Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 151


__ADS_3

Jordan yang mendengar pertanyaan dari istrinya itu seketika tersenyum simpul."ini adalah makanan terenak yang ada di kota seberang."jawabnya Seraya membuka bungkus plastik yang sudah ada di dalam mangkok.


Asmirandah yang melihatnya seketika memejamkan mata. entah mengapa, wanita yang tengah mengandung itu merasakan begitu tergugah seleranya setelah melihat makanan yang ada di hadapannya.


"apakah boleh aku makan?"tanya wanita itu meminta izin dengan raut wajah sedikit takut.


"Tentu saja boleh."jawab Jordan Seraya terkekeh pelan.


Dengan segera Asmirandah menyantap makanan itu pun dengan lahap. dan sesekali wajah dari wanita hamil itu pun belepotan oleh makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


"pelan-pelan sayang. tidak ada yang akan mengambil makananmu itu."ucap Jordan Seraya mengusap wajah dari sang istri dengan tisu yang telah dibasahi air.


Asmirandah sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Karena Wanita itu, masih asik menyantap makanan yang menurutnya begitu nikmat.


"ini di mana belinya?"tanya Asmirandah menoleh ke arah Jordan yang saat ini berada tepat di sampingnya.


"memangnya kenapa?"tanya laki-laki itu Seraya mengangkat sebelah alisnya.


"aku mau makan lagi ini enak sekali."jawabnya polos dengan nada antusias.


Jordan sama sekali tidak menjawab. laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu hanya mengangguk-anggukkan kepala.


Setelah selesai menyantap makanan itu, Asmirandah kembali memejamkan mata. Karena Wanita itu, benar-benar merasa lelah hari ini. sementara Jordan sendiri, laki-laki jangkung itu keluar dari dalam kamar untuk menyerahkan peralatan makan yang baru saja dimakan oleh istrinya.


"jika itu yang kamu mau, aku akan mengabulkannya sayang."ucap laki-laki itu dengan nada yang sangat lembut setelah kembali dari urusannya dan naik ke atas ranjang memeluk istrinya dengan begitu erat.


****


"aaaakkhh sssstttt." suara rintihan dan juga erangan yang begitu memilukan entah dari mana. membuat para anggota keluarga Prakoso, sesekali menoleh ke kanan dan kekiri untuk mencari sumber suara itu.


"kalian dengar sesuatu?" tanya Opa Galang mengawali.

__ADS_1


Membuat Rafael dan juga Ajeng yang memang sudah berada di rumah, seketika menajamkan pendengarannya. dan tak lama berselang Mereka pun juga ikut menganggukkan kepalanya.


"ayo cari kenapa masih ada di sini?!"tanya Oma Keisha dengan raut wajah garamnya karena melihat semua orang masih terpaku di tempatnya.


Dan pada akhirnya, orang-orang itu segera mencari keberadaan suara yang begitu memilukan itu.


"astaga!"teriak Ajeng dengan lantangnya. tak lama berselang, wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya mundur karena melihat pemandangan yang begitu menyakitkan yang tergambar di hadapannya saat ini.


"ada ap..."ucapan Oma Keisha seketika terhenti saat melihat tubuh Tiara ambruk di ambang pintu dengan darah yang keluar dari sela-sela kakinya.


"astaga ini kenapa?!"tanya wanita sepuh itu dengan histeris. membuat Rafael dan juga Opa Galang, ikut berlari menghampiri para wanita itu. begitu pula dengan Zidane.


Kedua mata mereka seketika membelak dengan begitu lebar saat melihat pemandangan mengerikan itu.


"cepat angkat dan panggil dokter!"perintah Oma Keisha dengan paniknya.


Zidane segera menuruti keinginan dari wanita tua itu. karena entah mengapa, laki-laki itu juga merasa sangat khawatir Jika sesuatu terjadi pada Tiara. karena tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun juga di dalam rahim wanita itu terdapat benih yang tidak sengaja ia tanam dan sudah membentuk manusia dengan segala jaringannya.


Mendadak laki-laki berwajah manis itu mengingat apa yang terjadi pada Putra pertamanya Haidar. dan itu tak lepas dari kesalahannya dan juga kebodohan dulu.


"bagaimana; Dok?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah cemas.


"untung segera ditangani. pendarahannya tidak parah kok. ini saya kasih resep obat. tolong segera ditebus."ucap Dokter wanita itu Seraya menyerahkan sebuah kertas kepada umat Islam.


"dan lagi Nyonya Tiara harus bed rest."setelah mengatakan hal itu, dokter itu segera pamit undur diri.


"Zidane tolong kamu hapuskan ini."minta Oma Keisha pada cucu laki-lakinya itu. dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Zidane.


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat pasangan paruh baya baru saja keluar dari pesawat pribadinya. saat ini mereka tengah berada di tempat yang tidak diketahui oleh orang banyak.

__ADS_1


"bagaimana apakah kamu suka?"tanya Indra Seraya mengusap punggung dari istrinya.


Celine yang mendengar itu, seketika mengangguk antusias."aku suka."jawabnya cepat.


"syukurlah kalau kamu suka."ucap laki-laki itu Seraya tersenyum simpul mengusap punggung wanita yang paling ia cintai itu.


'Dan aku harap, kebahagiaan ini akan terus menghampiri kita walaupun tanpa kehadiran Putra kita lagi.' batin indra menjerit pilu.


Mereka segera berjalan untuk menuju penginapan yang memang telah dipersiapkan oleh laki-laki paruh baya itu untuk menyempurnakan liburan mereka. tidak masalah dirinya harus mengeluarkan berpuluh atau bahkan beratus uang lembar. asalkan, istrinya merasa begitu bahagia.


"mau istirahat atau ke mana dulu?"tanya laki-laki itu dengan begitu lembutnya.


"apakah di sini tidak ada makanan? aku sangat lapar."rengek Celine seperti seorang anak kecil. membuat Indra yang mendengar itu, seketika terkekeh geli.


"kita ke sana."Indra segera menarik tangan sang istri untuk mengajaknya ke pinggir pantai. letak dari hotel yang akan mereka tumpangi itu, terletak di samping laut sehingga pemandangannya, begitu menakjubkan.


"Mau ngapain Kita ke sini?"tanya wanita paruh baya itu Seraya mengerutkan keningnya tidak mengerti.


Indra sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari sang istri. laki-laki itu segera berjongkok untuk menjaring ikan-ikan yang ada di sana. dan setelah mendapatkannya, laki-laki itu segera mengorek pasir di pinggir air laut itu.


Tak lama berselang, kedua bola mata Celine pun membulat sempurna dengan mulut yang menganga lebar.


Syok? tentu saja wanita paruh baya itu merasa syok luar biasa. karena pasir Baru saja dikeruk, sudah memperlihatkan percikan api yang semakin lama semakin besar.


"wah ini indah sekali." pekik wanita itu girang. Celine segera meraih ponsel dan memvideokan momen langka itu. setelah selesai, wanita paruh baya itu mengambil sebungkus teh dan juga segelas air putih yang memang sengaja disediakan oleh sang suami.


"aku ingin membuat teh hangat. mumpung cuacanya di sini, sangat mendukung."


"biar aku saja. sebaiknya, kau tunggu saja di batu itu."tunjuk Indra pada istrinya. Celine pun menurut. wanita itu memperhatikan sang suami yang tengah sibuk membakar ikan dan juga memasak air.


"aku betah jika berada di sini lama-lama."Celetuk Celine tiba-tiba. membuat Indra yang mendengar itu seketika menoleh dan tak lama berselang, tersenyum tipis.

__ADS_1


nih bagus banget



__ADS_2