
"kenapa Abang ada di sini?"tanya Jordan saat laki-laki yang memiliki jambang tipis di wajahnya itu melihat kehadiran sang kakak sepupu.
"memangnya kenapa? bukankah ini juga masih menjadi rumahku?"bukannya menjawab, Zidane justru malah balik bertanya. dan tanpa memperdulikan ekspresi wajah dari Jordan, laki-laki berwajah hitam manis itu segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Mansion kedua orang tuanya.
"Kau dari mana saja kenapa jarang pulang seperti ini?"tanya Rafael Seraya menyilangkan tangannya di depan dada. dan jangan lupakan, tatapan laki-laki paruh baya itu yang menata putranya sendiri dengan tatapan yang begitu tajam seperti seorang musuh bebuyutan.
Namun, hal yang mengejutkan justru didapat oleh laki-laki paruh baya itu. Karena mendapatkan balasan yang sedikit menjengkelkan dari putranya itu.
"kenapa bertanya seperti itu? aku sudah dewasa. dan aku, berhak untuk datang ke sini atau ke manapun."ucap laki-laki itu dengan sinis.
plak
Satu buah geplakan, seketika mendarat mulus di belakang kepala laki-laki muda berwajah manis itu. Hal itu membuat si pemilik, seketika mendengus kesal.
Karena berniat tidak ingin menggubris laki-laki tua itu, pada akhirnya Zidan memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke kamar pribadinya. namun sebuah suara, sukses membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya.
"Zidane, kenapa kau jarang pulang seperti ini? apa kau tidak sayang lagi dengan Mami?"pertanyaan dari wanita paruh baya yang telah berjasa melahirkannya itu, sukses membuat Zidane menoleh.
"Mami ini bicara apa sih? aku kan sibuk di kantor."jawab laki-laki itu Seraya mendengus menatap malas ke arah Ajeng.
"Zidane, jaga ucapanmu!"tegur Rafael dengan tegas. membuat laki-laki berwajah hitam manis itu, seketika menghirup udara sebanyak mungkin dan setelahnya menghembuskannya secara perlahan.
"maaf."lirihnya yang langsung ikut duduk bersama dengan kedua orang tuanya. tak berselang lama, Jordan pun juga ikut bergabung dengan mereka.
Sesekali kakak beradik sepupu itu akan saling pandang satu sama lain untuk menyampaikan sesuatu lewat lirikan mata mereka. dan hal itu, sukses membuat Rafael kesal.
"kalian ini kenapa?"tanya laki-laki paruh baya itu menatap tajam ke arah Putra dan juga keponakannya itu.
"nggak ada apa-apa Om. biasalah." cengir Jordan Soraya mengangkat dua jarinya membentuk simbol menyerah.
"dasar anak-anak!"gumam Ajeng Seraya menggelengkan kepalanya. kemudian menatap lekat ke arah Putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Zidane yang melihat itu, seketika menatap ke arah ibunya dengan kening yang mengerut tipis. "Mami kenapa ngeliatin aku seperti itu?"tanyanya yang merasa heran.
"apa kamu sudah memiliki kekasih?"tanya Ajeng secara tiba-tiba.
uhuk uhuk uhuk
Minuman yang baru saja diteguk oleh laki-laki berwajah hitam manis itu, seketika langsung menyembur keluar dari mulutnya. saat mendengar pertanyaan dari ibunya itu.
"kenapa ? kok kamu terkejut seperti itu?"hanya wanita paruh baya itu Seraya menaikkan satu alisnya.
Zidane yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya pelan."tidak apa-apa. aku hanya terkejut saja. kenapa Mami bisa tiba-tiba bertanya seperti itu?"tanya Zidane mencoba untuk mengalihkan perhatian dari ibunya.
"ck, jelas Mami bertanya seperti itu. umur kamu itu sudah hampir 30 tahun. tapi lihatlah kamu masih menjomblo sampai sekarang!" ujar wanita paruh baya itu Seraya berdecak sebal.
