Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
41


__ADS_3

Siska yang saat itu sedang bekerja menjadi pusat perhatian karyawan di restoran tempat siska bekerja.


Bisik bisik pun terjadi di sana siska yang mulai menyadari dirinya di perhatikan angkat bicara.


"Kalian liatin apa? apa yang kalian bisik bisikan dari tadi ?"


Mereka pun saling beradu pandang


"koq diam..? "


Siska bertanya lagi dengan teman sekerjanya


"gak ada mbak siska.... kami cuma bilang mbak siska tampak gendut saja, seperti orang sedang ham...auw! "


Salah seorang rekan kerja siska tercekat bicaranya lantaran lengannya di cubit keras oleh teman yang di sampingnya.


"mbak siska sudah fit benar ya sekarang,soalnya mbak siska sudah gak kurusan lagi kaya bulan kemarin "


Salah seorang lagi langsung mengalihkan pembicaraan yang di lontarkan teman pertamanya.


Siska yang mengerti maksud dari kedua orang tersebut wajahnya menjadi memerah,tidak bisa di pungkiri badan siska memang sudah menampakkan perubahan yang sangat menonjol.


Perutnya yang dulu rata kini mulai terlihat sedikit membesar ukuran baju di bagian dada juga tampak menyempit,siska sendiri merasa tidak nyaman dengan keadaannya sekarang.

__ADS_1


"mau saya kurus atau pun gendut itu bukan urusan kalian kan ?..."


Siska menahan emosinya supaya tidak ada yang curiga jika dirinya sedang hamil,siska juga tahu jika suatu saat dirinya tidak bisa menyembunyikan perutnya yang semakin hari semakin membesar.


"maaf mbak siska kami tidak bermaksud membuat mbak tersinggung... permisi mbak siska,saya mau lanjut kerja lagi ..."


"iya mbak siska... saya juga permisi.."


Kedua orang tersebut berlalu dari hadapan siska,napas panjang pun keluar dari mulut siska.


("aku harus cepat bertindak sebelum semua orang mengetahui kehamilanku ")


Siska memikirkan bagaimana cara supaya ada yang menutupi aibnya,


("aku harus bertemu Adam")


Sudah dua hari bu nani pulang dari rumah sakit selama itu juga bu nani masih berada di rumah Adam,tidak ada pembicaraan antara ibu dan anak selama Adam tidak bekerja dan sengaja merawat ibunya.


Bu nani akan bicara dengan cucunya dan juga Dahlia saja,apalagi maya,bagas,pak yatno dan juga bu lina sudah duluan pulang ke kampung.


Dahlia juga tidak pergi ke butik beberapa hari ini hanya karyawan kepercayaannya yang mengurus selama Dahlia tidak bersemangat untuk mengurus bisnisnya.


Dahlia berencana ingin menjual butiknya saja dan dirinya akan pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Lia... besok ibu mau pulang ke kampung saja menyusul maya dan bagas"


bu nani bicara dengan Dahlia yang sedang memberikan obat untuk mertuanya itu.


Secara kebetulan sekali kesempatan ini bisa Dahlia gunakan untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Alasan yang tepat untuk menenangkan hatinya yang sudah tergores luka yang paling dalam.


"iya bu... besok sama sama lia saja kebetulan juga Al libur selama seminggu..."


"tidak perlu mengantar ibu lia,ibu bisa pulang sendiri ibu sudah sehat ibu juga sudah kuat naik bis umum "


"kalau bis banyak penumpang dan berdempetan nanti ibu sulit bernapas bu,belum lagi ibu harus menginap di hotel untuk perjalanan selanjutnya"


Dahlia sengaja menakuti mertuanya dengan begitu tidak ada yang membuat mertuanya berpikir jika Dahlia sengaja untuk menjauhi Adam.


"Aku juga akan ikut mengantar ibu pulang "


Dahlia terkejut melihat Adam sudah berdiri di dekat pintu kamar yang di tempat bu nani.


"selesaikan dulu masalah yang sekarang kamu ciptakan Dam,"


Bu nani bicara dengan nada bergetar.

__ADS_1


Adam hendak bicara lagi dengan ibunya tiba tiba handphonenya berbunyi belum sempat Adam mengambil benda pipih yang tertinggal di atas meja,tiba tiba Al datang membawa benda yang sedang berdering


"papa... ada yang telepon papa,photo profilnya wanita pa "


__ADS_2