Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 157


__ADS_3

"tidak! aku tidak mau!"teriak Naomi histeris. dan sejak tadi wanita itu meronta-rontain melepaskan diri dari para tenaga medis yang berusaha untuk menenangkannya itu.


"tenanglah Naomi ini semua demi kebaikanmu!" sentak Jordan memegang kedua bahu wanita itu. hingga membuat si pemilik, seketika terdiam.


"aku nggak mau jadi cacat Jordan, aku nggak mau!" ucapnya dengan batin yang terluka.


Semua orang pasti tidak akan pernah rela Jika sesuatu yang berharga dalam dirinya harus terenggut begitu saja. termasuk juga dengan Naomi. mana mungkin wanita itu merelakan kakinya harus diamputasi karena terkena luka bakar yang sangat serius.


"terserah kalau kamu nggak mau melakukan tindakan itu. aku tidak akan pernah membantumu lagi aku pergi!"ucap Jordan dengan entengnya.


Tentunya Hal itu membuat Naomi yang mendengarnya, semakin histeris saja. wanita itu sesekali akan mengumpat ke arah Jordan yang semakin lama semakin menjauh itu.


Sementara Jordan sendiri, laki-laki itu sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh mantan partnernya itu. laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu, tetap melangkahkan kakinya untuk keluar dari area rumah sakit itu.


"kita kembali ke rumah!"titah laki-laki itu tetap menatap lurus ke depan.


"baik Tuan."jawab mereka semua serempak.


Mobil pun segera melaju meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke tempat persembunyian mereka.


****


"Nyonya, apakah anda tidak ingin makan?"tanya salah seorang pelayan mencoba untuk membujuk Asmirandah yang masih merajuk di dalam kamarnya itu.


"tidak aku tidak ingin makan aku hanya ingin keluar!"teriaknya dengan suara yang lantang.


Tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika menghela nafas panjang. karena mereka semua tidak ada yang bisa untuk melakukan suatu hal apapun tanpa persetujuan dari Jordan. atau jika tidak, maka mereka akan menanggung akibatnya yang begitu perih.


"sebentar lagi, Tuan Jordan akan datang. mungkin Anda bisa meminta izin pada Tuhan sendiri." ucap salah seorang pelayan mencoba untuk menenangkan wanita itu.


Membuat Asmirandah yang mendengarnya, seketika mendengus kesal. namun begitu wanita itu masih tetap menunggu Jordan untuk kembali. karena entah mengapa, Wanita itu sangat ingin sekali pergi ke pantai.


tin tin tin

__ADS_1


Asmirandah seketika tersentak saat mendengar suara klakson dari sebuah mobil yang berhenti tepat di halaman rumah itu. membuat wanita itu, refleks langsung berlari untuk menghampiri Jordan yang telah keluar dari dalam mobil.


"kenapa lari-lari seperti itu, hmm?"tanya laki-laki memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu Seraya menaik-turunkan alisnya.


"aku ingin ke pantai ayo kita ke pantai!"seru wanita itu dengan nada yang begitu antusias. membuat Jordan yang melihat itu sejenak terdiam. karena merasa tertegun dengan sikap dari wanita itu. tak berselang lama, kedua sudut bibir laki-laki itu terangkat membentuk sebuah senyuman.


"kalau begitu, ayo!"ucapnya Seraya menarik tangan wanita itu untuk kembali masuk ke dalam mobil.


"kita ke pantai yang dekat dari sini saja!"perintah laki-laki itu pada para pengawalnya. dan mereka, segera menuruti perkataan dari Tuannya itu.


****


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh mereka semua telah sampai di depan pantai yang ada di kota itu. dan dengan segera Asmirandah turun dengan begitu riangnya.


"tunggu dulu!"ucap laki-laki itu Seraya mencekal pergelangan tangan dari wanita yang tengah mengandung itu. hingga membuat si pemilik tangan, sedikit tersentak.