"menjomblo juga karena ditikung. kalau belum ditikung, aku juga sudah menikah." sahutnya mendengus sebal.
Lirikan sinis seketika langsung mendarat mulus kepada laki-laki berwajah manis itu. siapa lagi pelakunya Jika bukan Ajeng.
"kenapa bisa seperti itu?"tanya pasangan ibu dan anak itu secara kompak dan serempak.
"jangan-jangan, semua itu atas keterlibatan Papi?"tanya Ajeng penuh dengan rasa curiga pada suaminya itu.
puk
"enak saja. mana pernah, Papi melakukan hal itu? walaupun Papi tidak suka dengan Naomi, tapi Papi tidak pernah melakukan hal itu. seperti Mami yang mencak-mencak seperti orang kesurupan."sinisnya seraya menoyor kening istrinya.
Membuat Ajeng yang mendengar itu, seketika naik pitam."apa maksud Papi?"tanya wanita paruh baya itu menatap tajam dan juga berkacak pinggang.
" kalian ini meributkan apa?"pertanyaan dari seseorang sukses membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara.
Beberapa detik kemudian, tubuh mereka mematung seperti patung selamat datang yang ada di seberang jalan sana. hingga sebuah senggolan, membuat mereka bertiga tersadar.
__ADS_1
"a..ada apa Ibu sama bapak ke sini?"tanya Ajeng dengan suara sedikit terbata-bata.
Pasangan sepuh itu, seketika saling pandang satu sama lain. hingga tak lama berselang, mereka duduk di hadapan Rafael dan juga keluarganya.
"Ada yang ingin kami sampaikan pada kalian. terutama kamu Zidane."tunjuk wanita paruh baya itu yang bernama Oma Keisha.
" memangnya ada apa, Oma?"entah mengapa, hati dari laki-laki itu, sudah merasa tidak enak sejak kedatangan dua manusia sepuh itu.
"kau akan Oma jodohkan dengan seseorang."ucapnya to the point tanpa embel-embel apapun juga.
"APA??!!!"teriak mereka secara bersamaan. bahkan Zidane dan juga Jordan yang mendengar itu, seketika membulatkan kedua matanya dan hampir saja keluar dari tempatnya.
"tidak aku tidak mau!"balas laki-laki berwajah manis itu tak kalah tegasnya.
"apakah kau tidak mau menerima warisan dari keluarga kami? jika memang iya, maka kau boleh pergi dari sini!"ucap Oma Keisha penuh dengan penekanan.
Berharap bahwa laki-laki manis itu akan luluh dan menuruti keinginannya. Karena Oma Keisha mengira jika cucunya itu akan takut jika tidak mendapatkan sepeserpun harta dari keluarga mereka.
Namun ternyata, dugaan mereka adalah salah besar. karena Zidane dengan segera menarik diri dari duduknya hingga posisinya saat ini adalah berdiri menghadap mereka semua.
"aku sama sekali tidak peduli!"sahut laki-laki itu tanpa menulis sedikitpun kepada dua manusia sepuh itu.
"aku bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri walaupun nantinya, aku tidak mendapatkan sepeserpun harta dari kalian."setelah mengatakan hal itu, Zidan memutuskan untuk pergi dari sana.
Niat hati ingin menghabiskan waktu dimension bersama dengan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang lain, akhirnya gagal total. dan pada akhirnya, Zidane memutuskan untuk kembali menemui sang istri.
****
Di sepanjang perjalanan, laki-laki berwajah manis itu tak henti-hentinya mengumpat karena merasa sangat kesal dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh keluarga besarnya itu.
"dasar menyebalkan! sudah bau tanah pun, masih saja mencoba untuk mengatur hidupku dengan aturan-aturan konyol itu." gerutunya Seraya mendengus kesal.
__ADS_1