Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 103


__ADS_3

"pasti ini hanya akal-akalan kakak saja, kan?"tanya wanita itu Seraya menggelengkan kepalanya dan sedikit tertawa sumbang untuk menyamarkan rasa yang sangat mendebarkan di dalam dada itu.


"kenapa aku harus berbohong? untungnya buat aku itu apa?"bukannya menjawab, Naomi justru malah menantang adik kandungnya itu dengan pertanyaan yang sangat menohok.


Dengan perlahan tapi pasti, wanita yang terpaut usia dengan Asmirandah hanya satu tahun itu, mulai melangkahkan kakinya mendekati wanita yang masih berbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu.


"asal kamu tahu, sebelum mereka kecelakaan, mereka sangat ingin bertemu denganmu. tapi, karena egomu yang sangat tinggi dan juga masih menikmati suasana pengantin baru, kamu mengabaikan semuanya! dan kamu, Tak ubahnya sebagai seorang pembunuh!"ucap Naomi dengan suara lantang dan juga tangan yang ditunjukkan tepat di wajah sang adik kandung.


Asmirandah dengan segera menggelengkan kepalanya."tidak Kau pasti berbohong bukan?"tanya wanita itu masih menyangkal ucapan dari kakaknya.


Naomi yang mendengar itu seketika tertawa. kemudian, melayangkan tatapan penuh dengan kebencian terhadap wanita yang berstatus sebagai adik kandungnya itu.


"terserah. kalau kamu tidak percaya, coba datangi alamat ini. maka kamu, akan menemui jawabannya."setelah mengatakan hal itu, Naomi segera pergi dari sana.


Namun sebelum tubuhnya benar-benar menghilang, wanita itu sempat menghentikan langkahnya. dan berbalik menatap ke arah Asmirandah dengan tatapan yang sulit diartikan.


"satu hal yang harus kamu tahu. bahwa kenyataannya, kamu adalah penyebab kematian dari kedua orang tua kita. dan aku akan pastikan, kamu akan menerima hukumannya."setelah mengatakan hal itu, kakak kandung dari Asmirandah itu benar-benar pergi dari sana.


Sementara Asmirandah sendiri, wanita itu masih mematung di tempatnya dengan pikiran-pikiran yang memenuhi rongga kepalanya.


'tidak mungkin. tidak mungkin, Papa dan juga Bunda pergi meninggalkanku secepat ini.'batin Asmirandah meronta-ronta.


tok tok tok

__ADS_1


Fokus dari wanita itu seketika teralihkan saat mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. dan tak lama berselang, seorang wanita muda yang memakai jas berwarna putih datang menghampirinya.


"selamat pagi Nyonya Asmirandah. apakah anda baik-baik saja? apakah masih ada yang sakit? bagaimana dengan kondisi luka jahitan di jalan lahir itu? apakah sudah terasa kering?"Tanya Dokter wanita itu secara bertubi-tubi.


Membuat Asmirandah yang mendengar itu, sedikit merasa risih. tak ayal, wanita cantik itu segera melayangkan tatapan tajam ke arah dokter muda itu. sehingga orang yang ditatap, merasa salah tingkah dan juga sedikit kikuk.


Sementara Asmirandah, wanita cantik itu kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan hampa dan juga tanpa kehidupan sama sekali. Dokter wanita itu mulai menjalankan kewajibannya dengan memeriksa seluruh tubuh dari pasiennya. dokter itu terus mengajak Asmirandah untuk berbicara tentang kondisi tubuhnya yang sudah membaik dan jika ingin pulang, Wanita itu sudah diperbolehkan oleh pihak rumah sakit.


Namun untuk kondisi putra dari Asmirandah, pihak rumah sakit dan juga dokter anak tidak memperbolehkan bahwa bayi mungil itu untuk dibawa pulang. karena masih ada berbagai rangkaian pemeriksaan terkait dengan kelahirannya.


Kontan saja, hal itu membuat Asmirandah yang mendengarnya, segera menoleh ke arah dokter muda itu. karena entah mengapa, artinya sedikit terusik saat wanita yang memakai jas berwarna putih itu mengatakan tentang bayi mungil yang baru saja keluar dari rahimnya.


