Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 114


__ADS_3

Tak terasa, Ajeng bermain dengan Haidar, ponsel wanita paruh baya itu seketika berdering. dan tak lama bersenang, tertera nama sang suami di layar ponsel itu.


Dengan segera wanita paruh baya itu mengangkatnya. hendak mengatakan bahwa dirinya berada di kediaman Zidane dan bermain dengan Haidar. namun hal itu urung dilakukan saat mendengar penuturan dari Zidane.


"Mami jangan pernah mengatakan jika ada di sini. karena aku, tidak yakin Papi bisa menerima semua ini."ucapnya penuh dengan nada permohonan.


Ajeng yang mendengar itu, sejenak terdiam. hingga beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu menganggukkan kepala.


"halo Pi ? ada apa?"tanya wanita paruh baya itu dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. karena wanita paruh baya itu tidak pernah melakukan aksi pembohongan sebelumnya dengan sang suami.


("halo Mami, Mami ada di mana?")


"emmm Mami ada di mall sedang belanja."jawab wanita paruh baya itu Seraya menggigit bibir bawahnya. pada akhirnya Ajeng mengatakan sebuah alasan yang menurutnya, sangat logis bagi seorang perempuan. yaitu, berbelanja.


("apa mau kopi susul?")


"tidak usah! ini sebentar lagi, Mami juga akan pulang."ucap wanita itu dengan cepat.


("oh ya sudah kalau begitu. oh iya, dimana Zidan apakah dia bersamamu?")


"me.. memangnya kenapa?"wanita itu lagi dengan tubuh semakin menggigil. karena ini adalah kali pertamanya dirinya melakukan aksi berbohong itu.


("tidak ada apa-apa. dia hanya dicari oleh istrinya.")

__ADS_1


"oh ya sudah kalau begitu kami akan segera pulang."setelah mengatakan hal itu, Ajeng segera menutup panggilan telepon itu. dan dengan segera, wanita paruh baya itu menatap ke arah putranya yang saat ini juga tengah menatapnya dengan menggendong Haidar dalam pelukannya.


"kita harus segera pulang."ucap wanita paruh baya itu pada akhirnya setelah mereka tenggelam dalam keheningan satu sama lain.


"tidak mau aku ingin di sini saja. lagi pula, aku ingin bersama dengan anakku!"ucapnya menolak mentah-mentah permintaan dari wanita paruh baya itu.


Ajeng yang mendengar itu, seketika menghirup udara sebanyak mungkin. sebelum akhirnya, menghembuskannya secara perlahan.


"dengar Mami sayang."kedua tangan wanita paruh baya itu segera menyentuh pundak Zidane. menatap manik tegas milik laki-laki hitam manis itu.


"sekarang kita pulang dulu. nanti, Mami akan coba untuk mencari cara agar kamu bisa terlepas dari aturan yang dibangun dalam keluarga Prakoso. yang terpenting saat ini, kamu harus ikut Mami pulang. agar semuanya, bisa berjalan dengan lancar."ucapnya mencoba untuk memberikan pengertian.


"tapi Mi, aku masih merindukan Haidar. karena sudah beberapa hari ini, aku tidak bermain dengan putraku."ucapnya mencoba untuk membujuk wanita paruh baya itu agar diberikan izin untuk menginap di rumahnya.


"tolonglah sabar sebentar. nanti kalau ada waktu yang tepat, kau bisa bermain dengan putramu ini." Ajeng sampai harus menitihkan air mata. karena wanita paruh baya itu, juga merasa tidak tega jika harus memisahkan antara orang tua dan juga anak.


Dan pada akhirnya setelah mempertimbangkan secara matang-matang, Zidane menuruti permintaan dari sang Mami. karena laki-laki itu juga masih sedikit merasa was-was dengan keselamatan putranya. apalagi saat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


Tiara : kamu sekarang ada di mana Kak? kalau dalam beberapa waktu ke depan kakak tidak kunjung pulang, jangan salahkan aku jika aku akan membongkar semuanya pada Oma Keisha dan juga Opa Galang.


