Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 216


__ADS_3

Sesampainya di dapur, wanita paruh baya itu segera mempersiapkan semuanya untuk membuatkan air kehidupan terbaik untuk cucu-cucunya.


Bahkan wanita paruh baya itu, menolak dengan tegas saat para pelayan mencoba untuk membantunya membuatkan air kehidupan untuk Arabella dan juga Elvio. sepertinya Ajeng ingin menebus semuanya dengan membuatkan sendiri asupan asupan gizi yang diperlukan oleh dua bayi itu.


Sementara pelayan yang berada di belakang sana, seketika saling pandang satu sama lain Mereka begitu gugup dan juga khawatir. karena ancaman dari Tiara itu, bukanlah ancaman main-main mereka sesekali akan berbisik satu sama lain untuk mendiskusikan bagaimana agar semua ini tidak ketahuan.


Karena sebenarnya mereka semua juga sudah merasa sangat geram dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh Tiara pada bayi malang itu. tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena keluarga mereka juga merasa terancam saat ini.


"di mana air kehidupan milik Elvio?"tanya Ajeng kepada para pelayan yang masih sibuk memikirkan cara bagaimana caranya untuk mencegah agar semua ini tidak cepat terjadi.


"Bi ?"panggil Ajeng sekali lagi. karena tidak ada pergerakan ataupun respon sama sekali dari orang-orang yang berada di belakangnya saat ini.


Dengan tubuh gemetaran dan juga perasaan yang tidak karuan, mereka semua mulai mengeluarkan racikan air kehidupan itu yang memang diletakkan di atas.


"se... sebentar Nyonya saya ambilkan dulu."ucap salah satu dari mereka dengan nada suara terbata-bata.


Dua pelayan itu segera melangkahkan kakinya untuk segera mengambil apa yang ingin mereka ambil. di sana, dia bertemu dengan sosok pelayan yang memang telah diperintahkan oleh Tiara untuk memantau semuanya.


Pelayan itu menatap tajam ke arah dua rekannya. membuatnya seketika menggigil karena merasa ketakutan luar biasa.


"apa yang kalian lakukan di sini?!"tanya Nanda---pelayan yang diperintahkan untuk mengawasi gerak-gerik dari pelayan yang lain. agar rencana dari Tiara, tidak gampang bocor.


"ma...maaf kami berdua hanya ingin mengambilkan racikan air kehidupan untuk Tuan kecil."dengan tubuh gemetaran dan juga nada suara terbata-bata, mereka berdua menjawab pertanyaan wanita itu.


"ini!" ucap Nanda dengan suara yang begitu galak dan menyerahkan satu kaleng sedang bubuk air kehidupan kepada dua pelayan itu.


Seketika keduanya saling pandang satu sama lain karena merasa heran dengan tingkah laku dari orang kepercayaan Tiara itu.

__ADS_1


"Tidak usah heran seperti itu. kalian pikir, Nyonya Tiara mau jika rahasianya terbongkar?"tanya Nanda dengan nada suara yang begitu sinis.


Dua pelayan itu pun seketika menganggukkan kepala. dan dengan segera langsung kembali ke dapur kotor dan menemui Ajeng. meninggalkan Nanda yang masih menyilangkan kedua tangannya di atas perut dengan tatapan yang begitu tajam.


****


Sementara itu di dapur sana, Ajeng mulai merasa sangat geram pada dua pelayan yang ia perintahkan untuk mengambil bubuk air kehidupan itu.


"ini nyonya!"ucap salah satu dari mereka Seraya menyerahkan satu kaleng pada Ajeng.


"kenapa kalian lama sekali?! memangnya di mana kalian mengambil bubuk kehidupan ini?!"sembur wanita paruh baya itu dengan tatapan yang begitu tajam.


Hingga membuat kedua pelayan itu, seketika langsung menundukkan kepala karena merasa takut dengan sikap yang ditunjukkan oleh.


