
Sahara yang keluar dari dalam kamarnya kedua sudut bibirnya yang terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu menawan.
"kenapa kau senyum-senyum seperti itu?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah heran.
"tidak apa-apa Bu. aku hanya baru saja berkabar dengan menantuku di sana."ucapnya tersenyum bangga.
Omah Keisha yang mendengar itu, seketika tersenyum simpul. wanita renta itu seketika langsung meminta nomor dari menantu Sahara untuk sesekali nanti akan berbincang-bincang.
Sementara Tiara dan yang lain yang melihatnya, merasa sedikit tertegun. terlebih lagi, Tiara sendiri. karena wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu tidak menyangka jika wanita Sepuh dedengkot keluarga dari Prakoso itu, akan langsung akrab dengan wanita yang sebenarnya dibenci oleh keluarga itu.
'aku tidak akan pernah merasa terima jika posisiku akan direbut oleh wanita itu. aku akan berusaha keras untuk membuka siapa Sheila sebenarnya.'ucap Tiara dalam hati Seraya menatap tajam lurus ke depan.
Sementara Ajeng sendiri, wanita paruh baya itu mati-matian ingin menahan bola agar tidak meledak. saat melihat tingkah laku dari sesepuh keluarga Prakoso itu.
"aku tidak akan pernah bisa membayangkan. jika mereka tahu, siapa wanita yang saat ini tengah dibicarakan dengan hangat itu."gumam Ajeng dengan nada suara yang begitu pelan.
Sehingga siapapun yang mendengarnya, tidak akan pernah mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu.
Tiba-tiba saja, Zidan berdiri. membuat orang-orang itu seketika merasa terkejut luar biasa. terutama, Oma Keisha sendiri. wanita renta itu langsung berdiri mengikuti gerakan dari cucu laki-laki pertamanya itu.
"kamu mau ke mana Zidane?"tanya Oma Keisha sudah menatapnya dengan tatapan penuh dengan selidik.
"aku hanya ingin ke kamar."jawab laki-laki itu Seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar pribadinya.
Ajeng yang melihat itu pun, merasa sedikit prihatin. karena wanita paruh baya itu tahu apa yang tengah dialami oleh putranya saat ini. dengan gerakan perlahan, Ajeng mulai meminta izin untuk masuk ke dalam kamar guna beristirahat.
ceklek
Zidan seketika menoleh ke arah sumber suara. saat pintu kamarnya, dibuka dari luar. laki-laki itu, segera membuang nafasnya kasar.
"Mami tahu apa yang kamu pikirkan sekarang."ucap wanita itu juga ikut mendudukkan dirinya tepat di samping Zidane.
__ADS_1
Sementara laki-laki yang memiliki wajah manis itu, hanya dapat menundukkan kepala. karena memang dirinya tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
"apakah aku bisa kembali bersama dengan wanita yang aku cintai suatu saat nanti?"tanya Zidan dengan nada suara yang begitu lirih dan juga menyentuh.
Ajeng yang mendengarnya, seketika menghela nafas panjang."Mami tidak tahu apa yang harus kami lakukan sayang maafkan Mami karena tidak bisa membantumu."ucapnya juga ikut bersedih.
"oh iya kamu bilang kamu ingin berbicara mengenai Elvio, emangnya ada apa dengan anak kecil itu?"untuk tidak membuat Zidan merasa sedih yang luar biasa, Ajeng memilih untuk membahas topik lain.
"aku menemukan dan melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Tiara memperlakukan bayi malang itu."ucapnya menerawang jauh entah ke mana.
"maksudnya bagaimana?"tanya Ajeng dengan raut wajah tidak mengerti.
Dengan perlahan tapi pasti, laki-laki yang memiliki wajah manis itu segera menceritakan semuanya pada ibundanya. dan hal itu sukses membuat Ajeng yang mendengarnya, seketika membulatkan kedua mata.
"apakah kamu yakin apa yang kamu lihat ini?"tanya wanita paruh baya itu merasa tidak percaya dengan pengakuan yang dilontarkan oleh sang Putra.
"aku yakin Mami aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. bahkan kami sempat saling berebut Elvio."ujarnya dengan nada suara bersungguh-sungguh.
"astaga!" pekik wanita itu dengan tatapan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Zidane seketika menggelengkan kepalanya. laki-laki berwajah manis itu mencegah agar ibunya tidak melakukan hal itu.
"jangan aku mohon jangan Mi!"ucapnya Sarah yang menggenggam tangan milik ibunya itu.
"kenapa memangnya?"tanya Ajeng dengan raut wajah bertanya-tanya.
"karena Tiara tahu di mana tempat persembunyian dari Putraku saat ini."ucapnya Seraya menunjukkan kepala.
Ajeng yang mendengarnya, seketika merasa lemas luar biasa. wanita paruh baya itu memutuskan untuk kembali terduduk di samping Zidane.
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? tidak mungkin bukan, kalau kita tetap membiarkan hal itu terjadi?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
Karena sama seperti Zidan, Ajeng memang tidak menyukai Tiara. tapi, untuk membiarkan bayi kecil itu disiksa begitu saja, itu merupakan salah satu contoh yang tidak baik.
"aku sudah memiliki ide yang lain untuk bisa membuka kebusukan wanita itu."sahut Zidane dengan mantap.
Ajeng yang mendengar itu seketika menatap para putranya dengan ekspresi wajah kaget.
"bagaimana memang, caranya?"tanya wanita itu dengan raut wajah penasaran.
Zidane dengan segera memberitahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. dan setelahnya, Ajeng menganggukkan kepala tersenyum simpul.
****
Sementara itu di kediamannya, Asmirandah tengah bercanda dengan Arabella. bayi berusia 3 bulan itu, terlihat benar-benar sangat menggemaskan kali ini. tak lama berselang dari itu, kedua sudut mata dari Asmirandah, seketika basah karena cairan bening yang tiba-tiba saja mengalir begitu saja.
Sementara Arabella sendiri, menampilkan wajah heran. mungkin saja dalam hati, bayi kecil itu pertanyaannya apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya sehingga menangis seperti itu.
"Mama tidak apa-apa kok Sayang."ucap Asmirandah Saraya tersenyum simpul dan kembali bermain bersama dengan gadis kecil itu.
Tak lama berselang dari itu, Jordan datang dengan membawa segelas susu dan juga satu piring biskuit khusus untuk ibu menyusui.
"ini aku bawakan kamu makanan kesukaan."ucap laki-laki itu seraya meletakkan makanan itu di atas nakas samping tempat tidur.
Asmirandah yang melihat itu, seketika menoleh dan tak lama berselang, wanita cantik itu pun menganggukkan kepalanya.
"terima kasih."setelah mengatakannya, wanita cantik itu segera menyantap makanan dengan begitulah. hingga membuat Jordan, seketika ikut tersenyum saat melihat bagaimana makanan itu disantap dengan lahap oleh wanita yang ia cintai.
"berapa usia Arabella?"tiba-tiba saja Jordan bertanya seperti itu. dan Hal itu membuat Asmirandah sendiri, merasa terkejut luar biasa.
"tiga bulan. memangnya ada apa?"tanya wanita itu dengan nada suara sedikit gemetar.
"berarti sudah waktunya memberikan adik."fisik laki-laki itu tepat di telinga Asmirandah.
__ADS_1
Degh
Jantung wanita itu seakan ingin lepas dari tempatnya saat mendengar penuturan dari suaminya itu. dan tak lama berselang, Hanya senyuman kecil yang terlihat dari wajah cantik milik Asmirandah itu.