Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Semua sudah berakhir


__ADS_3

"Ini tanggal dan bulannya jauh, sebelum pesta malam itu," gumam Alexa saat membaca tanggal di kertas pemeriksaan itu.


Sontak itu membuat Arka terkejut, Arka langsung merampas kertas tersebut dan membacanya.


Arka membaca semua huruf yang tertulis di sana, dan tangannya terkepal kuat menahan kesal saat melihat jika tanggal yang tertera di sana jauh sebelum pesta itu terjadi, yang artinya Nia sudah hamil sebelum malam itu.


Malam yang Arka kira sudah dia gunakan untuk menghianati Ayarra, dan perlahan membuat hidupnya hancur.


"Arka, please jangan percaya semua itu. Semua itu bohong, dia cuma pingin menghancurkan pernikahan kita. Anak ini beneran anak kamu Ar, jangan dengerin itu," kata Nia saat melihat rahang Arka mengeras menahan amarah.


"Diam kamu!" bentak Arka.


"Dan ini, rekaman cctv saat malam pesta itu, di video itu terlihat Mbak Nia meminta pada salah satu ob untuk menaruh obat tidur pada Bapak Arka," ucap Andrian dan menyodorkan sebuah flashdisk.


"Siang semuanya," sapa Yuda dan Brian yang baru saja datang.


"Ada apa ini rame-rame," gumam Yuda sambil memperhatikan semuanya yang tengah memegang beberapa kertas dan Nia yang sedang menangis dengan tangan yang dipegang kuat oleh Fathan.


"Mas, ada apa ini?" tanya Brian pada David yang terlihat seperti orang linglung sambil memegang salah satu bukti yang diberikan oleh Andrian, karena mereka membaca dan melihat bukti itu secara bergantian.


"Dek, ambil laptop di kamar," titah Arka pada Alexa.


Alexa mengangguk dan segera berlari menuju kamar, tak berselang lama Alex pun kembali dengan laptop di tangannya.


Arka mengambil laptop tersebut dan memasang flashdisk tersebut, kemudian memutarnya, dan semua orang pun Arka bergerak maju untuk melihat video yang mulai berputar di dalam laptop itu.


Suara pun mulai berputar memenuhi ruangan yang seketika menjadi hening karena semua orang tengah mendengarkan dengan saksama.




"Tapi saya takut Mbak." Terdengar dan terlihat jelas kalau laki-laki OB itu sempat menolak.



"Nggak apa-apa Mas, ini hanya obat tidur, kamu tinggal berikan ini ke laki-laki yang tadi," jawab Nia.



"Tapi saya bener-bener takut Mbak," kata laki-laki itu, dia terlihat ragu menerima obat yang diberikan oleh Nia. Namun, Nia terlihat memaksanya hingga mau tidak mau laki-laki itu pun menerimanya.



"Setelah dia mengantuk, tolong kamu pesankan saya kamar nomor 120 ya," kata Nia di video itu.



"Untuk apa Mbak? Saya nggak berani," tolak laki-laki itu.



"Ini saya lebihin Mas, tenang aja. Lagi pula dia ini calon suami saya kok." Di video itu terlihat Nia memberikan beberapa lembar uang merah.



"Tapi bukannya Arka dan Nia ada di kamar nomor 23?" celetuk Yuda.



"Iya, Mbak Nia memang memesan kamar 23, tapi mereka nggak tidur di kamar itu, yang tidur di sana orang lain yang kebetulan berpenampilan mirip dengan Mbak Nia dan Bapak Arka. Sedangkan Mbak Nia dan Bapak Arka tidur di kamar yang di pesan sama Parjo," timpal Andrian menjelaskan.



"Parjo? siapa Parjo?" tanya Arka.



"Parjo orang yang ada di dalam video itu, bahkan orang itu yang menjadi saksi kalau nggak ada yang terjadi apa pun di antara Mbak Nia dan Bapak Arka, karena malam itu Mbak Nia pergi untuk makan bersama temannya yang lain," jawab Andrian.



"Nggak ... Arka, please jangan percaya sama mereka, laki-laki ini udah nggak waras sampai-sampai dia berbohong soal anak kita, jangan percaya Arka," teriak Nia, dia pun mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Fathan, tapi tidak bisa, karena laki-laki itu mencekal tangannya kuat-kuat.



"Saya hanya ingin sesuatu berjalan sesuai dengan kejujuran dan yang seharusnya," ucap Fathan.



"Dan ini, ini diary punya Mbak Nia, di sana tertulis kalau dia sangat mencintai Bapak Arka, bisa jadi itu yang menjadi alasan beliau melakukan ini." Andrian kembali menyodorkan sebuah buku diary pada Arka.



Arka menerimanya dan membaca huruf demi huruf yang tertera di sana, memang benar buku itu menceritakan semua tentang dirinya. Hal itu tentu saja membuat Arka marah, dia membanting buku tersebut dan menatap tajam ke arah Nia.



"Nggak Arka, kamu jangan percaya," lirih Nia.



