Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 234


__ADS_3

Keesokan harinya, Asmirandah dan juga Ajeng memutuskan untuk bersiap-siap melaksanakan aktivitas mereka seperti kemarin lagi. yaitu mencampurkan obat tidur itu pada makanan orang-orang yang ada di sana. karena memang, hari ini semua orang berada di rumah tidak ada yang pergi bekerja.


Membuat kedua wanita itu sedikit merasa kerepotan. karena harus bertambah personil yang harus mereka tangani untuk memuluskan rencana mereka itu. terkadang Asmirandah memikirkan sesuatu. apakah yang ia lakukan ini jahat? tapi jika mengingat tentang semuanya, apa yang dilakukan oleh orang-orang itu jauh lebih jahat daripada apa yang dilakukan olehnya.


Lagi pula obat itu tidak memiliki efek apapun pada tubuh mereka nantinya. beda yang dilakukan oleh orang-orang itu pada Asmirandah. Efeknya sampai saat ini masih saja terasa. bahkan kehidupannya bisa berputar 180 derajat karena ulah dari mereka juga.


Jadi, untuk apa mengasihani mereka? itu tidaklah berguna. karena sampai saat ini pun mereka masih bahagia tidak ada yang perlu diwaspadai dan perlu disesali. tidak seperti dia yang sampai saat ini masih menyesali apa yang terjadi pada hidupnya.


"kenapa melamun aja?"tanya Ajeng yang sudah berdiri tepat di belakang wanita itu. membuat Asmirandah yang mendengar itu, sedikit terlunjak kaget.


"emm tidak apa-apa tante."ucap wanita itu Seraya mencoba untuk bersikap biasa saja dan membuang nafasnya kasar.


Sementara Ajeng, walaupun wanita paruh baya itu tidak melihat air mata yang mengalir dari wajah Asmirandah, tapi wanita paruh baya itu tahu jika mantan menantunya itu sedang tidak baik-baik saja.


"tenangkan dirimu dan selalulah berdoa agar ujian ini cepat berlalu dan kalian bisa cepat berkumpul lagi."ucap wanita paruh baya itu penuh dengan ketulusan yang luar biasa.


Asmirandah yang mendengar itu sempat tertegun sebentar mendengar kalimat yang dilontarkan oleh mantan Ibu mertuanya itu.


'siapa yang dimaksud tante Ajeng dengan 'kalian' ?'batin Asmirandah bertanya-tanya. Namun karena tidak ingin berpikir yang macam-macam yang berakibat kepalanya menjadi pusing, pada akhirnya Asmirandah menganggap ucapan dari Ajeng itu adalah angin lalu belaka.


Setelah semuanya siap, kedua wanita berbeda generasi itu segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu. di mana orang-orang saat ini tengah berkumpul dan sesekali bercanda tawa Seraya menggendong para bayi mungil itu.


"silakan semuanya makanannya sudah siap!"seru Ajeng dan juga Asmirandah secara bersamaan. hingga membuat orang-orang itu seketika saling tetap satu sama lain. dan tak lama berselang ikut tertawa dengan apa yang dilakukan oleh kedua wanita itu.


Oma Keisha yang tidak melihat keberadaan cucu laki-laki pertamanya itu, seketika menatap ke arah sekeliling.

__ADS_1


"oh ya di mana Zidane?"tanya wanita tua itu menatap ke arah anggota keluarganya yang lain.


Mereka semua yang mendengar itu seketika saling tatap satu sama lain. karena memang mereka tidak mengetahui di mana Zidane berada. yang tahu Semuanya hanyalah Ajeng dan juga Asmirandah. antara kedua wanita itu, hanya bisa terdiam Seraya saling tatap satu sama lain. dan setelah itu, kembali bersikap biasa saja. jangan sampai orang-orang itu mengetahui Di mana keberadaan Zidane. karena semuanya pasti akan langsung berantakan.