Tanpa pikir panjang lagi, wanita paruh baya yang berstatus sebagai ibunda dari Zidane itu, segera mempersiapkan semuanya. dan setelah 15 menit, racikan air kehidupan itu pun akhirnya telah jadi.


"astaga!"gumamnya dengan ekspresi wajah terkejut saat melihat dan mendengar tangis yang begitu nyaring dari kedua bayi itu.


Mungkin saja, Elvio dan juga Arabella saat ini tengah merasakan kelaparan yang luar biasa. sehingga mereka berdua, saat ini menangis dengan begitu kencang.


"Ajeng kenapa lama sekali?!"tanya wanita rentak itu Seraya menatap tajam ke arah sang menantu.


"Maaf bu tadi ada sedikit kendala."sahut wanita paruh baya itu Seraya menyerahkan dua botol pada wanita sepuh yang ada di hadapannya saat ini.


Namun sebelum dua botol itu jatuh ke tangan Oma Keisha, Ajeng segera menarik kembali dua botol itu. membuat Oma Keisha yang melihatnya, sedikit merasa geram.


"Ajeng, apa yang kau lakukan?!"tanya wanita sepuh itu dengan tatapan yang begitu galak.

__ADS_1


Setelah mendapatkan tatapan seperti itu, Ajeng kembali memberikan dua botol itu pada masing-masing bayi.


"huh hampir saja tertukar." gumamnya Seraya menghela nafas lega.


Dengan sekejap, air kehidupan itu telah menyatu dalam tubuh kedua bayi mungil itu. dan tak lama berselang, keduanya pun sudah terlelap. membuat orang-orang yang ada di sana seketika bernafas dengan menegak karena dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik.


*****


"Mami kenapa tadi bersikap seperti itu?"tanya Zidane pada sang ibu saat melihat tingkah laku dari Ajeng yang terasa begitu janggal.


Bukannya menjawab, wanita paruh baya itu justru menangis dengan begitu pilunya. membuat Zidane yang melihat itu, merasa kehilangan namun juga merasa sedikit khawatir.


"Mi, Ada apa sebenarnya?"tanya laki-laki berwajah manis itu Seraya menyentuh pundak dari sang ibu.


kemudian dengan perlahan tapi pasti, Ajeng mulai menceritakan apa yang ia temukan dan ia rasakan.


"Mami merasa sangat kasihan pada keadaan Haidar dulu. Anak itu tidak mendapatkan asupan kehidupan yang baik dari ibunya. padahal seharusnya anak itu mampu untuk mendapatkannya. Mami hanya merasa semuanya tidak adil untuk Haidar. karena Arabella, bisa mendapatkan semua itu dengan baik."Ajeng masih terus bercerita dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.


Membuat Zidane yang mendengar itu, sebenarnya juga merasa sangat kasihan dan juga merasa tidak adil dengan apa yang menimpa Putra sulungnya itu. tapi apa boleh buat, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"sudahlah Mi. semua sudah berlalu. dan sekarang ini, Haidar sudah bertumbuh menjadi sosok laki-laki yang ceria dan juga sehat. walaupun tanpa air kehidupan yang mengalir langsung dalam tubuh ibunya."seperti tidak ingin membahas hal itu, Zidane meminta Ajeng untuk mengakhiri pembicaraan mereka itu.


Karena semuanya hanya akan membuat dia merasa sakit hati yang luar biasa. dan pada akhirnya, wanita paruh baya itu pun menurut.


"ngomong-ngomong kapan kau akan menemui Haidar?"tanya Ajeng mengalihkan topik pembicaraan.


Zidane yang mendengar itu, seketika mendongakkan kepala ke arah atas."sebenarnya rencanaku untuk pergi tu hari ini. tapi semuanya gagal total karena ulah dari wanita sialan itu."ucapnya Seraya mendengus kesal membayangkan apa yang telah Ia rencanakan dan Ia janjikan kepada Haidar ternyata hanyalah kebohongan semata.

__ADS_1


Dan laki-laki yang memiliki wajah manis itu pasti sangat yakin bahwa Haidar akan marah nantinya.


__ADS_2