Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 230


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu, pada akhirnya bocah kecil berusia 2 tahun itu pun terlelap. dan Hal itu membuat Asmirandah yang melihatnya, tak kuasa jika tidak menitihkan air mata.


"doakan mama ya sayang. semoga, mama bisa keluar dari masalah ini dan bisa berhubungan lagi tanpa harus bersusah payah seperti ini."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah segera membenamkan bibirnya tepat di kepala bocah mungil itu.


Kemudian karena merasa kelelahan, pada akhirnya Asmirandah pun juga ikut terlelap di dalam mobil itu. yang memang sudah didesain sedemikian rupa agar bisa membuat Haidar nyaman.


****


Sementara itu di dalam restoran itu, terlihat Opa Galang yang baru saja muncul dengan sesekali menggerutu kesal.


"kamu kenapa Pak?"tanya Oma Keisha menatap ke arah suaminya itu dengan raut wajah heran.


"itu tadi aku bertabrakan dengan seorang anak kecil yang jalannya tidak pakai mata. mana dia nabrak aku kenceng banget lagi. pakaianku kan Jadi kotor semua."ucap laki-laki tua itu masih dengan menggerutu kesal.


Sementara Zidane, diam-diam laki-laki berwajah manis itu seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat karena tidak terima dengan penghinaan yang dilontarkan oleh kedua manusia sepuh yang ada di hadapannya itu.


Jika tidak ingat tata krama dan juga peraturan di rumah itu, mungkin Zidan sudah mengajak laki-laki tua yang ada di hadapannya saat ini untuk berkelahi. Sayangnya, dia masih memikirkan resiko-resiko yang akan ia dapatkan nantinya. pada akhirnya yang dapat dilakukan oleh Zidane hanyalah berdiam diri untuk menahan amarah yang semakin lama semakin membumbung tinggi.


krett... brakkk...


Dengan langkah tergesa-gesa dan juga disengaja, laki-laki berwajah manis itu segera bangkit dari tempat duduknya kemudian menggebrak pelan meja yang ada di hadapannya itu. membuat Oma Keisha dan juga Opa Galang, seketika tersentak kaget.


"Zidan kau ini apaan?"tanya Oma Keisha dengan tatapan yang begitu tajam menatap ke arah laki-laki berwajah manis itu.


Zidane dampak menghirup udara beberapa kali. sebelum pada akhirnya, laki-laki itu memasang wajah senyuman dan perasaan bersalah di hadapan dua manusia itu.


"Maaf Oma, Opa, Zidane terburu-buru. karena sepertinya, tadi Tiara sudah menghubungi. katanya dia sudah lapar."ucap laki-laki itu beralasan.


membuat Oma Keisha dan juga Opa Galang yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala kemudian mereka segera memerintahkan Zidane untuk segera pergi agar tidak menimbulkan amarah pada wanita berambut panjang sampai pinggir itu.


"oh ya Zidane,"panggil wanita tua itu pada cucunya.

__ADS_1


Membuat laki-laki berwajah manis ketika menghentikan langkahnya. kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah dua sepuh itu dengan wajah tenang.


"sepertinya Oma dan juga Opa akan sedikit lambat. karena kami masih ada urusan."ucap wanita tua itu pada cucunya.


Membuat Zidan yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala. kemudian dengan segera kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari bangunan mewah itu. sepertinya dua manusia rentak itu tidak menyadari keanehan. karena mungkin sangking fokusnya dalam berbincang-bincang. entah apa yang mereka bicarakan hingga mengalahkan fokusnya itu.


****


"huh, dasar menyebalkan! berani beraninya laki-laki tua itu menjelek-jelekkan Putraku!" gerutunya seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.


Kedua bola mata dari laki-laki itu, seketika membulat sempurna saat dia menyadari sesuatu. saat laki-laki itu menoleh ke arah belakang, ternyata memang benar penglihatannya itu.


Kedua sudut bibir dari laki-laki itu seketika tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman kecil saat melihat pemandangan begitu menyejukkan mata yang ada di hadapannya ini.


