
Setelah pertengkaran hebat antara ibu dan anak itu, Zidane sama sekali tidak berbicara pada sang ibu. tentu saja hal itu membuat Rafael merasa sangat kebingungan. laki-laki paruh baya itu, merasa sudah sangat lelah karena berusaha menyatukan hubungan antara ibu dan anak itu kembali harmonis. namun kenyataannya, masih tidak bisa.
"Mam, tolonglah jangan seperti ini. mengalah sedikit demi kebahagiaan Zidane apa salahnya?"tanya laki-laki paruh baya itu menatap lekat ke arah istrinya yang masih tampak membuang muka.
"apa Papi bilang? Mami harus mengalah demi kebahagiaan Zidane? Papi tidak salah? justru Mami melakukan hal ini, demi kebaikan Zidan dan juga Asmirandah sendiri. bukannya Papi tahu, bagaimana perangai keluarga kita tentang aturan yang ada di keluarga besar kita ini?"tanya Ajeng menatap ke arah suaminya itu dengan tatapan yang sangat tajam.
Terdengar helaan nafas dari bibir Rafael. dan tak lama berselang, laki-laki paruh baya itu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut akibat memikirkan permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya saat ini.
"kenapa harus ada peraturan seperti itu?"de*sah laki-laki paruh baya itu Seraya menatap ke arah sang istri dengan tatapan frustasinya.
tap tap tap tap
Tak lama berselang, terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat ke arah mereka. hingga membuat mereka berdua, seketika menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Zidane telah berdiri tepat di bawah anak tangga terakhir.
"mau ke mana kamu Zidane?"tanya Ajeng Seraya bangkit dari tempat duduknya dan mulai menghampiri laki-laki berwajah manis itu.
"bertemu dengan Asmirandah."jawabnya dengan singkat dan menampilkan ekspresi wajah yang sangat datar.
"sudah berapa kali Mami,...."ucapan Ajeng seketika menggantung di udara saat mendengar sahutan dari Putra semata wayangnya itu.
"Mam, tolonglah jangan pernah memaksaku apalagi tentang kebahagiaanku. karena yang merasakan semua itu adalah diriku sendiri bukan orang lain. dan aku merasa, sangat bahagia bersama dengan Asmirandah. terserah Mami sama Papi mau bicara apa. karena pada kenyataannya, Asmirandah adalah pilihan Zidane sendiri dan Zidane sangat mencintainya."dan setelah mengatakan hal itu, laki-laki yang memiliki perawakan tinggi besar dan juga berkulit hitam manis itu, segera melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terpaku di tempatnya.
"sial! sampai kapan, aku harus bersikap seperti ini pada kedua orang tuaku?"tanya Zidane pada dirinya sendiri. karena jujur saja, laki-laki itu tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. dan ini adalah kali pertama dirinya membantah perkataan dari sang Mami.
"tolong ampuni aku Tuhan."ucap laki-laki itu dengan nada suara yang sangat lirih dan juga wajah yang menatap lurus ke depan. setelah berdiam diri cukup lama, Zidane segera melajukan kendaraannya untuk menemui sang kekasih.
****
__ADS_1
Sementara itu di keluarga Orlando, terlihat Asmirandah tengah menyibukkan diri dengan berjalan kesana kemari. karena sampai saat ini, wanita itu belum mendapatkan kabar apapun dari kekasihnya. seketika pikiran-pikiran buruk yang pernah Asmirandah alami seketika mencuat ke permukaan.
"kenapa Bang Zidane tidak ada kabar sama sekali?"tanya wanita itu dengan raut wajah gelisah.
Sejak tadi, wanita itu sesekali akan melirik ke arah benda pipih yang ada di tangannya saat ini. Berharap, bahwa Zidane segera menghubunginya seperti biasa. karena entah mengapa, wanita itu merasa sangat khawatir dengan keadaan pujaan hatinya itu.
"kamu kenapa mondar-mandir seperti itu?"Asmirandah seketika terkesiap saat mendengar suara seseorang dari belakang tubuhnya.
Dengan cepat, Asmirandah membalikkan tubuh dan mendapati sang kakak berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"tidak ada apa-apa."jawab Asmirandah Seraya berlalu pergi dari sana. sementara Naomi, hanya terdiam di tempatnya entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Yang jelas, Asmirandah sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
***
Sementara itu, Zidane berada di dalam mobil. karena laki-laki itu, baru saja mengalami kecelakaan kecil akibat terlalu banyak melamun akan hubungannya dengan Asmirandah.
drrrttt drrttt
"ha.. halo sayang, ada apa?"tanya Zidane dengan nada suara terbata-bata akibat rasa sakit yang mendera kepalanya.
"Bang, Abang tidak apa-apa?"tanya Asmirandah yang terdengar panik dari seberang sana.
"a..aku ba...baik. aaaww."Tak tahan Lagi, akhirnya Zidane meringis kesakitan. tentu saja hal itu membuat Asmirandah yang ada di seberang sana, semakin merasa khawatir. dengan segera, Asmirandah segera menanyakan keberadaan sang kekasih. dan setelah mendapatkan informasi, panggilan itu pun, segera terputus.
Sementara Zidane, kedua sudut bibir laki-laki itu seketika terangkat saat melihat nada khawatir dari wanita yang sangat ia cintai. Zidane merasa menjadi laki-laki yang sangat bahagia saat ini karena mendapatkan cinta yang sangat tulus dari seorang wanita.
"Kau adalah wanita yang tepat untuk memang aku pilih menjadi istriku."gumam laki-laki itu Seraya tersenyum simpul menatap layar ponselnya yang menampilkan foto dari wanita itu.
__ADS_1
Setelah puas memandangi wajah cantik yang tergambar dari wallpaper ponselnya itu, Zidane segera mengarahkan mobilnya ke alamat yang telah ia kirim untuk kekasihnya.
****
"kamu mau ke mana?"tanya Chelsea saat melihat putri bungsunya telah rapi dan juga cantik berdiri di ambang pintu.
Mendengar pertanyaan dari sang ibu, Asmirandah segera menolehkan kepalanya dan mengulas senyum tipis.
"aku harus pergi sebentar Bunda."ucap wanita itu Seraya meraih punggung tangan wanita paruh baya itu. dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah mewah kedua orang tuanya.
Sementara Chelsea, hanya menganggukkan kepala. dan menatap Putri bungsunya itu sampai benar-benar menghilang dari balik pintu mobil.
"Asmirandah mau ke mana Bun?"tanya Aaron yang berdiri tepat di samping Chelsea.
"eh Papa, ngagetin aja!"sahut wanita paruh baya itu Seraya memukul lengan dari suaminya."itu katanya mau pergi sebentar."lanjutnya Soraya kembali menatap ke depan.
Aaron yang mendengarnya, hanya mengangguk-anggukkan kepala. kemudian mengajak sang istri untuk masuk ke dalam.
****
"kenapa macet sekali?"keluh Asmirandah saat melihat ribuan manusia yang ada di jalan raya. padahal memang sebelumnya jalanan itu tampak sangat ramai karena memang jalan utama yang ada di kota itu.
Mungkin karena hati Asmirandah sedang tidak baik-baik saja. sehingga wanita itu merasa bahwa jalanan itu sesak penuh dengan manusia.
"ini kenapa malah jadi ramai sekali?"tanya Asmirandah pada dirinya sendiri. wanita cantik itu merasa gusar karena memikirkan bagaimana keadaan kekasihnya saat ini.
"semoga saja Bang sidang baik-baik saja."batin Asmirandah menenangkan.
__ADS_1