Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 98


__ADS_3

Saat ini, Zidane tengah berada di depan pintu kaca ruangan di mana anaknya berada. laki-laki itu, henti-hentinya mengalirkan cairan bening dari kedua pelupuk matanya.


"sayang, pokoknya kamu harus kuat ya. Papi tidak ingin, kehilangan kalian."dengan bibir bergetar hebat, laki-laki berwajah manis itu mencoba berkomunikasi dengan putranya yang masih berada dalam inkubator karena memang belum waktunya untuk keluar.


puk


Seketika, pandangan dari laki-laki berwajah manis itu teralihkan saat merasakan punggungnya ditepuk oleh seseorang dari belakang.


"ada apa?" tanya Zidane Soraya menoleh ke arah belakang dan mendapati, kehadiran adik sepupunya.


"Asmirandah sudah selesai mendapatkan tindakan. dan sekarang, sudah dipindahkan ke ruang rawat. kita tinggal menunggu dia melewati masa kritisnya."ucap Jordan mencoba untuk menjelaskan.


"terima kasih."setelah mengatakan hal itu, laki-laki berwajah hitam manis itu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana guna menemui istrinya.


Sementara Jordan, laki-laki itu sempat menatap ke arah ruangan. di mana, bayi mungil itu berada. tentunya, dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah beberapa lama kemudian, laki-laki yang memiliki jambang tipis itu segera berlalu menyusul Kakak sepupunya.


***


"sayang, bukalah matamu. maafkan aku jika aku selama ini terlalu memaksakan kehendakku sendiri dan tidak memperdulikan perasaanmu."ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan.


Sementara orang yang diajaknya berbicara, masih setia untuk memejamkan mata dan tanpa merespon ucapan apapun dari laki-laki itu.


Laki-laki berwajah manis itu, seketika menundukkan kepala untuk mencium pergelangan tangan wanita kesayangannya itu. tak lama berselang, tubuh dari laki-laki berwajah manis itu, bergetar dengan sangat hebat. Menandakan, bahwa laki-laki itu tengah menahan tangis dan juga sesak di dalam tubuhnya yang luar biasa.


drrrttt drrttt


Di saat laki-laki itu tengah menikmati suasana yang sangat syahdu itu, tiba-tiba saja terdengar ponsel miliknya berdering. hingga membuat suasana, seketika berubah.

__ADS_1


Dengan perlahan dan juga gerakan sedikit malas, wanita itu mulai mengambil benda pipih kesayangannya itu dan melihat siapa yang menghubunginya saat ini.


"untuk apa Lagi mereka menghubungiku?"tanya Zidane pada dirinya sendiri.


Karena merasa sangat malas, pada akhirnya laki-laki berwajah manis itu tidak mengangkat panggilan dari seseorang yang tak lain adalah dari Maminya sendiri. karena merasa sangat risih akibat terus-menerus diteror, pada akhirnya Zidan memutuskan untuk mematikan benda pipih itu agar tidak mengganggunya.


"Sayang, aku mohon bangunlah. janganlah seperti ini."ucap laki-laki itu Seraya menggenggam jemari lentik milik sang istri.


***


"kemana anakmu ini kenapa tidak juga mengangkat panggilan dariku?"tanya Rafael merasa geram. karena sekarang ini, ponsel dari Zidane malah tidak aktif. padahal sebentar lagi, kedua orang tuanya akan datang untuk membahas tentang rencana perjodohan itu.


Sebenarnya Rafael dan juga Ajeng setuju dengan putranya. karena kedua manusia paruh baya itu, juga tidak setuju dengan rencana perjodohan yang dilakukan oleh dua manusia sepuh itu.


Namun untuk sekedar mengutarakan pendapat mereka, kedua orang itu tidak memiliki keberanian yang lebih. pada akhirnya, yang hanya dapat dilakukan oleh Rafael adalah menyetujui rencana dari kedua orang tuanya itu.


