
Saat ini Asmirandah tengah berjalan-jalan bersama dengan para pelayan dan juga para bodyguard-nya. mereka dibebas tugaskan hari ini hanya untuk mengawal dan mengawasi Asmirandah ke manapun Wanita itu pergi.
Asmirandah sempat merasa terpana saat mendapatkan perlakuan itu. karena dirinya tak seperti seorang orang yang begitu penting yang harus dijaga keselamatannya. namun setelah beberapa saat kemudian, wanita itu menundukkan kepala.
Karena memang Asmirandah sadar jika Jordan melakukan hal ini, karena takut jika dirinya melarikan diri.
"memang sepertinya, aku akan selamanya tinggal bersama dengan laki-laki kejam itu."gumamnya dengan nada suara yang begitu lirih dan tidak dapat didengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.
Sementara para pekerja yang ikut bersama dengan Asmirandah, tetap mengawasi Wanita itu dalam diam dan sesekali akan mengirimkan kabar kepada Jordan sesuai dengan apa yang diminta oleh laki-laki itu.
"Nyonya Mau jalan-jalan ke mana?"tanya salah satu pelayan yang berdiri di belakang Asmirandah.
Membuat wanita hamil itu, seketika menoleh ke arah sumber suara dan terdiam untuk beberapa detik.
"aku mau ke pantai. apakah boleh?"tanya wanita itu dengan wajah berbinar.
"sebentar saya hubungi Tuan dulu."sahut salah satu pengawal Seraya menjauh dari para orang-orang itu.
Asmirandah hanya terdiam. karena sebenarnya wanita itu tengah memikirkan cara untuk melarikan diri dari laki-laki monster itu. namun Sepertinya, hal itu tidak bisa dilakukan untuk saat ini. pada akhirnya, wanita itu hanya menuruti alur saja.
Tak lama berselang laki-laki yang mengenakan seragam berwarna hitam itu, kembali dengan wajah datarnya. membuat Asmirandah yang melihatnya sedikit merasa takut. kalau-kalau, mereka tidak diberi izin untuk pergi ke pantai. sedangkan keinginan dari wanita itu, sudah sangat menggebu-gebu dan juga membumbung tinggi.
"apakah boleh?"tanya Asmirandah dengan ekspresi wajah takut-takut. Tak Ada jawaban dari pengawal itu, membuat Asmirandah yang melihatnya, seketika merasa begitu lemas dan murung.
"Ya sudahlah kalau begitu. aku masuk kamar dulu."setelah mengatakannya, Asmirandah segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar pribadi.
Meninggalkan para pelayan yang masih mematung di tempat mereka.
"tuhan menyuruh kita untuk menahan Nyonya agar tidak pergi seorang diri. setelah urusan dari Tuan selesai, maka dirinya akan langsung pulang."jelas pengawal itu pada para pekerja yang lain.
Mereka semua pada akhirnya membubarkan diri dan melaksanakan pekerjaan masing-masing dengan begitu patuh.
****
__ADS_1
"kamu mau ke mana lagi Zidane?"tanya Oma Keisha Seraya berkacak pinggang menatap tajam ke arah cucu laki-lakinya itu.
Membuat laki-laki berwajah manis itu, seketika menghela nafas panjang.
"aku mau pergi sebentar rasanya sangat malas berada di sini."jawab laki-laki itu terus terang. tentu saja hal itu membuat Oma Keisha yang mendengarnya, seketika murka.
"maksud kamu apa bilang seperti itu? secara tidak langsung, kamu mengatakan bahwa Oma ini berisik?"tanya wanita itu garang.
"sudahlah Bu, mungkin saja Zidan benar-benar butuh untuk menenangkan dirinya sejenak. apa salahnya jika pergi sebentar saja."bela Ajeng.
"bukankah kamu baru saja pulang ke rumah ini kemarin? lalu kenapa harus pergi lagi?"tanya wanita sepuh itu menatap cucunya dengan tatapan tidak percaya.