"Diam! apa kamu bilang? jangan percaya? Setelah semua bukti kamu masih bilang jangan percaya? cewek macam apa kamu ini Nia, aku benar-benar nggak habis pikir sama jalan pikir kamu," bentak Arka.



Adit dan Nayla hanya bisa tertunduk lesu setelah membaca dan melihat semua yang terjadi, wajah mereka pun terlihat sangat kecewa pada putri mereka satu-satunya.



"Terus siapa yang aku dan Neil liat di rekaman itu?" gumam Yuda, dia masih bingung dengan video cctv yang pernah dia lihat.



"Ini!" Kali ini Fathan bergerak maju tentunya sambil menarik Nia agar mengikutinya, kemudahan Fathan menyodorkan flashdisk pada Yuda.



"Apa ini?" tanya Yuda bingung, begitu juga dengan Arka.


__ADS_1


"Itu rekaman gabungan cctv dari nomor 23 dan 120, awalnya saya nggak tau kalau kamu dan teman kamu pergi ke sana untuk menyelediki, tapi saat bapak penjaga itu menceritakan saya pun ikut melihat cctv di nomor 23, karena saya bingung, kalian menyelediki tapi kenapa sampai pernikahan ini terjadi. Dan ternyata mereka memang hampir mirip, tapi kalian bisa liat sendiri ada perbedaannya kok, dan di dalam sana juga ada Parjo yang berdiri menunggu Arka sedangkan Nia pergi ke luar," terang Fathan.



"Jika kalian nggak percaya, saya bisa panggil Parjo dan Metha, dokter yang memeriksa Nia waktu pertama kali dan kemarin," sambung Fathan.



Mendengar penuturan dan bukti yang Andrian berikan atau lontarkan membuat Yumna dan David terlihat sangat syok, dan membuat mereka semakin yakin jika semuanya memang benar.



Sementara Bayu dan Angel hanya diam saja melihat semua yang terjadi.



Nayla bergerak maju dan mendekat pada Nia. Fathan pun mulai melepaskan genggaman tangannya pada Nia. "Mah, jangan percaya itu semua bohong---."



Plakkkk



Satu tamparan mendarat di pipi kanan Nia. Nia memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan tersebut. "Mamah," lirih Nia.



"Jangan panggil aku Mamah, aku nggak sudi dipanggil Mamah, sama wanita rendahan kayak kamu," ujar Nayla dengan mata yang berkaca-kaca dan terlihat kilatan emosi serta kekecewaan yang mendalam dari mata itu.



"Mah, dengerin penjelasan aku dulu, Mamah jangan ngomong gitu." Nia hendak bersujud di kaki Nayla.



Akan tetapi Nayla bergerak mundur menjauhi Nia. Fathan yang melihat itu langsung menghampiri Nia dan memegang bahunya, meminta Nia untuk berdiri.



"Lepas! sudah puas lo sekarang hah? kenapa sih lo harus hadir ke tengah-tengah gue hah kenapa? kenapa lo nggak bisa terima keadaan, kenapa?" Nia menepis tangan Fathan dan meraung di hadapannya, dia memaki dan menunjuk-nunjuk Fathan.



"Harusnya aku yang tanya itu ke kamu, kenapa kamu nggak bisa terima keadaan? kenapa kamu malah manfaatin anakku untuk menikah dengan laki-laki lain? apa kamu pikir aku akan diem aja?" ujar Fathan.



"Dia bukan anak lo, dia anak gue, dan gue nggak sudi menikah sama lo, karena lo hidup gua ancur," bentak Nia.



Plaaaakkk



Satu tamparan mendarat lagi di pipi kanan Nia, dan kali ini dilakukan oleh Arka.




"Kita harus berpisah karena ulah kamu yang rendahan, dan sekarang kamu merasa paling tersakiti? aku akan ceraikan kamu secepatnya," sambung Arka.



"Nggak ... Aku nggak mau cerai sama kamu Ar, dan kamu nggak bisa ceraikan aku karena aku lagi hamil anak kita." Nia memohon pada Arka tapi Arka hanya memalingkan wajahnya dan berdecih.



"Masih nggak mau ngaku," gumam Arka.



"Dan untuk Mamah, sama Papah, juga Om, terserah kalian setuju atau nggak, yang jelas aku akan secepatnya menceraikan dia, aku sedia menikahinya karena aku pikir anaknya itu milikku tapi ternyata---." Arka tidak sanggup lagi mengatakan apa pun karena emosinya yang menggebu-gebu dan sudah di atas kesabaran.



"Nggak Mah, Pah, tolong bilang sama Arka kalau dia nggak bisa ceraikan aku. Aku mohon, demi cucu kal---."



"Apa kamu nggak punya malu? setelah apa yang kamu lakukan kamu masih ingin bertahan? bahkan Papah saja sudah tidak sanggup lagi menatap wajah mereka karena kamu," teriak Adit saat Nia memohon pertolongan padanya.



"Kamu bener-bener kelewatan Nia. Papah bener-bener nggak habis pikir sama kamu." Adit hendak melayangkan tamparan lagi pada Nia. Namun, ditahan oleh Fathan.