"Tuan, Nyonya, Tuan dan Nyonya sepuh, telah datang kemari. beliau berdua, menunggu di ruangan khusus."ucapan salah satu pelayan itu, sukses membuat tubuh Ajeng dan juga Rafael menegang untuk beberapa saat.


"sudahlah Mi, lebih baik kita hadapi saja." setelah mengatakan hal itu, Rafael segera menarik tangan istrinya untuk menuju ke ruang rahasia di rumah itu.


Di mana ruangan itu memang sangat privasi untuk keluarga Prakoso. karena biasanya, ruangan itu digunakan untuk membahas hal yang sangat penting.


***


"di mana anak itu?"tanya Oma Keisha saat mereka semua, telah berada di ruangan itu.


Untuk beberapa saat, mereka berdua hanya saling pandang satu sama lain. saling menyenggol lengan masing-masing untuk memberikan tanda tentang apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


"jawab!" bentak Oma Keisha dengan nada yang naik satu oktaf dari sebelumnya. dan hal itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, seketika tersentak kaget.


"di..dia ada pekerjaan di luar kota."jawab Ajeng dengan nada suara terbata-bata.


"apa kau yakin jika anakmu itu tengah bekerja?"pertanyaan dari laki-laki yang berada di sebelah, Keisha, membuat pandangan semua orang tertuju kepadanya.


"Ma.. maksud Ayah apa?"kini giliran Rafael yang menjawab pertanyaan dari manusia sepuh itu dengan nada suara terbata-bata.


"sudahlah! lebih baik, kalian suruh anak itu untuk segera pulang!"ucap Opa Galang dengan ada yang sangat tegas dan juga aura yang sangat mengerikan.


Dan itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, seketika menelan salivanya secara serempak. tak terkecuali, Oma Keisha. wanita sepuh yang menemani Opa Galang bertahun-tahun itu, juga merasa sangat ketakutan.


"ba...baik."dengan tubuh yang sedikit gemetar, Rafael segera menghubungi Jordan. karena saat ini, hanya Anak itulah yang mampu untuk dihubungi.


***


"baik Om. saya akan segera menyampaikan hal ini pada Bang Zidane."setelah mengatakan hal itu, laki-laki yang memiliki jambang tipis di sekitar wajahnya itu, segera melangkahkan kakinya untuk menyampaikan kabar ini pada sang kakak sepupu.


"Bang!"panggil Jordan pada laki-laki berwajah hitam manis itu.


"ada apa?"tanya laki-laki itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah sumber suara. karena saat ini, laki-laki itu tengah menahan tangis akibat melihat kondisi yang sangat memprihatinkan dari wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


"tadi kata Om Rafael, Abang disuruh pulang sekarang juga. karena di sana, ada Oma Keisha dan juga Opa Galang."Jordan mencoba untuk menjelaskan.


"aku tidak mau. bilang pada mereka, jika mereka ingin memblokir semua akses yang aku punya, silakan saja karena aku tidak memperdulikan hal itu!" ucapnya dengan ada yang sangat tegas.


"tapi Bang, kata Om Rafael tadi Abang harus segera datang ke sana. karena jika tidak, anak buah dari Oma Keisha dan juga Opa Galang, akan mencari di seluruh penjuru dunia tentang apa penyebab Abang membangkang seperti ini. apakah Abang tidak ingat, jika kedua manusia sepuh itu mampu melakukan apa saja?"tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis itu mencoba untuk memberikan penjelasan dan juga sebuah peringatan pada Kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Bahwa keluarga mereka, masuk dalam keluarga yang berbahaya karena dapat melakukan apa saja yang mereka kehendaki.


Tentu saja hal itu membuat Zidan yang mendengarnya, merasa sangat kesal. karena laki-laki berwajah manis itu, memang tidak bisa lepas dari keluarga itu.


__ADS_2