"mereka benar-benar pasangan ibu dan anak yang begitu harmonis."gumamnya Seraya tersenyum manis.


'andai saja Jordan tidak mengacaukan akan hal itu, mungkin saja kita masih menjadi keluarga yang harmonis dan juga bahagia."laki-laki itu bergumam pelan.


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh mereka bertiga telah sampai di kediaman itu. dan Sesampainya di sana, Zidane segera menggendong tubuh milik Haidar dan membawanya masuk ke dalam kamar yang memang telah disediakan oleh para pekerja itu.


Sementara Asmirandah sendiri, dengan terpaksa digendong oleh Zidane dan dibaringkan di samping Haidar. membuat Ajeng yang melihat itu, seketika menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman karena melihat interaksi yang begitu mengharukan di hadapannya saat ini.


"Mami hanya bisa berdoa kalian bisa kembali menjadi keluarga yang harmonis. entah itu kapan terjadinya. yang jelas, Mami akan mendoakan hal itu." gumam Ajeng Seraya menitihkan air mata.


****


Sementara itu Zidane segera membaringkan tubuh milik Asmirandah di atas kasur bersama dengan Haidar dengan hati-hati.


"andai saja kita bisa bersama seperti ini, pasti aku merasa sangat bahagia."ucapnya Seraya menundukkan kepala. tak terasa, bulir bening mengalir dengan tanpa henti.


Setelah puas meratapi nasibnya, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk segera pergi dari sana. karena bisa-bisa, artinya kembali hancur.

__ADS_1


"sabar Zidane. semua akan indah pada waktunya."ucap Ajeng Seraya memeluk tubuh putranya itu dengan sangat erat.


Perlahan tapi pasti, laki-laki itu menangis dengan begitu kencangnya dalam pelukan sang ibu. dan Hal itu membuat Ajeng juga menitihkan air mata.


****


"apakah kamu sudah merasa tenang sekarang?"tanya wanita paruh bayi itu pada putranya. saat ini, mereka tengah berada di halaman belakang dan telah berbincang-bincang.


Zidane yang mendengar pertanyaan dari ibunya itu, seketika menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.


"kapan kamu akan membawa Haidar kembali ke negara persembunyian kalian?"tiba-tiba saja Ajeng bertanya seperti itu. setelah sebelumnya, keduanya berdiam diri cukup lama.


"aku sekarang lagi bingung Mam."sahutnya dengan nada suara yang begitu lesu.


"bingung kenapa?"tanya wanita itu dengan raut wajah penasaran.


"tadi waktu di mall aku bertemu dengan Oma Keisha dan juga Opa Galang."ucapnya Seraya membuang nafas kasar.


Kedua bola mata milik wanita paruh baya itu seketika membulatkan sempurna. wajahnya seperti panik luar biasa.


"apakah mereka mengetahui tentang rahasiamu?"tanya Ajeng dengan raut wajah yang begitu khawatir.


Zidan seketika menggelengkan kepalanya."beruntungnya mereka tidak mengetahui dan juga tidak menyadari."jawabnya dengan tenang.


"huh syukurlah kalau begitu."ucapnya Seraya membuang nafas lega.


"tapi aku menjadi sangat bingung sekarang ini Mam."lanjut laki-laki itu Seraya menatap ke arah Ajeng mencoba untuk meminta pendapat wanita paruh baya itu.


"apa yang membuatmu bingung?"tanya Ajeng dengan raut wajah bertanya-tanya.


Zidane tampak menghela nafas beberapa kali. Sepertinya laki-laki itu merasa begitu berat saat mulutnya ingin membuka suara dan mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"apakah aku harus membiarkan Haidar berada di sini atau aku langsung membawanya pulang ke sana? karena di satu sisi, Haidar merasa sangat bahagia saat bertemu dengan Asmirandah. namun di sisi lain, Jika dia berada di sini terus, akan semakin beresiko."ucapnya penuh dengan frustasi.


__ADS_2