
Setelah cukup lama untuk membujuk dan menenangkan wanita yang baru saja melahirkan itu, pada akhirnya berhasil juga.
Kini, wanita itu tengah berada dalam kamar rawat itu seorang diri. dengan tatapan mata, yang sangat kosong. tentunya Hal itu membuat Zidane dan yang lain, merasa sangat kasihan. terutama, dalam hati laki-laki berwajah hitam manis itu.
Andai saja dirinya tidak memaksakan kehendak, andai saja dirinya tidak memberikan ramuan itu, andai saja dirinya tidak menikahi wanita itu dalam kondisi tak sadarkan diri, semua tidak akan seperti ini. namun squat apapun menyalahkan dirinya sendiri, Zidane tidak akan pernah mampu memperbaiki semuanya.
"Abang mohon, maafkan Abang sayang." ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan. dengan perlahan-lahan, tangan dari laki-laki itu menyentuh kulit tangan lembut milik istrinya.
Namun hal itu segera dihentikan saat merasakan tepisan kasar dari si pemilik tangan.
"jangan pernah sentuh aku!." ujarnya dengan nada dingin dan juga aura yang sangat mencekam.
Hal itu sukses membuat hati Zidane seketika ter cubit dengan sangat keras hingga membuat dadanya terasa sangat sesak.
"tolong sayang tolong maafkan aku."ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan. tak lama berselang, Zidane berlutut di hadapan wanita pujaan hatinya itu disertai dengan deraian air mata yang membasahi wajah manisnya.
Namun hal itu sama sekali tidak merubah apa-apa. Karena Wanita itu, tetap tidak bergeming di tempatnya tanpa merespon apapun yang dilakukan oleh laki-laki itu. tentunya hal itu semakin membuat Zidane merasa sangat bersalah.
"sudahlah Bang, lebih baik kita keluar dulu. biarkan Asmirandah untuk menenangkan diri." ajak Jordan pada Kakak sepupunya itu.
"tapi Asmirandah...."ucapan dari laki-laki berwajah hitam manis itu seketika terhenti saat mendengar sahutan dari sahabat istrinya itu.
"Kakak tenang saja. Asmirandah akan aman bersamaku."sahut Tiara dengan cepat.
Awalnya, Zidane masih tetap bergeming di tempatnya. hingga beberapa saat kemudian, laki-laki itu akhirnya mengalah juga dan ikut bersama dengan Jordan untuk keluar dari ruangan itu.
"kenapa semuanya bisa seperti ini?"tanya Asmirandah dengan deraian air mata. menatap lurus ke depan. namun Tiara tahu, ada tatapan terluka dan juga kecewa yang luar biasa di dalam sana.
"apa kamu juga terlibat dalam semua ini?"tanya Asmirandah saat tidak mendapatkan respon apapun dari sahabatnya.
Tiara dengan segera menatap manik mata milik sahabatnya itu."jujur Saja, awalnya aku tidak tahu menahu tentang rencana ini. aku hanya tahu, saat Bang Zidane memberitahuku lewat telepon bahwa kalian telah menikah. dan memintaku, untuk merahasiakan semuanya darimu Dan juga keluargamu."ucapnya mencoba untuk menjelaskan.
__ADS_1
tes
Tanpa terasa, air mata dari wanita itu seketika mengalir sangat deras dan membasahi wajah cantiknya.
"Jadi selama ini, aku menjalani pernikahan tanpa restu dari kedua orang tuaku?"tanya Asmirandah dengan nada yang sangat lirih dan juga sesak di dalam dada.
"aku harus bertemu dengan mereka untuk meminta maaf."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah mencoba untuk turun dari ranjang rumah sakit.
Namun hal itu segera dihentikan oleh Tiara. karena wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, tidak menginginkan suatu hal terjadi pada sahabatnya jika mengetahui fakta yang sebenarnya.
"tolong jangan seperti ini Asmirandah. kau baru saja melahirkan. dan kau, harus lebih banyak mengistirahatkan tubuhmu. jangan sampai, kau kembali tumbang."ucapnya mencoba untuk memperingati.