"karena aku jenuh. apalagi?"sahut laki-laki itu enteng. dan tanpa memikirkan apapun, Zidane segera pergi dari sana.
Seketika itu pula, suara teriakan dari wanita sepuh itu menggelegar memenuhi ruang tamu rumah mewah itu. namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Zidane.
Laki-laki berwajah manis itu tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat di mana mobilnya berada. dan setelahnya, mulai melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di tempat tujuan.
Tak berselang lama dari itu, Zidane telah sampai di depan kediamannya. dan dengan segera, mulai bermain dan bercengkrama dengan Putra kesayangannya itu.
"halo Haidar sayang, Ayah datang."ucapnya Seraya merentangkan kedua tangan. saat mendapati, bocah yang baru saja lancar berjalan itu dan langsung memeluknya dengan sangat erat.
"kangen sama Ayah, hmm?"tanya laki-laki berwajah manis itu Seraya tersenyum tipis dan langsung menciumi wajah menggemaskan milik putranya itu.
Sungguh saat ini Zidane benar-benar merasa bahagia dan sedikit merasa terobati dengan kehadiran dan juga tingkah lucu dari Putra kecilnya itu.
Disaat Zidane tengah bermain dengan Putra kecilnya itu di taman belakang rumahnya, seseorang datang dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri laki-laki itu.
"ada apa?"tanya Zidan Seraya menatap datar ke arah beberapa pengawal yang saat ini tengah berada tepat di hadapannya itu.
Dengan segera, laki-laki yang memakai seragam berwarna hitam itu, segera membisikkan sesuatu hal pada sang tuan.
Seketika itu pula kedua bola mata dari Zidane membulat dengan sempurna."kenapa aku tidak memikirkan ini terlebih dahulu sebelum bertindak? dasar bodoh!" rutuknya dalam hati.
__ADS_1
"sekarang di mana dia?"tanya laki-laki berwajah manis itu dengan segera mengeraskan rahangnya.
"sudah berada Di ruang rahasia."balas para pengawal itu Seraya membungkuk hormat.
Zidane dengan segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri para pengawal yang ditugaskan untuk buntuti dirinya itu.
"jangan salahkan aku, jika aku akan menjadi orang jahat setelah ini. karena kalian, yang memulainya."setelahnya, laki-laki itu segera berjalan untuk menuju ke ruang rahasia.
"kalian tunggu di sini."perintah laki-laki itu dengan nada suara yang begitu tegas.
" baik Tuan."ucap mereka serempak Seraya membungkuk hormat.
Mereka semua memejamkan mata. saat Indra pendengarannya, menangkap sebuah suara yang begitu gaduh di dalam sana. dan tak lama berselang, terdengar suara jeritan yang begitu menggema dari orang-orang itu.
"kalian bisa membakarnya sekarang!"ucap laki-laki berwajah manis itu suara yang melemparkan pakaiannya yang telah berumur darah.
Zidane kembali menghampiri putranya dan bermain di sana. laki-laki itu bersikap tidak ada kejadian apa-apa.
"kalian tidak akan bisa membuka rahasiaku."ucap laki-laki itu Sarah yang tersenyum sinis di tengah-tengah aksi bermainnya bersama dengan Sang putra.
****
"kenapa mereka lama sekali?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah panik. karena orang-orang yang diperintahkan untuk mengawasi Zidan itu, adalah orang-orang yang telah profesional dan mereka akan tepat waktu untuk mengabari apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.
Akan tetapi sampai sekarang, wanita tua itu belum mendapatkan informasi apapun. membuatnya sedikit merasa gelisah.
"jangan-jangan mereka gagal?"tanya wanita rendah itu pada dirinya sendiri.
"mereka adalah orang-orang profesional. tidak akan pernah ada kata gagal di kamus mereka."lanjutnya mencoba untuk tenang.
gaslah ya, mampir. masak ngak mau
__ADS_1