Zidane yang membaca pesan itu, seketika membuang nafasnya kasar. dan Hal itu membuat Ajeng yang berada tepat di sampingnya, seketika menoleh.


"ada apa?"tanya wanita paruh baya itu dengan pandangan mata sesekali berlari untuk menatap ke arah sang Cucu.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan dari Sang Mami, laki-laki manis itu segera mengangkat ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan yang berada di dalamnya.


"apakah Tiara mengetahui semuanya?"tanya wanita itu setelah selesai membaca pesan singkat di ponsel putranya.


"tentu saja. Bahkan sebelumnya Tiara juga merupakan tim sukses yang mendukung penuh atas pernikahanku dan juga Asmirandah. tapi, hanya karena sebuah kesalahpahaman, Semua menjadi berbalik seperti ini."perlahan tapi pasti, laki-laki berwajah manis itu segera menceritakan awal mula hingga Tiara berubah haluan dan menjadi orang jahat diantara hubungan mereka itu.


"kalau begitu, kau harus cepat untuk mencari keberadaan Asmirandah. dan juga, Mami akan mencoba mengatakan hal ini pada kedua orang tua Jordan."ucap wanita itu setelahnya.


Dan hal itu sukses membuat Zidane yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepalanya.


"jangan Mi. Zidane tidak mau kalau keluarga kita menjadi berantakan seperti ini. Lagi pula, Ini masalah Antara aku dan juga Jordan. biar hal ini, menjadi urusan kita berdua." Cegahnya seraya menyentuh pergelangan tangan dari wanita paruh baya itu.


"apa maksudmu Zidane? kau tidak ingin mendapatkan bantuan dari Mami? apakah kau masih meragukan jika Mami akan membantumu?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah merah padam karena menahan kesal.


"bukan begitu. aku hanya ingin, masalah ini hanya diketahui oleh kami berdua. supaya nanti jika ada sesuatu yang terjadi di antara kita, tidak melebar sampai kepada orang tua. Karena bagaimanapun juga, kita semua itu masih keluarga."ucapnya mencoba untuk menerangkan dan menenangkan sang ibu.


Ajeng yang mendengar penuturan dan ekspresi wajah dari putranya itu, seketika tersenyum simpul."Mami bangga atas kamu sayang. teruslah menjadi orang baik apapun keadaannya."setelahnya Mereka benar-benar pergi dari sana.


Zidane kembali memperingatkan kepada para pekerja di rumah itu untuk selalu berhati-hati dan menjaga Haidar dengan baik. karena laki-laki itu tidak akan pernah memberikan ampun Jika sesuatu sedikit mengenai tubuh mungil anaknya. Ajeng juga memberikan sebuah ultimatum kepada semua pekerja di rumah putranya itu.


"jangan pernah biarkan cucuku tergores sedikitpun. atau kalau tidak, nyawa kalian beserta keluarga kalian yang akan menjadi gantinya!" ucap Ajeng penuh dengan ancaman. membuat orang-orang yang ada di rumah itu, seketika menganggukkan kepala dengan tubuh sedikit bergetar hebat.


"di rumah ini, semua di lengkapi dengan alat penyadap suara dan juga CCTV. jadi Jika kalian ingin berbuat aneh-aneh tolong pertimbangkan semuanya dengan matang. karena saya, tidak akan pernah main-main dengan ucapan yang sudah saya keluarkan!"lanjut Ajeng Seraya menunjuk ke arah orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


"baik nyonya!"ucap mereka semua Seraya menunduk hormat. Zidane segera mengalihkan pandangannya kepada Putra tercinta. dan setelah beberapa saat memandangi wajah damai bayi mungil itu, Zidane segera menyerahkan kepada pengasuhnya.


pasangan ibu dan anak itu segera pergi dari sana untuk menuju ke kediaman, Oma dan juga Opa Galang.


__ADS_2