu menghentikan aktivitasnya.


Dia menoleh menatap Angel, dia memejamkan mata sesaat kemudian menghela napas lalu membuangnya kasar.


"Kenapa lu kesini lagi? bukannya lu yang bilang kalau nggak akan kesini lagi, setelah tau kalau gualah yang sudah mencelakakan David," ujar Bayu.


Angel tersenyum getir sambil menggenggam tangan Bayu.


"Ya, gua memang marah sama, tapi gua mencoba melihat dari sisi lu." Angel menjawab dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Gua cuma pingin bersama dengan orang-orang yang gua cinta sebelum, ajal menjemput," sambung Angel.


Bayu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, dia menarik dagu Angel dan memperhatikan wajah cantik Angel dengan saksama.


Tidak ada kebohongan yang terlihat dari mata dan wajah itu, yang terlihat hanyalah kesedihan dan luka mendalam di mata itu.


Angel langsung menangis tersedu-sedu. "Gua sakit Bay, gua mau mati penyakit sialan ini bakal merenggut semuanya," tutur Angel.


"Gua cuma pingin bahagia disisah hidup gua Bay, apa itu salah?" Angel memeluk Bayu dan menangis sejadi-jadinya di pelukan itu.


"Ngel, jangan berbohong cuma karena cinta, itu nggak baik dan itu bisa jadi doa buat lu." Bayu menasehati Angel seraya mengelus punggung kecil itu.


Bayu hanya takut jika ini semua hanyalah rencana Angel semata, walaupun dia tidak tau banyak tentang Angel.


Jika boleh jujur, Bayu-pun masih belum ikhlas melepaskan Yumna, tapi dia akan mencobanya demi kebaikan semua orang terutama Yumna.


"Aku nggak bohong Bay, aku serius tapi aku nggak mau ada yang tau," jawab Angel.


"Tapi nggak harus merebut kebahagiaan orang lain," timpal Bayu.


"Bay, ayok kita berjuang sekali lagi, jika kali ini gagal aku janji aku akan melepaskan David." Angel memelas pada Bayu.


Bayu melepaskan pelukannya dan kembali mengemasi barang-barangnya. Angel hanya diam memperhatikan Bayu dengan tatapan lirihnya.


Apakah dia benar-benar harus mengikhlaskan David, tapi bagaimana mungkin karena hari-harinya selalu dipenuhi oleh David.


Bayang-bayang kebersamaan mereka semasa sekolah dulu selalu melintas dalam benak Angel.


"Lu ikut gua ke Jerman aja yuk!" tawar Bayu membuat Angel terkejut.


"Maksud lu?" tanya Angel.


"Ya dari pada di sini sendirian, mending ikut ke Jerman. Gua janji di sana akan selalu bersikap baik sama lu, layaknya seorang Kaka pada adiknya," jawab Bayu.

__ADS_1


Angel terdiam memikirkan tawaran Bayu.


BERSAMBUNG


__ADS_2