Karena selain mengkhawatirkan kondisi tubuhnya, Tiara juga mengkhawatirkan kondisi mental dari sahabatnya itu jika nanti sampai pulang ke rumah dan mengetahui tentang fakta tersembunyi dari keluarga besar Orlando. karena tidak kunjung mendapatkan respon yang baik, pada akhirnya Tiara terpaksa memanggil tim medis untuk membantu menenangkan Ibu baru itu
"apa yang terjadi?"tanya Zidan saat melihat Tiara keluar dari dalam kamar Asmirandah dengan ekspresi wajah sedikit tegang.
"dia ingin pulang bertemu dengan keluarganya."jawab wanita berambut panjang sampai pinggang itu dengan nada yang sangat lemas.
"lalu apa yang harus kita lakukan?"tanya Zidane saat sudah terlalu lama berdiam diri untuk memikirkan jalan keluar terbaik. namun sayangnya, laki-laki berwajah manis itu tidak menemukan solusi apapun dalam masalahnya kali ini.
"tidak ada yang bisa kita lakukan. satu-satunya yang dapat sedikit menghambat kehancuran itu, adalah menyembunyikan kebenarannya."jawab Tiara menatap lurus ke depan.
Dan pada akhirnya, Zidan dan yang lain pun setuju dengan usulan yang dilontarkan oleh Tiara.
****
"bagaimana apakah situasinya aman?"tanya seorang wanita yang tak lain adalah Naomi pada seorang laki-laki yang menjadi sekutunya saat ini.
(aman semua orang yang tengah menjaga wanita itu, tengah mencari makan untuk mengisi perut mereka yang kosong. sekarang, kamu boleh menemuinya)
"baik! kalau begitu, terima kasih."setelah mengatakan hal itu, Naomi segera menutup panggilan telepon itu dan mulai melangkahkan kakinya dengan senyuman mengembang.
__ADS_1
"aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantik Adik kesayanganku."ucapnya dengan tersenyum smrik.
Memang, Naomi telah berada di rumah sakit itu sejak pagi. wanita yang berstatus sebagai kakak kandung dari Asmirandah itu hanya menunggu momen yang sangat pas untuk membongkar semua pada adik kesayangannya itu. dan sekarang ini, adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh wanita itu.
"dia ada di dalam sendirian."ucap seorang laki-laki misterius pada Naomi.
Wanita itu, segera menganggukkan kepala dan melangkahkan kakinya untuk masuk menemui Adik tersayang.
"selamat pagi adikku sayang."sapa Naomi dengan wajah berbinar-binar. persis seperti seseorang yang sudah lama tidak bertemu dengan adik kandung yang sangat dia sayangi.
Tentunya Hal itu membuat Asmirandah yang mendengarnya, seketika menoleh ke arah sumber suara.
"ka..kak Naomi."gumam Asmirandah dengan nada suara terbata-bata.
"bagaimana apakah hidupmu bahagia setelah membohongi aku dan juga keluarga kita?"tanya wanita itu dengan nada suara yang sangat lembut dan juga Terdengar sangat santai. namun tersirat dari kata-kata wanita itu sangatlah tajam dan juga menusuk.
Asmirandah seketika menggelengkan kepalanya." a .aku tidak bermaksud untuk membohongi kalian."ucapnya dengan nada suara terbata-bata.
"Halah bullshit. bukankah kau sudah janji akan menjauhi Zidane untukku? tapi kenapa kau malah menikung ku dari belakang seperti ini?"tanya wanita itu dengan tatapan yang sangat tajam bak seorang monster.
Dengan deraian air mata, wanita cantik itu menggelengkan kepalanya."aku mohon jangan bicara seperti itu aku tidak ada maksud untuk membuat kalian merasa terbohongi seperti ini."ucapnya sedikit sesenggukan.
"tapi kenyataannya memang seperti ini sayang. Kau menghancurkan hidup keluargamu sendiri!"ucapnya penuh dengan penekanan.
Asmirandah masih mencoba untuk menggelengkan kepalanya. wanita yang baru saja selesai melahirkan itu, masih mencoba sekuat tenaga untuk menyangkal ucapan kakaknya.
"pasti kamu merasa sangat bahagia bukan sudah menghancurkan keluargamu sendiri? bahkan, Kau adalah penyebab dari kedua orang tua kita pergi untuk selamanya!" ucapnya dengan nada suara yang sangat sinis.
Duaarrr
Seperti tersambar petir di siang bolong, tubuh Asmirandah seketika kaku dan tidak bisa digerakkan. hingga tak lama berselang, wanita cantik itu tak sadarkan diri.
__ADS_1