Namun demikian, Asmirandah menuruti permintaan dari laki-laki itu. karena hatinya terlanjur bahagia melihat ombak yang begitu indah di depan matanya saat ini.


Mereka berdua seketika berjalan bergandengan menyusuri pantai yang begitu indah itu. pantai yang mereka kunjungi saat ini benar-benar terasa tenang karena tidak ada orang yang menjamah tempat itu. sehingga, terasa begitu sejuk dan juga nyaman.


Asmirandah hanya menganggukkan kepala. karena keinginan yang diinginkan oleh wanita itu saat ini, hanyalah melihat pantai yang begitu menenangkan.


"mau minum kelapa muda atau tidak?"tanya Jordan menawarkan.


Asmirandah seketika mendongakkan kepalanya ke atas. wanita itu tersenyum melihat begitu banyak buah kelapa yang tumbuh di pohon itu.


"boleh aku mau dua."sahutnya tak sadar tersenyum begitu manis. membuat Jordan yang melihat itu sejenak terdiam karena merasa terpaku dengan kecantikan dan juga keindahan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"kau benar-benar cantik Asmirandah! Dan aku berjanji tidak akan pernah melepaskanmu apapun alasannya!"ucap laki-laki itu penuh dengan tekad.


****


"kenapa wajah Oma terlihat sangat tegang?"tanya Zidane dengan alis terangkat sebelah.

__ADS_1


"Ng .. nggak kenapa. kamu baru saja pulang?"tanya wanita sepuh itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dari Zidane.


Laki-laki berwajah manis itu hanya menganggukkan kepala. kemudian dengan segera memutuskan untuk kembali ke dalam kamar pribadinya.


"jangan Oma pikir aku tidak tahu. kalian tidak akan pernah aku biarkan untuk mengusik kehidupan putraku."setelah mengatakan hal itu, Zidane segera bangkit dari tempat tidur dan segera menghubungi seseorang.


("halo Bang, Ada apa?")


"Chandra, sekarang kamu ada di mana?"tanya laki-laki manis itu to the point.


("aku ada di rumah sakit namanya ada apa?")


Terdengar suara dari Chandra yang begitu kebingungan di seberang sana.


"apakah kamu tahu Jordan membawa Asmirandah ke mana?"tanya laki-laki berwajah manis itu pada teman adik sepupunya.


("saya tidak tahu Bang. Jordan setelah kejadian itu, langsung memblokir nomor saya.")


Zidane yang mendengar itu seketika menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya menghembuskannya secara perlahan.


"kamu mau ikut aku lagi atau tidak mencari keberadaan Asmirandah?"tanya Zidane Setelah lama terdiam dan juga berpikir.


("kapan itu?")


"kamu memiliki waktu luangnya kapan?"Zidane balik bertanya. karena laki-laki berwajah manis itu tahu bagaimana kesibukan dari seorang dokter. dirinya tidak ingin egois dengan mengorbankan pekerjaan dari Chandra.


"hari Senin dan juga Selasa sepertinya free."sahut laki-laki itu dari seberang sana.


"oke kalau begitu kita berangkat hari itu juga."setelah mengatakannya, Zidane segera memutus sambungan telepon itu.


Saking seriusnya laki-laki itu membahas tentang rencana untuk mencari keberadaan Asmirandah, Zidane sampai tidak sadar jika Ajeng sudah berdiri tepat di ambang pintu kamarnya.


"kamu menghubungi siapa?"tanya wanita itu dengan nada sedikit keras. membuat laki-laki itu seketika terlunjak kaget.

__ADS_1


"astaga Mami! kenapa ngagetin banget?!" gerutunya Seraya mengusap dadanya yang terasa berdenyut akibat rasa kagetnya itu.


Ajeng melangkahkan kakinya untuk mendekati Sang putra dan langsung duduk di samping laki-laki manis itu.


__ADS_2