
Mentari pagi menyembul dengan sempurna di ufuk timur. membuat seisi bumi tampak ceria oleh kehadiran sang surya. seperti wajah seorang laki-laki yang sejak tadi tersenyum bahagia karena memandangi wanitanya yang masih terlelap di atas tempat tidur.
tok tok tok
Atensi laki-laki itu seketika teralihkan saat mendengar suara ketukan pintu dari depan kamar. dan dengan langkah lebar laki-laki yang tak lain adalah Zidan itu, membukakan pintu dan mendapati seseorang berdiri tepat di hadapannya.
"ada apa?"tanya Zidane dengan raut wajah datar.
"semua persiapan telah siap Tuan."
"baik kalau begitu Kau bisa tunggu di luar. jangan lupa, panggilkan perias dan juga desain gaun terbaik dari kota ini."ucap Zidane Seraya melangkah masuk ke dalam kamar kembali.
"baik."
Perlahan tapi pasti, Zidane mulai merangkak menaiki ranjang di mana Asmirandah berada. saat ini, laki-laki berwajah hitam manis itu seperti seorang penjahat yang baru saja menculik dan menyembunyikan anak gadis orang. Tentu saja itu terpaksa dilakukan oleh Zidane. karena laki-laki itu tahu, tidak mudah untuk membuat keputusan dari orang tua dan juga keluarga besarnya berubah.
"maafkan aku Asmirandah. aku terpaksa melakukan hal ini."ucap laki-laki itu Seraya membenamkan bibirnya tepat di kening sang kekasih.
Tak berselang lama, terlihat wanita itu menggeliat. dan tak berselang lama juga, mata dari Asmirandah mengerjap perlahan. tentu saja hal itu membuat Zidane buru-buru menjauh dari tempatnya saat ini. laki-laki itu takut, ke Asmirandah akan histeris saat mendapati keadaannya saat ini.
Kening laki-laki itu seketika mengerut. saat tidak ada reaksi apapun dari wanita yang sangat ia cintai itu. hingga beberapa saat kemudian, kedua sudut bibirnya seketika terangkat membentuk sebuah senyuman.
"kenapa aku bisa melupakan hal ini?"tanya Zidane pada dirinya sendiri.
"halo Sayang, bagaimana keadaanmu?"tanya Zidan dengan suara yang sangat lembut.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah laki-laki berwajah manis itu dengan senyuman yang terpatri di bibir indahnya.
__ADS_1
"Abang, kita mau apa di sini?"tanya Asmirandah dengan raut wajah cerianya.
Sesaat pemandangan di hadapannya saat ini, membuat Zidane sedikit terperangah. namun tak lama berselang, laki-laki itu pun menyunggingkan senyuman tipis. tangannya terulur mengusap kepala dari wanita yang sangat ia cintai itu dengan begitu lembutnya.
"kita akan menikah hari ini. sebaiknya, kamu membersihkan dirimu dulu."ucap laki-laki itu Seraya bangkit dari tempat tidur dan mulai menuntun calon istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Asmirandah yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan menuruti perintah dari laki-laki yang memang sangat ia cintai itu.
"yes ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Romi."ucap laki-laki itu dengan girangnya. senyumnya seketika merekah membayangkan hal-hal yang akan membuatnya bahagia.
Yap. beberapa hari yang lalu, Zidane memang meminta bantuan pada seseorang ilmuwan untuk membuat sebuah ramuan yang dapat membuat calon korbannya itu menurut perkataannya dan juga melupakan tentang ego di dalam dirinya. Zidane bahkan berani membayar mahal untuk mendapatkan ramuan itu. dan setelah melakukan berbagai cara, laki-laki berwajah manis itu akhirnya berhasil mendapatkan ramuan itu.
Dan tentunya, ramuan itu memang digunakan untuk sang kekasih. yang saat ini, tampak menuruti semua perkataannya.
Tak lama berselang, terdengar pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam. dan beberapa saat kemudian, Asmirandah keluar dari balik pintu menggunakan kimono. tentu saja hal itu membuat Zidane yang melihatnya, bersusah payah untuk menelan salivanya sendiri.
Namun apa mau dikata, laki-laki berwajah manis itu memang tidak bisa untuk kehilangan Asmirandah. Apalagi, memang sangat sulit untuk menaklukkan hati orang tua dan juga keluarga besar yang masih menganut aliran kuno itu.
"setelah kita menikah, aku akan berusaha untuk membujuk kedua orang tua dan juga keluarga besarku. dan aku berharap, kita akan mendapatkan restu dari mereka."ucap Zidane Seraya membelai wajah cantik milik sang kekasih itu.
Asmirandah yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum simpul. dalam hati Zidane, laki-laki itu benar benar memuji kemanjuran dari ramuan yang diberikan oleh sahabatnya itu.
Tak lama berselang, terdengar suara pintu yang diketuk dari arah luar. membuat keduanya seketika menoleh.
"itu perias pengantin dan juga penata gaun sudah datang."Zidane berujar raya melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar itu.
"buat calon istriku secantik mungkin."setelah mengatakan hal itu, Zidane segera keluar dari kamar untuk mempersiapkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju sebuah aula yang akan digunakan untuk acara pernikahan mereka. kedua sudut bibirnya, ketika terangkat saat melihat betapa cantiknya tempat itu.
"ini adalah impian Asmirandah. aku akan berusaha untuk membuat wanita yang aku cintai itu bahagia."setelahnya, Zidan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke sebuah ruangan untuk mempersiapkan dirinya menyambut hari bahagia itu.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat kegelisahan dari raut wajah kedua orang tua Asmirandah. karena mereka berdua, belum mendapati putri bungsu mereka berada di dalam rumah.
"ini Asmirandah ke mana ya?"tanya Chelsea dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"apa Bunda sudah menelpon Tiara?"tanya Aaron menghampiri sang istri yang masih termenung di tempatnya.
Chelsea yang mendengar penuturan dari suaminya itu, ketika menoleh. dan tak lama berselang, wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
"Tiara tidak aktif sepertinya gadis itu sedang ada urusan dengan keluarganya. Bunda juga tidak ingin membuat mereka direpotkan tentang masalah ini. bukankah papa tahu sendiri kalau Asmirandah memang telah kembali hari itu dari rumah Tiara? Bunda tidak ingin membebankan mereka."ucap Chelsea dengan lirih.
Tak berselang lama, terlihat Naomi yang baru saja keluar dari dalam kamar pribadinya. dan wanita itu sempat berhenti, saat melihat raut wajah murung dari kedua orang tuanya.
"Ada apa Bun, Pah?"tanya Naomi dengan raut wajah penasaran.
"adikmu belum pulang dari kemarin." jawab Chelsea sebenarnya.
Mendengar penuturan dari wanita paruh baya itu, membuat Naomi sejenak terdiam. dan tak lama berselang, wanita itu menatap ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.
"memangnya, kalian sudah bertanya pada Tiara?"tanya Naomi.
"sudah. dan kata Tiara, Asmirandah memang telah pergi dari rumahnya sore hari."kini giliran Aaron yang menjawab. membuat Naomi yang mendengar itu semakin merasa bingung dan juga seperti ada yang janggal dari hilangnya sang adik
__ADS_1