"apakah aku bisa bertemu dengan putraku?"entah angin dari mana, wanita cantik itu bertanya demikian. membuat dokter itu, sejenak terdiam. hingga tak berselang lama, menganggukkan kepala.


***


Di sinilah Asmirandah berada sekarang. di sebuah ruangan yang penuh dengan bayi-bayi Malang lengkap dengan berbagai alat yang terpasang di tubuh mungil mereka. dan tanpa dikomando, air mata dari wanita itu seketika mengalir dengan sangat deras.


"dokter, bayi yang kemarin baru saja lahir memerlukan satu kantong masih lagi."samar-samar, Asmirandah mendengar obrolan antara perawat dan juga dokter jaga di ruangan itu.


"ini putra dari Nyonya Asmirandah dan juga Tuan Zidane. ajaib memang. perkembangan dari Putra mereka ini terbilang sangat pesat. saya yakin, Jika seperti ini terus maka kemungkinan besar bayi ini akan segera dibawa pulang oleh keluarganya."sahur dokter itu dengan ada yang sangat antusias.


Dan percakapan itu, tanpa sadar membuat Asmirandah yang mendengarnya seketika menarik kedua sudut bibir membentuk sebuah senyuman tipis.

__ADS_1


"antarkan saya kembali ke ruangan!"titah Asmirandah dengan nada yang sangat datar dan juga terkesan sangat dingin.


Perawat-perawat itu hanya menganggukkan kepala dan menuruti apa yang diinginkan oleh Asmirandah. Sesampainya di ruangan itu, Asmirandah segera menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu yaitu memberikan cairan kehidupan itu dengan cara memompanya.


Entah kebetulan atau apa, Asmirandah menemukan beberapa alat penunjang untuk mengeluarkan air kehidupan itu dari dalam tubuhnya. dengan sedikit tersenyum, wanita itu mulai menjalankan aksinya.


Tanpa disadari oleh wanita itu, ada banyak sekali pasang mata yang menatapnya dari kejauhan. siapa lagi orangnya jika bukan Zidane dan juga yang lain. yang saat ini, tengah menatap dan membantu Asmirandah dari balik layar ponsel masing-masing.


Memang, Zidane sengaja memasang kamera pengintai dan juga alat penyadap suara di ruangan rawat milik Asmirandah itu. untuk memantau kegiatan wanita itu. dan alat itu baru saja diaktifkan. sehingga, pada waktu Naomi datang berkunjung ke ruangan Asmirandah itu, mereka tidak mengetahui sama sekali.


"apa memang Asmirandah sudah mulai bergerak hatinya?"tanya Jordan pada Zidane dan juga Tiara yang berada di samping laki-laki itu.


Tiara mengedikkan bahunya rendah."aku juga tidak tahu. tapi yang jelas, aku merasa sedikit kasihan dengan sahabatku itu."jawab wanita rambut panjang sampai pinggang itu dengan nada lirihnya.


"kasihan kenapa?" tanya Jordan dan juga Zidane hampir bersamaan.


"apa Kakak tidak melihat raut wajah datar dan juga tatapan mata yang cenderung dingin itu?"tanya Tiara Seraya menunjuk ke arah monitor yang menampilkan sosok sahabatnya yang tengah terbaring di atas tempat tidur itu.


"selama kami bersahabat belasan tahun, aku tidak pernah melihat raut wajah menyedihkan itu dari Asmirandah. sahabatku itu, kenal dengan tutur kata yang sangat lembut. tapi sekarang, dia berubah menjadi seperti sosok orang lain."sambung Tiara menundukkan kepala.


Tak rasa air mata dari wanita berambut panjang sampai pinggang itu, jatuh membanjiri wajahnya. dan itu berhasil dilihat oleh Zidane.


Laki-laki berwajah manis itu, seketika langsung merasa sangat bersalah dengan apa yang ia lakukan selama ini pada wanita yang sangat ia cinta itu.

__ADS_1


"maafkan aku."batin Zidane menjerit pilu.


__ADS_2