Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 247


__ADS_3

"kurang ajar laki-laki Tidak diuntung! kau--"


Ucapan dari wanita tua itu seketika terhenti saat sebuah benda langsung menghantam tepat wajah dan kepala milik wanita tua itu. kedua mata dari Oma Keisha seketika membulat dengan sempurna.


"aaaaarrgghhh!"


Suara teriakan dari ruang tamu itu sukses membuat orang-orang yang ada di sana, langsung berlari menghampiri. kedua bola mata milik mereka semua seketika hampir lepas dari tempatnya saat melihat bagaimana Jordan menyerang Omanya sendiri.


"Jor... Jordan, apa yang kau lakukan?"tanya Rafael dan juga Garda dengan tubuh bergetar hebat karena menyaksikan bagaimana wanita yang berhasil melahirkannya itu bersimbah darah dan tergeletak di atas lantai dengan tubuh menggelinjang seperti menahan kesakitan yang luar biasa.


sementara Jordan sendiri, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu justru menatap ke arah wanita tua itu dengan tatapan datar.


"bukankah Tidak ada salahnya jika aku melakukan perlawanan? bukankah dia yang melakukan hal itu terlebih dahulu? lalu kenapa kalian panik jika aku membalasnya?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang begitu sinis.


"apa yang kau katakan? dia itu adalah nenekmu. secara tidak langsung, kau tidak akan pernah lahir jika tidak ada wanita tua yang ada di hadapanmu saat ini!"Santa Rafael dengan amarah Yang meluap.


Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Jordan. laki-laki itu langsung mengeluarkan senjata api yang entah sejak kapan berada di balik kemeja miliknya. Lalu...


Dor...


Dor...


Dor...


Pistol itu langsung mengeluarkan beberapa kali peluru dan mengarah pada orang-orang yang ada di sana. seketika orang-orang itu langsung histeris dan berhamburan keluar. namun hal itu membuat Jordan semakin bersemangat untuk mengeksekusi orang-orang munafik seperti keluarga dari Prakoso itu.


Tidak membutuhkan waktu lama. karena dalam hitungan 30 menit, orang-orang itu telah tewas bersimbah darah. kemudian, Jordan langsung terduduk di lantai dengan tawa dan juga tangis yang bersamaan.


"Aku tidak akan melakukan hal ini Jika kalian tidak menyerangku terlebih dahulu. kalian pikir, Aku ini adalah seorang malaikat yang tidak memiliki amarah? jika kalian memikirkan akan hal itu, maka jawabannya adalah salah besar. karena aku akan menjadi orang yang paling kejam jika mereka berani mengusikku!"ucap Jordan entah pada siapa. karena orang-orang yang ada di sana, sudah tidak bernyawa.


Greepp

__ADS_1


tubuh Jordan seketika membeku saat merasakan pelukan dari seseorang yang begitu sangat ia rindukan kehangatannya.


"sudah Sayang jangan pernah lakukan ini. mereka semua sudah berakhir. lebih baik sekarang, kita segera pergi dari sini."bisik Sahara mencoba untuk menenangkan kemarahan dari putranya itu.


"Mama,"ucapnya dengan nada suara yang begitu lirih. Sahara seketika menganggukkan kepala. kemudian membantu memapah laki-laki itu untuk masuk ke dalam mobil yang memang telah dipersiapkan oleh Garda. ya kedua orang tua dari Jordan itu memang tengah bersembunyi saat peristiwa tembak menembak itu terjadi. sehingga mereka berdua aman dari kebrutalan laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Sahara segera memerintahkan sang ayah untuk melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.


Tanpa mereka ketahui ada orang-orang yang masih terjebak di sana. mereka semua adalah para pelayan yang bersembunyi di Rumah belakang dengan membawa Elvio dan juga Arabella. karena memang kedua bayi malang itu tidak terlibat dan tidak menjadi incaran saat peristiwa baku hantam itu terjadi.


"bagaimana ini semuanya tanpa kacau!"sahut salah seorang pelayan dengan nada suara yang begitu frustasi.


"Apakah kamu memiliki nomor dari tuan Zidane?"tanya salah seorang dari mereka pada pelayan itu.


"ada sebentar aku hubungi dia!"ucapnya Seraya tersenyum lebar.


****


"maafkan mama sayang mama tidak bermaksud membuatmu seperti ini."ucap Sahara Seraya menggenggam tangan dari putranya itu untuk menguatkan.


Jordan yang mendengar penuturan dari ibunya itu, seketika hanya tersenyum kecil. hatinya terasa menghangat saat mendengar petuah-petuah yang dilontarkan oleh wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. hingga tiba-tiba saja,....


"awas Pah!"teriak Sahara dengan begitu lantang saat mendapati sebuah truk yang begitu besar melaju dengan kecepatan tinggi. namun hal itu sama sekali tidak berpengaruh. karena semuanya sudah terlambat.


Bruuuuaakk


Duuuaarr


Seketika mobil yang ditumpangi oleh Jordan dan juga kedua orang tuanya tergelincir masuk ke dalam judul hingga terdengar ledakan yang begitu keras. dan sudah dipastikan, mereka itu tidak akan selamat karena mobil terbakar dengan sangat hebat. hingga orang-orang yang berkerumun ingin melihat kejadian itu, seketika pasrah. karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan selain melihat karena ledakan itu benar-benar sangat besar. mungkin saja orang yang ada di dalam sana akan segera menjadi abu.


****

__ADS_1


Sementara itu di negara Flores, terlihat Zidan sesekali akan mengusap air matanya yang tiba-tiba saja luruh membasahi wajah manisnya itu.


"aku mohon, kalian jangan pernah tinggalkan aku!"ucapnya dengan tubuh bergetar hebat dan juga derai air mata yang membasahi wajahnya.


Drrrttt Drrrttt


Lamunan dari Zidan seketika buyar. saat mendengar suara ponsel yang berdering. kedua alisnya seketika tertaut saat menyaksikan siapa yang menelpon.


Namun laki-laki berwajah manis itu tetap mencoba untuk mengangkatnya. "iya halo, siapa ini?"


("ini adalah Laksmi salah satu pelayan yang ada di rumah keluarga Prakoso.)


Degh


Jantung dari Zidan seakan ingin lepas dari tempatnya saat mendengar penuturan dari suara di seberang sana. dengan segera laki-laki itu mencoba untuk menghentikan sambungan teleponnya. karena dia berpikir, mereka akan mencari informasi tentang di mana keberadaannya.


(tolong jangan ditutup dulu tuan. kami hanya ingin menyampaikan sesuatu.")


Gerakan dari Zidane seketika terhenti saat mendengar penuturan dari orang yang ada di seberang sana itu.


"memangnya ada apa?"tanya Zidan dengan perasaan yang sudah merasa tidak enak.


Kemudian Laksmi mulai menceritakan semua yang terjadi setelah mereka pergi. dan Hal itu membuat Zidane, seketika langsung ambruk di atas lantai.


"la.. lalu apa yang membuat kalian menelponku?"tanya laki-laki itu dengan nada suara terbata-bata.


Karena bagaimanapun juga mereka semua adalah keluarga walaupun sudah memberikan luka yang begitu dalam pada hidup Zidane tapi laki-laki itu tidak bisa untuk memungkirinya.


("Apakah anda tidak ingin menjemput Tuan kecil dan juga Nona kecil?")


Kedua bola mata dari laki-laki itu membulat dengan sempurna saat menyadari sesuatu itu.

__ADS_1


"kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu?"tanya laki-laki itu Seraya menepuk keningnya sendiri.


__ADS_2