"Cukup Pak! kekerasan bukan jalan yang benar," ujar Fathan.



Melihat Fathan membelanya seperti seorang pahlawan, padahal dia yang membuat Nia seperti ini, membuat Nia murka.



Nia mendekati Fathan dan langsung menarik kerah bajunya, kemudian memukuli da—.da Fathan bertubi-tubi sambil memaki, "nggak usah sok care lo sama gue, ini semua gara-gara lo, udah gue bilang waktu itu lupain aja kejadian malam itu tapi apa yang lo lakuin hah?"



"Ck ... Akhirnya dia mengakui juga, aku semakin yakin dan ingin secepatnya menceraikan dia." Arka berdecih sambil menatap penuh benci pada Nia.



Sementara Nayla dan Adit semakin merasa malu. "Dav, aku minta maap atas semua yang terjadi dan aku permisi, terserah kamu mau melakukan apa sama wanita ini, mau dilaporin ke polisi atas pemalsuan atau apa itu juga aku udah nggak peduli." Setelah mengatakan itu Adit dan Nayla pun pergi.



"Pah, Mah, jangan tinggalin aku Pah, Mah." Nia jatuh terduduk dan menangis tergugu.

__ADS_1



Nia sama sekali tidak menyangka jika ini semua akan terjadi, dia tidak berniat membuat kedua orang tuanya merasa malu. Namun, cinta yang memaksanya untuk melakukan itu semua.



"Dek, kemasi barang-barang dia, dan jangan sampai ada yang tertinggal satu pun," titah Arka pada Alexa. Semua orang menatap Arka.



"Abang mau ngapain?" tanya Alexa.



"Mau usir dia dari rumah ini," jawab Arka dengan kilatan emosi yang terlihat jelas di kedua matanya.



Alexa tampak ragu, karena dia tidak tega. Namun, sejujurnya melihat semua yang terjadi Alexa juga tidak suka jika Nia berada di rumah ini.



"Cepetan dek!" bentak Arka dan akhirnya Alexa pun berlari.



"Tunggu Al!" teriak David menghentikan Alexa.



"Kenapa Pah? Papah masih percaya sama wanita ini?" Arka menatap tidak percaya pada David, karena seperti tidak menginginkan jika Nia pergi dari rumahnya.



"Bukan gitu Bang, tadi kamu liat sendiri kan om dan tante kamu udah nggak ngijinin dia buat tinggal bersama, ke mana Nia akan pergi nanti, dan karena setatusnya masih istri kamu jadi, biarkan dia di sini dulu. Seenggaknya sampai kalian bercerai," terang David membuat Arka mengkerutkan kening.



"Kenapa Papah peduli sama dia? Papah denger sendiri kan semuanya?" ketus Arka.



"Papah hanya kasian sama bayi yang sedang dia kandung Bang, bayi itu nggak salah apa pun," jawab David membuat Arka berdecih.



"Tapi bayi itu bukan punya Abang," gumam Alexa.



"Iya tapi---."



"Biar Nia bersama saya, karena anak ini adalah milik saya," potong Fathan membuat semua orang menoleh padanya.



"Mending gue mati dari pada harus hidup sama lo," teriak Nia saat mendengar ucapan Fathan.



"Nia kok kamu ngomong gitu? jadi maksudnya kamu masih mau di sini gitu? Padahal Abang udah nggak mau kamu di sini dan dia ngusir kamu, jadi ngapain kamu mau di sini?" Alexa menimpali ucapan Nia.



"Pah, Mah, kalau Nia di sini biar aku pergi aja," ucap Arka.



"Aku ikut Bang." Alexa mengacungkan jari telunjuknya. Dia ingin ikut pergi dari rumah ini jika Nia masih di sini.



Hal itu membuat Nia semakin meraung, "kenapa kalian benci banget sama aku."



"Idih apa kamu nggak punya kaca?" sungut Alexa.



"Udah, udah, karena di rumah kita ada kamar kosong, gimana kalau Nia tinggal sama Tante aja mau?" usul Angel. Namun dia diam saja, wajahnya pun terlihat sangat pucat.



"Astaga Nia! muka kamu pucet banget," kata Angel panik.



Mendengar itu Fathan langsung menoleh dan memperhatikan wajah Nia, dan ternyata memang benar, wajah Nia kini sangat pucat pasi.



"Kita ke rumah sakit sekarang." Fathan ingin menggendong bridal Nia, tapi Nia menolak.



"Sudah gue bilang mending gue mati dari pada gue harus ditolongin sama lo karena semuanya juga sudah berakhir buat gue," tolak Nia.



"Jangan banyak omong dan diem! nggak akan ada yang peduli sama kamu selain aku," ucap Fathan dan segera membopong tubuh Nia. Nia yang sudah mulai merasa pusing dan lemas hanya bisa diam saja.



"Untuk semuanya saya minta maaf atas semua yang sudah terjadi hari ini," kata Fathan kemudian dia pun pergi diikuti oleh Andrian.



BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2