
Setelah mendapatkan informasi dari salah satu pelayan yang bekerja di kediaman keluarga Prakoso, Zidane memutuskan untuk segera menuju ke tempat di mana mereka berada saat ini. namun sebelumnya, laki-laki yang memiliki wajah manis itu sempat meminta salah seorang perawat untuk menjaga kondisi dari ketika manusia yang berarti dalam hidupnya itu.
"baik Tuan kami akan menjaga mereka dengan baik."setelah mendengar penuturan dari para perawat itu, Zidan segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah parkiran Di mana mobilnya berada.
Namun tak lama berselang, langkahnya kembali terhenti saat mengingat sesuatu. "kenapa aku menjadi bodoh seperti ini?"tanya laki-laki itu merutuki dirinya sendiri. kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah sakit.
"Apakah kalian Ada yang ingin ikut denganku?"Zidane menatap ke arah para pekerja yang tengah tertunduk lesu menjaga orang-orang terpenting dari laki-laki itu.
Mereka bertiga yang merupakan babysitter terhandal di negara Flores, segera melakukan kepalanya dengan mantap. walaupun mereka bertiga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tuan mereka itu. tapi ketiganya merasa, akan mendapatkan tugas mulia.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Zidane, laki-laki itu segera melajukan kendaraannya untuk menuju ke tempat tujuan.
Walaupun sudah menggunakan penerbangan pribadi, tetap saja mereka membutuhkan waktu hampir 15 jam untuk sampai di negara tempat asal Zidane berada. dan setelah semuanya selesai, laki-laki itu segera menuju ke tempat di mana kediaman keluarganya berada.
Terlihat pemandangan yang begitu memilukan saat tubuh dari laki-laki itu baru saja sampai di depan rumah. sementara para pengasuh bayi yang memang telah dibawa oleh Zidane, langsung diperintahkan untuk menuju ke kediaman belakang di mana biasanya para pekerja itu berada.
setelah orang-orang itu pergi, Zidan segera melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah yang sudah penuh dengan cipratan darah. tentu saja hal itu terjadi. karena baru saja laki-laki itu membuka pintu utama rumah itu, dua bola matanya segera membulat dengan sempurna saat kedua matanya menangkap beberapa mayat yang bergelimpangan dan berserakan seperti sampah.
Kemudian dengan langkah gontai dan juga gemetaran, Zidane mengayunkan kakinya untuk mendekati tiga orang yang sangat ia kenali. siapa lagi orangnya Oma Keisha, Opa Galang, dan juga Rafael. tanpa sadar air mata dari laki-laki itu pun menetes dengan begitu hebatnya. saat menyaksikan kejadian pilu.
"kau benar-benar biadab Jordan!"seru laki-laki itu Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Walaupun Zidane juga merasakan hal yang sama karena menyaksikan orang-orang yang ia sayangi disakiti oleh Oma Keisha dengan sedemikian rupa, namun laki-laki itu tidak berpikiran sampai sejauh yang dilakukan oleh Jordan. karena Zidan masih berharap, bahwa orang-orang yang telah jahat terhadap keluarganya akan dapat bertobat. Namun ternyata, Semuanya sudah terlambat.
__ADS_1
Dengan cepat, Zidane mencoba untuk mengambil ponselnya. mencoba untuk menguraikan informasi di mana Jordan berada. betulan saat ini, polisi belum ada yang datang ke rumah mereka. karena para pekerja itu, belum ada yang memberikan informasi pada pihak berwajib. mereka masih sangat syok dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Kedua bola matanya, membulat dengan sempurna. saat baru saja membuka ponsel dan menemukan sebuah artikel yang terpampang jelas di ponsel pintarnya itu.
"a ..apa ini benar-benar terjadi?"tanya laki-laki itu dengan tatapan mata yang sangat kosong.
Walaupun dirinya merasakan kesakitan yang luar biasa akibat perilaku yang ditunjukkan oleh Jordan, namun tetap saja laki-laki berwajah manis itu sangat menyayangi adik sepupunya itu.
Tubuhnya seketika luruh ke lantai dengan kedua lutut yang ditekuk dan menyembunyikan wajah yang penuh dengan air mata itu.
"ke... kenapa ini semua bisa terjadi?"tanya laki-laki itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya disertai dengan tangisan yang begitu memilukan dan menyayat hati.
"Tuan, Apakah anda baik-baik saja?"tanya salah seorang pelayan mencoba untuk menepuk bahu milik Zidane yang masih tertunduk lemas.
Membuat laki-laki berwajah manis itu, seketika menoleh dan menatap ke arah mereka semua secara bergantian.
Serempak, mereka semua menundukkan kepala. karena memang, mereka belum melakukan yang dikatakan oleh Zidan itu.
"ka...kami takut akan dijadikan tersangka, tuan. maka dari itu, kami belum ada yang berani untuk menghubungi mereka. maafkan kami."ucap salah satu dari mereka penuh dengan penyesalan.
"sudah lebih baik kalian tunggu saja di mobil! masalah ini, biar aku saja yang menanganinya."setelah mengatakan hal itu, Zidan segera masuk ke dalam ruangan.
***
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya para penegak hukum itu datang dan langsung melakukan serangkaian kegiatan untuk mengamankan rumah itu.
"saya membawa CCTV Pak. siapa tahu saja, kalian semua memerlukannya."setelah mengatakan itu, Zidan segera menyerahkan ponselnya yang memang sudah terekam semua kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang itu sebelum kejadian naas itu terjadi.
"terima kasih."setelahnya, para polisi itu segera melakukan kegiatannya kembali. sementara Zidane dan juga yang lain, memutuskan untuk kembali ke negara terdahulu.
****
Sementara itu di negara Flores, terlihat seorang wanita yang baru saja membuka matanya secara perlahan. Asmirandah seketika, langsung menetap ke arah sekeliling. saat ingatan dari Wanita itu benar-benar telah pulih dengan sempurna.
"di .. dimana Anakku?!"tanya wanita itu dengan ada yang begitu histeris.
Tak lama berselang, salah satu dari perawat itu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati Asmirandah yang tampak histeris.
"tenangkan diri Anda nyonya. semuanya baik-baik saja putra anda berada di sebelah ruangan nyonya." perawat itu mencoba untuk menenangkan Asmirandah yang tampak tak terkendali itu.
Setelah mendengar penuturannya, Asmirandah sedikit merasa lega. "a.. apakah aku bisa melihatnya?"tanya wanita itu dengan nada suara terbata-bata.
Perawat itu, segera menganggukkan kepala. kemudian berjalan dengan perlahan untuk menarik tirai yang menjadi penutup di antara ruangan mereka itu.
Sreekkk
Kedua bola mata milik Asmirandah, seketika luruh saat melihat pemandangan itu. "ma... maafkan Mama, sayang. Mama tidak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu. tapi Mama janji, mulai saat ini Mama akan menjaga kamu dengan sebaik-baiknya dan tidak akan pernah membiarkan, mereka kembali menyakitimu."ucapnya dengan deraian air mata yang membasahi pipi.
__ADS_1
"lalu bagaimana dengan keadaan--"sejenak Asmirandah menghentikan ucapannya. Karena Wanita itu benar-benar sangat kebingungan saat ini. Gimana cara memanggil wanita paruh baya itu.
"mertua anda ada di seberang sana, Nyonya."tunjuk perawat itu Seraya membuka tirai yang lain.