Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
BAB 71


__ADS_3

Malam harinya,....


Saat ini, terlihat Asmirandah tengah mematuhkan dirinya di depan cermin panjang Seraya tersenyum simpul.


"kenapa aku jadi deg-degan seperti in? bukankah aku sudah lama bersama dengan laki-laki itu? tapi kenapa rasanya berbunga-bunga seperti ini?"pertanyaan demi pertanyaan, seketika berputar-putar di dalam otaknya itu. membuat Asmirandah sesekali, akan tersenyum simpul jika mengingat tentang kenangan manisnya bersama dengan Zidane.


"eh Sayang cantik sekali mau ke mana?"tanya wanita paruh baya. yang tiba-tiba, sudah berada tepat di ambang pintu kamarnya.


Membuat wanita muda dan cantik itu, seketika sedikit gelagapan. sebelum akhirnya, mengatakan ingin bertemu dengan Tiara.


"berapa lama?"tanya Chelsea menatap intens ke arah Putri.


"2 sampai 3 jam."jawab Asmirandah asal. membuat Chelsea yang mendengar itu, sejenak terdiam. sebelum akhirnya, menganggukkan kepala Seraya tersenyum simpul.


"hati-hati. jangan seperti kemarin pamitnya mau ke rumah Tiara, malah sampai ke negeri orang."cibir Chelsea menatap ke arah putrinya itu. membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika meringis.


"Bunda tenang saja. kali ini, Mira akan benar-benar ke rumah Tiara." ucap wanita cantik itu Seraya memeluk tubuh ibunya dari belakang. membuat Chelsea yang mendengar itu, sejenak terdiam. dan beberapa saat kemudian, menganggukkan kepala.


"oh ya Bunda, apa Papa belum pulang?"tanya Asmirandah saat mereka berdua menuruni anak tangga untuk menuju ke lantai bawah.


"sepertinya 5 menit lagi pulang. memangnya kenapa? mau menunggu Papa?"tanya Chelsea menoleh ke arah putrinya sekilas.


Asmirandah yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala."nggak usah. bilang aja, aku mau ke rumah Tiara sebentar."sahut wanita cantik itu Seraya tersenyum simpul. dan hanya dijawab anggukan kepala oleh sang ibu.


'maafkan Asmirandah Bun. Asmirandah terpaksa berbohong seperti batin wanita itu nelangsa. karena jujur saja, sebelum-sebelumnya, Asmirandah belum pernah melakukan kebohongan kepada keluarganya. terlebih lagi, pada kedua orang tuanya.


"Ya sudah kalau begitu kau hati-hati."ucap wanita paruh baya itu Seraya melambaikan tangan. saat melihat putri bungsunya, masuk ke dalam mobil. dan setelah itu, mulai berjalan meninggalkan kediaman mewah keluarga Orlando.

__ADS_1


'maafkan Bunda dan Papa sayang."batin Chelsea menjerit. karena wanita paruh baya itu merasa belum bisa bersikap adil terhadap putri-putrinya. karena sampai sekarang, baik Chelsea maupun Aron, masih menentang keras hubungan Asmirandah dengan Zidane.


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat di sebuah ruangan sebuah keluarga sedikit berdebat. karena ada seorang laki-laki, yang ingin keluar dari rumah itu untuk menemui seseorang.


Siapa lagi jika bukan keluarga besar dari Prakoso. karena keluarga besar yang masih menyimpan beberapa tradisi nyeleneh di keluarganya itu, menolak keras. saat Zidane, meminta izin untuk keluar sebentar. dan hal itu, langsung ditentang keras oleh kedua kakek nenek laki-laki berwajah hitam manis itu. dan hal itu tentu saja membuat Zidan yang mendengarnya, sakit merasa kesal. sehingga terjadilah, perdebatan sengit di antara nenek kakek dan juga cucunya itu.


Dan pada akhirnya, Zidane harus mengalah. karena laki-laki berwajah manis itu, tidak akan pernah bisa untuk melawan dua sesepuh keluarga Prakoso itu. dan apa kalian bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya? Yap Zidane memutuskan untuk mengurung dirinya di dalam kamar. seperti seorang gadis yang tidak diperbolehkan untuk melakukan suatu hal.


