Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 176


__ADS_3

Setelah semua orang selesai diperiksa, ruangan itu kembali hening. membuat dokter Vanessa yang melihat itu, seketika bernafas dengan lega.


"apa yang sebenarnya dikasih pada bayi malang itu? kenapa aku tidak bisa mendeteksi cairan apa yang diberikan pada generasi penerus keluarga Prakoso itu?"tanya wanita itu Seraya melipat kedua tangannya dan sesekali akan memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


Tring...


Dokter Vanessa seketika tersentak saat ponselnya kembali berbunyi. dan dengan segera, mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan singkat padanya.


Tiara: halo Dokter Vanessa, Anda pasti bingung kan kenapa anda tidak bisa mendeteksi cairan yang ada dalam tubuh anak itu?


Dokter Vanessa sempat menahan nafas saat membaca kalimat demi kalimat yang dikirimkan oleh menantu dari keluarga Prakoso itu.


Tiara : baiklah saya akan memberikan informasi pada anda. karena hari ini, saya benar-benar sedang merasa bahagia. karena akan menjadi menantu kesayangan di keluarga konglomerat seperti keluarga Prakoso.


Tiara: dengarkan saya baik-baik dokter. saya memberikan bayi ini minuman dengan campuran air rendaman beras yang sudah saya didihkan sedemikian rupa dan saya campur santan sedikit. bukankah saya jenius? hahaha saya tahu pasti anda terkejut.


Kedua bola mata dari dokter Vanessa seketika membulat sempurna saat membaca kalimat itu. tenggorokannya terasa tercekat. dan tak lama berselang, bulir bening dari kedua kelopak mata Dokter Vanessa mengalir dengan sempurna.


"dia benar-benar manusia berarti iblis! bisa-bisanya, melakukan hal yang menurut sangat gila ini."geram dokter Vanessa menghela nafas panjang.


Sebenarnya dokter itu ingin sekali menghubungi keluarga dari Prakoso dan mengatakan semua ini pada mereka. namun sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.


Tiara: jangan berani-beraninya kau memberitahu hal ini pada keluarga suamiku. atau jika tidak, kau akan mendapatkan kejutan yang tidak kau sangka-sangka dalam hidupmu.


tring


Tangan dari dokter Vanessa segera bergerak membuka sebuah folder yang dikirimkan pada nomor yang tidak dikenal. kedua bola matanya seketika membelalak sempurna. saat di sana, terlihat dengan jelas sebuah foto yang memperlihatkan proses penyiksaan.


Dengan tubuh bergetar hebat, Dokter wanita itu segera mengangkat ponselnya yang tiba-tiba saja kembali berdering.


("bagaimana apakah kau masih ingin melakukan perlawanan padaku?")

__ADS_1


"tolong jangan pernah lakukan itu."sahut dokter Vanessa memelas. sungguh wanita paruh baya itu merasa begitu ketakutan saat ini.


Sementara di seberang sana, terdengar suara Tiara yang tertawa terbahak-bahak.("maka dari itu, turuti semua perintahku maka keluargamu akan aman.")


Dokter Vanessa seketika menganggukkan kepala cepat."baik aku akan tutup mulut. tapi tolong, jangan pernah sakiti keluargaku."pintanya memohon.


Tut


Sambungan telepon itu pun seketika terputus dengan begitu saja. membuat tubuh dokter Vanessa, seketika lemas tidak bertenaga.


***


Sementara itu di toilet rumah sakit itu, Tiara tersenyum dengan begitu mengembang. karena wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, berhasil membungkam mulut dari orang yang berpotensi menghancurkan rencananya.


"satu hama telah selesai aku binasakan. sekarang, aku harus kembali kepada keluarga itu dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa."ucapnya dengan mengangkat dagu sombong.


Sesampainya di parkiran rumah sakit, Tiara segera menerima Elvio yang tampak memasukkan jari jempolnya ke dalam mulut mungilnya.


