
Tepat di saat dua kantung berukuran besar itu melintas di hadapannya, Asmirandah berteriak dengan sangat kencang. membuat semua orang yang ada di sana seketika menatap wanita itu dengan tatapan kesedihannya luar biasa.
Seakan-akan, mereka semua mengalami hal yang sama dan juga merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu. bahkan Zidane dan juga Tiara menangis tersedu-sedu di samping wanita itu dengan posisi saling berpelukan satu sama lain. sementara Jordan, laki-laki yang memiliki jambang tipis itu hanya terdiam saat melihat reaksi tak terduga dari kakak sepupunya itu.
Karena menurutnya, Zidane adalah tipe laki-laki yang tidak pernah mengeluarkan air mata apapun kesakitan yang ia rasakan di tubuhnya. tapi jika hal itu menyangkut hati, laki-laki itu akan rapuh dan juga hancur.
"apa sebenarnya yang terjadi? apakah ada saksi yang melihat kejadiannya?"tanya Jordan pada para petugas itu. karena jujur saja laki-laki itu merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua Asmirandah itu.
Salah satu dari petugas itu maju ke depan dan langsung menceritakan tentang apa yang ia lihat sebelum kecelakaan itu terjadi.
"berarti kesimpulannya, ada seseorang yang mengatakan bahwa salah satu putrinya tidak ada di rumah sehingga membuat kedua manusia paruh baya itu kalang kabut dan tanpa pikir panjang lagi pulang ke negara ini, begitu?"tanya Jordan memastikan. dan hal itu langsung dijawab anggukan kepala oleh laki-laki yang memakai seragam coklat itu.
"si... siapa yang menghubungi kedua orang tuaku dan juga mengatakan bahwa aku tidak ada di rumah?"tanya Asmirandah dengan tubuh bergetar hebat.
Tulang-tulangnya seakan tidak bisa untuk menopang bobot tubuhnya. hingga beberapa kali, wanita itu hampir saja terjatuh dan terkulai lemas. beruntungnya, Zidan dengan sigap langsung menopang tubuh wanita kesayangannya itu.
Tangannya yang bergetar hebat itu, seketika terulur saat salah seorang dari petugas itu menyerahkan ponsel milik kedua orang tuanya.
"tenangkan dirimu sayang."bisik Zidane mencoba untuk menenangkan tubuh istrinya yang semakin lama semakin menggigil seperti seseorang yang tengah kedinginan.
Dengan tubuh yang gemetaran, taman Asmirandah mulai mengotak-atik benda pipih milik kedua orang tuanya itu. matanya seketika menatap nanar saat melihat riwayat panggilan beberapa saat lalu dari sang kakak. dan betapa terkejutnya wanita itu saat melihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh Naomi pada Bunda dan juga Papanya.
drrrttt drrttt
__ADS_1
Tubuh Asmirandah semakin bergetar saat ponsel yang ada di tangannya itu bergetar dengan sangat hebat. hingga pada akhirnya...
prang
Ponsel itu seketika terjatuh ke tanah saat Asmirandah sudah tidak bisa lagi dalam mengendalikan dirinya. dengan secepat mungkin, Zidan mulai menekan tombol terima.
(halo Bunda, apakah Bunda sudah ada di kota ini? sebaiknya segera datang ke sini. karena memang, Asmirandah tidak ada di rumah sampai saat ini)
Air mata Asmirandah seketika luruh dengan sangat deras. ternyata memang benar bahwa kakaknya yang mengompori kedua orang tuanya agar segera pulang ke tanah air. dan karena saking terkejutnya, mereka sampai menuju jalan tikus seperti ini.
Seketika itu pula, wanita cantik itu berandai-andai. andai saja dirinya tidak pergi selama satu bulan, andai saja dirinya tidak meninggalkan bandara waktu itu, andai saja dirinya memberitahu Naomi lebih awal, mungkin saja hal ini tidak akan pernah terjadi.
Namun apa boleh buat semua sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan seperti semula lagi. kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan dia. Asmirandah tidak bisa berbuat apa-apa.
(halo ada apa?) semua orang menoleh ke arah sumber suara saat menyadari sesuatu. bahwa ponsel yang terhubung dengan Naomi saat ini masih belum dipadamkan. Beruntungnya, benda pipih itu direbut oleh Tiara dan dijauhkan dari Asmirandah.
Sehingga suara wanita itu tidak terdengar oleh Naomi. yang terdengar hanyalah bisik-bisik dari seberang sana. tanpa pikir panjang lagi, Tiara segera mematikan sambungan telepon itu dan menyerahkannya pada Zidane untuk disimpan.
"apa kita bawa mereka ke rumah sakit dulu?"tanya salah seorang petugas meminta persetujuan pada Asmirandah. dan hanya dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.
*****
"lah kenapa malah dimatikan?"tanya wanita itu dengan raut wajah bingung Seraya menatap ke arah ponselnya yang masih terdapat riwayat panggilan dari sang Bunda.
__ADS_1
Tut Tut Tut
"aaakkkhhhh kenapa malah tidak aktif seperti ini?"tanya wanita itu mengeram kesal. tak lama berselang datang seorang laki-laki menghampirinya. siapa lagi orangnya jika bukan Yudha. laki-laki itu langsung duduk di samping Naomi.
"ada apa?"tanya laki-laki itu menatap ke arah wanita yang pernah menjadi partner hidupnya itu.
Tak Ada jawaban dari Naomi. wanita itu hanya terdiam Seraya mencoba untuk menghubungi ponsel ibunya berkali-kali. namun hasilnya masih tetap sama tidak ada jawaban dari seberang sana.
prang!
Benda pipih itu, seketika hancur berantakan dan berkeping-keping saat mendarat dengan mulus di lantai marmer rumah itu.
"hei apa yang terjadi padamu?"tanya Yudha yang merasa kesal karena diabaikan.
"kenapa kedua orang tuaku tidak bisa dihubungi seperti ini?"bukannya menjawab, wanita itu malah bertanya Seraya menatap ke arah Yudha.
"memangnya apa yang terjadi?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah penasaran.
"aku menceritakan semuanya pada kedua orang tuaku. bagaimana kelakuan Asmirandah selama mereka tidak ada di rumah. dan sesuai prediksiku, mereka marah besar. mereka akhirnya memutuskan untuk pulang untuk menemui wanita itu. tapi seharusnya, mereka sudah ada di rumah ini sekarang. tapi kenapa belum nyampe juga?"tanya wanita itu dengan raut wajah gelisah.
Yudha yang mendengar itu, seketika tersenyum simpul." Tenanglah. aku yakin, mereka akan segera sampai di rumah ini."ucap laki-laki itu dengan senyuman yang tiba-tiba saja mereka.
Yudha sudah merasa tidak sabar dengan apa yang akan terjadi kedepannya. dirinya sudah menyiapkan rencana dengan sangat matang untuk mendapatkan wanita itu kembali ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"saat nanti orang tuamu sudah sampai di sini, kau harus bisa membujuk mereka agar melaksanakan rencana yang pernah gagal beberapa waktu yang lalu akibat kebodohan yang pernah kita lakukan dulu."ucap laki-laki itu menatap datar ke arah mantannya itu.