Membuat nenek dan kakek laki-laki itu, seketika menggilingkan kepala."dasar cucu menyebalkan! seperti anak gadis saja!"cibir sang nenek Seraya mendengus kesal. sementara Rafael dan juga Ajeng yang melihat itu, seketika hanya saling pandang. dan tak lama berselang, mereka sama-sama meringis melihat semua kekacauan yang ada di keluarga mereka itu.


"Ajeng, Rafael, tolong Didik anakmu itu. atau kalau tidak, kami berdua akan bertindak."ucap Wanita sepuh itu. seraya bangkit dari tempat duduknya. dan tak lama berselang, diikuti oleh laki-laki yang ada di sebelah wanita sepuh itu.


Membuat kedua orang tua dari Zidane itu, hanya dapat menganggukkan kepala. dan tak berselang lama, tersenyum kikuk.


"kenapa mereka berdua bisa kemari?"tanya Ajeng Seraya mend*sah pelan.


"aku juga tidak tahu. kenapa mereka tiba-tiba berada di sini. bukankah di antara kita semua tidak ada yang memberitahu tentang masalah ini bukan?"tanya Rafael Seraya menatap ke arah istrinya. Ajeng hanya menganggukkan kepala.


"selamat siang Om, tante!" terdengar suara seseorang yang berada di balik pintu rumah mewahnya itu. tak lama berselang, seseorang menyembul dari balik pintu.


"Jordan!"ucap Ajeng dan juga Rafael secara bersamaan. sementara laki-laki itu, hanya menganggukkan kepala. kemudian mulai menyalami tangan Om dan tantenya itu.


"apakah Zidane ada?"tanya Jordan saat melihat di ruangan itu terasa sangat sepi.


"dia ada di kamarnya sedang merajuk."Celetuk Rafael. membuat laki-laki itu, seketika mendapatkan cubitan maut dari sang istri. membuat laki-laki itu, seketika meringis karena merasa panas di area pinggangnya. sementara Ajeng, wanita paruh baya itu mengerucutkan bibirnya. merasa tidak terima jika putranya dikatain seperti itu oleh orang lain. walaupun, orang itu berstatus sebagai ayah dari anaknya sendiri.

__ADS_1


Jordan yang melihat pemandangan itu, seketika menggelengkan kepalanya. dan tak lama berselang, pamit kepada kedua manusia paruh baya itu.


ceklek


"Bro, apakah kau..."ucapan Jordan seketika terhenti di udara. saat sebuah bantal, mendarat mulus di kepala laki-laki berjambang tipis itu.


Membuat Zidane yang tengah mengamuk, seketika menatap ke arah ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"ikut aku."ucap laki-laki itu Seraya membawa sepupunya untuk keluar dari kamar itu.


"memangnya, kau mau ke mana?"tanya Jordan dengan raut wajah kebingungan.


"ck, tentu saja ingin bertemu dengan Asmirandah."jawab laki-laki berwajah hitam manis itu sedikit berdecak tebal.


Sejenak, Jordan terdiam. hingga beberapa saat kemudian, laki-laki itu menganggukkan kepala."apa yang harus aku bantu?"tanya laki-laki berjambang tipis itu menatap ke arah sepupunya.


Zidane segera menempelkan mulutnya di telinga Jordan. dan mulai mengatakan sebuah rencana pada sepupunya itu.


"apakah kau yakin semuanya akan berjalan dengan mulus?'tanya Jordan dengan raut wajah sedikit khawatir.


"tentu saja."sahut laki-laki itu dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.


"tapi aku yang ragu."gumam laki-laki itu pelan.


"kau tidak usah khawatir. aku akan kembali ke sini, dalam waktu 2 jam."sahutnya dengan senyuman.


Antara ragu dan juga tidak, pada akhirnya Jordan pun menganggukkan kepala. mengikuti saran dan juga rencana konyol dari sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2