
Sebelum sampai ke rumah Brian, Arka yang sedang merasa sedih dan tidak tau harus apa itu mampir sebentar di sebuah taman yang berada tak jauh dari rumah Brian, dengan gontai Arka turun dari motor dan berjalan ke salah satu kursi yang ada di sana.
Dia duduk di kursi tersebut sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sambil menatap langit yang sepi tanpa bintang-bintang. Seperti hatinya saat ini yang terasa sangat sepi tanpa Ayarra.
Entah apa yang akan dia lakukan ke depannya dengan kondisi seperti ini, apakah dia harus bertahan dengan pernikahan ini, atau justru mengakhirinya setelah Nia melahirkan, kemudian dia menikah dengan Ayarra dan hidup bahagia bersamanya.
"Dasar gua be*go, kenapa juga gua harus mabok dan melakukannya bersama wanita lain, sekarang aku harus apa Tuhan." Arka berteriak sampai-sampai orang-orang yang sedang berlaku lalang di sana langsung menoleh padanya.
Meskipun ini sudah larut, tapi taman itu masih sangat ramai, karena banyak anak muda yang nongkrong dan banyak penjual makanan di sana.
Melihat orang-orang menatap aneh padanya, Arka pun merasa tidak enak, dia bangkit dari duduknya dan kembali ke motornya.
Dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Brian, dan dengan menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi tak butuh waktu lama dia pun sudah sampai di rumah Brian.
Kedatangan Arka disambut hangat oleh security yang sedang berjaga di rumah itu, Arka tersenyum pada security yang berjaga dan melenggang masuk ke dalam.
"Assalamualaikum." Arka mengetuk-ngetuk pintu kediaman Brian.
Yuda yang sedang bermain game bersama Neil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Siapa yang datang malam-malam begini?" tanya Neill pada Yuda.
Yuda hanya angkat bahu acuh dan bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu, dan saat pintu terbuka Yuda terlihat terkejut melihat Arka berdiri di ambang pintu.
Arka tersenyum pada Yuda kemudian melenggang masuk ke dalam, sedangkan Yuda masih terlihat bingung.
Pasalnya malam ini adalah malam pertama untuk Arka dan Nia, tapi kenapa Arka malah ada di rumahnya.
__ADS_1
"Wih, kalian lagi maen game apa? Sini aku ikutan." Arka mengambil alih stik game yang sedang tergeletak di samping Neil.
Stik game itu milik Yuda. "Kamu kenapa bisa ada di sini? bukannya ini malam pertama kamu sama Nia?" tanya Neil tidak percaya.
Akan tetapi Arka tidak menjawab, dia malah fokus bermain game.
Neil melirik pada Yuda yang baru saja kembali. "Dia kenapa ada di sini? ini kan malam pertama mereka." Neil bertanya dengan berbisik pada Yuda.
"Kan mereka udah malam pertamaan dulu," jawab Yuda iseng.
"Aku denger," ucap Arka membuat Yuda dan Neil langsung terdiam.
"Terus kenapa nggak jawab pertanyaan aku tadi," timpal Neil.
"Aku malas tidur di rumah, lagi pula bukannya aku udah biasa tidur di sini." Aeka menjawab dengan mata yang masih fokus pada layar komputer yang ada di depannya.
Neil mengangguk kemudian dia bermain game bersama Arka, sedangkan Yuda hanya menjadi penonton aja.
***
Di kamar Nia yang terbangun karena merasa haus, terlihat kebingungan saat Arka belum juga kembali. Dia mengambil botol kosong, dan berjalan keluar untuk mengambil minum sambil mencari Arka.
Saat menuruni anak tangga Nia mendengar suara orang ngobrol di luar rumah. "Apa itu Arka?" gumam Nia dan dengan sangat hati-hati Nia pun melangkahkan kakinya ke luar untuk mencari siapa yang sedang mengobrol tengah malam begini.
"Nia? kamu mau ke mana?" tanya Alexa saat Nia membuka pintu.
__ADS_1
"Eh kalian, aku pikir tadi Arka," kata Nia.
"Bang Arka tadi ke luar." Alexa memberitahu Nia jika Arka tadi ke luar.
"Ke mana? ini kan udah malam," tanya Nia.
"Nggak tau, dia bilang cuma mau ke luar," jawab Alexa.
Nia mengangguk pelan sambil tersenyum dipaksakan. "Yaudah kalau gitu aku masuk dulu, tadinya aku mau ngambil minum," pamit Nia kemudian dia kembali masuk ke dalam.
"Kasian ya." Dimas bergumam yang diiyakan oleh Alexa.
"Udah menjelang pagi, pulang yuk!" ajak Gilang pada Dimas.
Dimas menyetujui ajakan Gilang, dia pun bangkit dari duduknya. "Aku pulang dulu ya sayang, besok kamu udah sekolah belum?" pamit Dimas.
"Iya hati-hati ya sayang, besok kayaknya aku belum masuk sekolah deh, masih capek banget badan aku," jawab Alexa.
Dimas senyum pada Alexa sambil mencubit pipi kekasihnya itu. Gilang yang melihat kebucinan dua insan itu memutuskan untuk jalan lebih dulu. "Kakak duluan, kakak tunggu di depan," ucap Gilang.
Setelah Gilang pergi, Dimas menarik tengkuk Alexa pelan kemudian mencium bibir gadis itu, Alexa pun membalas ciu–man tersebut.
Saat dirasa mereka membutuhkan oksigen Dimas pun melepaskan ciu– mannya, dan tersenyum pada Alexa. "I love you sayang."
"Love you too," jawab Alexa, kemudian Dimas pun pergi dari sana, dan Alexa kembali ke kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...