"apakah dia belum pulang dari kegiatan amal itu?"tanya Opa Galang entah pada siapa. karena mereka semua yang ada di sana juga tidak mengetahui Di mana keberadaan laki-laki berwajah manis itu.


Pada akhirnya mereka semua memutuskan untuk mengambil makanan dan minuman yang telah tersedia di hadapan mereka saat ini. sementara Asmirandah dan juga Ajeng, kedua wanita itu mencoba untuk bersikap biasa saja.


Walaupun dalam hati mereka berdua sedikit was-was karena mau menantikan momen Saat itu tiba.


"Yes!"seru mereka berdua secara bersamaan saat melihat semua orang yang ada di sana, seketika telah tepar dengan mulut menganga dan juga mata terkejam. itu berarti semua telah berjalan sesuai dengan rencana.


"memangnya kau memberikan berapa tetes pada makanan dan minuman itu?"tanya Ajeng Yang penasaran karena memang semua itu dilakukan oleh Asmirandah tanpa sepengetahuannya.


"hanya 8 tetes."ucap Asmirandah Seraya menundukkan kepala. Karena Wanita itu takut jika mantan Ibu mertuanya itu akan mengamuk saat mengetahui apa yang dia lakukan pada orang-orang itu.


Hal itu membuat Asmirandah yang mendengarnya sedikit tersentak.


"a... apakah tante tidak marah aku melakukan hal itu pada keluarga tante?"tanya Asmirandah nada suara terbata-bata dan juga alis mengerut karena sedikit bertanya.


Ajeng yang mendengar itu seketika menggelengkan kepalanya."tidak masalah! lagi pula, ini semua dilakukan demi kebaikanmu supaya kau bisa bertemu dengan Haidar."ucapnya Seraya tersenyum lembut. dan hal itu, juga dibalas oleh wanita paruh baya itu.


Setelah membereskan semuanya dan mengangkat tubuh orang-orang itu pada kamar masing-masing, mereka berdua segera mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah yang telah dijanjikan oleh Zidan itu.


"eh, tunggu sebentar."tiba-tiba saja, Ajeng menghentikan langkahnya membuat Asmirandah sedikit merasa kebingungan melihat tingkah laku dari wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"kenapa Tante? ada apa?"tanya Asmirandah dengan raut wajah bingung.


"kita melupakan sesuatu."sahutnya yang langsung pergi dari sana.


Sementara Asmirandah sendiri, wanita cantik itu hanya terdiam Seraya menatap bingung ke arah Ajeng yang semakin lama semakin menjauh darinya itu.


"melupakan apa?"tanya wanita itu kebingungan. namun dengan segera, melangkahkan kakinya untuk mengikuti langkah dari wanita paruh baya yang telah mendahuluinya itu.


*****


"mereka akan melakukan aksinya lagi nyonya."lapor Nanda pada Tiara.


membuat wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu seketika menatap tajam ke sembarang arah.


"beraninya mereka melakukan hal ini!"ucapnya Seraya mengeram kesal dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Sialan memang! karena teror dari suara sialan itu, membuat Tiara tidak jadi memberitahukan hal yang sempat ia alami pada Oma Keisha. sehingga mereka bisa melakukan hal itu lagi dengan leluasa.


"aku akan melawan mereka!"ucapnya dengan ekspresi wajah bersungut-sungut. dan tak lama berselang, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar diikuti oleh Nanda di belakangnya.


Set...


Cess...


Sesaat setelah mereka tiba di ambang pintu, Tiara dan juga Nanda merasakan tengkuknya seperti ditusuk oleh sesuatu yang begitu tajam. dan tak lama berselang, kedua bola mata dari manusia-manusia itu seperti berputar-putar. dan setelahnya berubah menjadi gelap.

__ADS_1


Nanda dan juga Tiara seketika pingsan di ambang pintu. Hal itu membuat Ajeng seketika menghela nafas lega.


__ADS_2