Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 124


__ADS_3

Di kediaman keluarga Broto Admaja.


Diana menunggu kepulangan Brian dengan gelisah, ini sudah larut tapi Brian belum juga pulang. Tadi Diana sudah menelpon rumah kediaman keluarga Wijaya tapi Brian tidak ada di sana.


Hal itulah yang membuat Diana kini gelisah, dia takut terjadi sesuatu pada suaminya itu.


Broto yang melihat putri satu-satunya itu sedang berjalan mondar-mandir hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Di, bisa nggak kamu duduk! apa nggak capek jalan mondar-mandir gitu?" ujar Broto membuat Diana menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Broto.


"Ini udah waktunya Brian, pulang, Pah, tapi dia masih belum pulang. Di telpon nggak diangkat-angkat, aku khawatir banget," gumam Diana sambil menekan nomor Brian


"Tuh kan nggak diangkat," sambung Diana dengan bibir yang dimanyunkan.


"Kamu udah coba nelpon, David, belum? coba telpon dia dulu! barangkali Brian ada di sana." Broto memberi usul untuk Diana menelpon David. Diana mengangguk lalu menekan nomor David.


"Hallo, Mas," sapa Diana pada David di sebrang sana.

__ADS_1


📞"Ya kenapa, Di?" tanya David dari sebrang sana.


"Mas, apa hari ini ada rapat? ini udah larut banget tapi Brian, belum pulang juga. Aku khawatir banget sama dia." Diana bertanya dengan perasaan khawatir.


📞"Oh, Brian ada di sini, dia ngantuk kecapean kayanya. Jadi, lagi istirahat di kamar. Mau, Mas panggilkan?" terang David.


"Eemm ... Enggak usah deh, Mas, kasian. Aku cuma mau tau dia ada dimana aja kok. Kalau emang dia ada di sana yaudah nggak apa-apa, tapi dia nggak kenapa-kenapa kan, Mas?" tanya Diana.


📞"Enggak. Dia cuma pingin istirahat sebentar, sambil nunggu Adit."


"Oh, yaudah kalau gitu terima kasih ya, Mas." Setelah mengatakan itu Diana mematikan sambungan telponnya.


"Ada di rumah, Mas David, Pah," jawab Diana. Namun, di raut wajahnya masij terlihat sangat khawatir.


"Terus kenapa kamu masih khawatir?" tanya Broto, tapi Diana hanya menjawab dengan senyum kecil dan menggeleng.


Namun, jauh dalam hati Diana, dia merasa takut, karena di rumah David ada Nayla. Walaupun hubungan mereka sudah kandas, tapi bukan tidak mungkin kan Cinta lama akan bersemi kembali.

__ADS_1


Diana, terdiam dan mendadak pikiran-pikiran seperti itu melintas dalam benaknya. Membuat hatinya merasa gelisah, terlebih lagi nomor Brian tidak dapat dihubungi.


Diana kembali menghubungi Brian tapi nomor itu masih saja tidak mengangkatnya. Diana mengembuskan napasnya kasar, lalu membuangnya pelan.


Dia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju kamar, meninggalkan Broto yang menatapnya bingung.


Diana menaiki anak tangga dengan gontai, memikirkan Brian dan Nayla ada di rumah yang sama membuat sekujur tubuh Diana lemas. Dia sangat takut jika Brian dan Nayla mengenang masa-masa mereka.


Sesampainya di kamar Diana langsung menutup kembali pintunya, kemudian buliran air mata jatuh begitu saja.


Diana benar-benar merasa takut, dia juga tidak siap kalau harus kehilangan Brian, karena Brian adalah cinta pertamanya.


"Kamu kenapa bisa ada di sana sih, sayang, kenapa juga kamu nggak kabari aku?" gumam Diana.


Dia menghapus air matanya kasar, sambil mencoba menghubungi Brian kembali.


'Masih nggak diangkat, kamu kemana sih sayang,' batin Diana lirih.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Hay ka jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏


__ADS_2