Tiara yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. kemudian dengan segera, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil yang memang telah tersedia di depan sana.


Di sepanjang perjalanan, Tiara tanti-hentinya tersenyum simpul karena sudah berhasil menyingkirkan satu hambatan yang menurutnya sedikit berbahaya.


"Untung saja kau tidak memberikan tanda-tanda jika kau alergi minuman itu. karena jika tidak, Kau pasti sudah lebih merepotkanku."gumam wanita itu dalam hati Seraya menatap lekat ke arah bayi Elvio yang dari tadi sibuk memasukkan jarinya sendiri.


"sebaiknya setelah sampai rumah nanti, kau segera memberikan putramu itu air kehidupan. karena sepertinya, dia sudah sangat kehausan."ucap Oma Keisha memecah keheningan.


Tiara yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum simpul.


****


Sementara itu, di kediaman tersembunyi milik Jordan, juga tengah terjadi keharmonisan. karena semenjak tadi, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu tak henti-hentinya mengajak Ara untuk bercanda.

__ADS_1


Karena memang usia dari bayi itu yang memang sudah 2 bulan. sehingga sudah bisa sedikit mengeksplor ekspresi wajahnya. membuat Jordan semakin merasa bahagia.


"kau ini gemas sekali." ujarnya Seraya melayangkan satu kali kecupan di pipi gembul milik sang putri tercinta.


Sementara Asmirandah yang berada di kamar mandi, diam-diam tersenyum simpul saat melihat interaksi antara ayah dan juga anak.


"semoga saja, Haidar juga sering merasakan hal itu."ucapnya lirih penuh dengan harap. karena sampai saat ini pun, Asmirandah masih memanjatkan doa pada Putra sulungnya itu agar tetap bahagia. di manapun dia berada.


Jordan seketika menoleh saat mendapati istri tercintanya sudah berada tepat di samping tempat tidur.


"kapan kita berangkat?"tanya si wanita duduk di samping laki-laki itu.


"tiga hari lagi kita berangkat. dan aku, sudah mempersiapkan semua yang terbaik untukmu."ucap laki-laki itu Seraya menyerahkan Ara pada Asmirandah. dengan segera, berjalan untuk menuju lemari kecil yang ada di sana.


"nanti setelah sampai sana, kamu harus memakai ini semua."tunjuk Jordan pada beberapa barang yang sudah dipersiapkan oleh laki-laki itu.


Kening dari Asmirandah sempat mengerut samar. sebelum pada akhirnya, wanita itu pun menganggukkan kepala. karena menurut Asmirandah, tidak ada gunanya juga dirinya protes saat ini. karena semuanya akan terasa sia-sia.


"apakah kau sudah selesai pendarahannya?"pertanyaan itu sukses membuat tubuh Asmirandah menegang. Karena Wanita itu tahu, apa yang dimaksud oleh laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


Dengan perlahan tapi pasti, wanita itu segera menganggukkan kepala mencoba untuk bersikap biasa mungkin.


Senyuman laki-laki itu seketika mengembang saat mendapatkan jawaban yang begitu memuaskan. dan tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera menerkam istri kesayangan.


Sesekali Asmirandah akan menggigit bibir bawahnya. Karena Wanita itu sangat takut jika rahasianya ini terbongkar. namun sampai kegiatan itu selesai, tidak ada komplain apapun dari Jordan. membuat wanita itu sedikit bernafas dengan lega.


"Mungkin memang selamanya aku akan berada di terkaman dari laki-laki ini."gumam wanita itu tanpa sadar menitipkan air mata.


Beruntungnya Jordan sama sekali tidak menyadari akan hal itu. jika tidak, maka akan ada drama di antara mereka.


"sekarang lebih baik kita tidur. mumpung hari masih terang."ucap Jordan yang menunjuk pada jam dinding yang menunjukkan pukul 12.00 siang.

__ADS_1


__ADS_2