Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 154


__ADS_3

Sore harinya,...


Oma Keisha, seketika mengerutkan keningnya. saat wanita sepuh itu melihat kedatangan dari Zidane yang begitu lesu dan juga murung. biasanya setelah mendapatkan tender besar seperti ini, laki-laki berwajah manis itu akan sedikit sumringah. namun sekarang begitu murung dan juga diselimuti aura hitam pekat.


"kamu ini kenapa? apakah kerjasamanya gagal?"tanya Oma Keisha dengan tatapan tajamnya.


Dan hal itu sama sekali tidak digubris oleh Zidane. membuat wanita renta itu semakin mengerang kesal.


"Jadi benar apa yang Oma pikirkan ini?"tanya wanita itu sekali lagi untuk memastikan. namun tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.


"astaga kenapa seperti ini?!"jeritnya histeris dan langsung menatap tajam ke arah cucunya itu.


"Jika kamu tidak bisa untuk mengatasi pekerjaan ini, kenapa kamu tidak meminta bantuan Papi kamu saja? dasar ceroboh!"hardik wanita tua itu murka.


braaakk


Seketika itu pula, suasana di rumah itu menjadi sangat hening. sesaat setelah Zidane menendang meja kaca itu hingga pecah berhamburan.


"ke.. kenapa kamu malah mengamuk seperti ini?"tanya Oma Keisha dengan tubuh gemetaran. karena seumur hidupnya, wanita renta itu tidak pernah mendapati cucu dari anak pertamanya itu sampai mengamuk seperti ini. tentunya Hal itu membuat Oma Keisha merasa sangat terkejut.


"Zidane apa yang kamu lakukan?!"teriak Rafael murka. karena laki-laki paruh baya itu melihat dengan jelas, bagaimana ketakutannya sang ibu saat melihat apa yang dilakukan oleh Zidane beberapa saat yang lalu.


"kita gagal mendapatkan proyek dari perusahaan Dirgantara Corp. dan itu semua, karena ulah dari Oma Keisha yang terus saja menahanku untuk mengajak berdebat. kalian tahu sendiri, kan? bahwa Tuan Bayu Dirgantara itu, sangat menerapkan sikap disiplin dan juga otoriter? karena mengobrol itu, aku menjadi terlambat dan Semuanya berakhir dengan kita, yang tidak mendapatkan kerjasama itu."setelah mengatakan hal itu, Zidane segera terduduk lemas meratapi kekalahannya dan kerugian fantastis itu.


Sementara Oma Keisha dan yang lain, hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. sebenarnya wanita rentah itu, ingin sekali meminta maaf dan menenangkan hati cucunya. Namun karena rasa gengsi yang luar biasa, pada akhirnya Oma Keisha hanya terdiam.


"tetap saja Ini semua karenamu. Jika kamu tidak mengulur waktu, maka semua ini tidak akan pernah terjadi."Zidane seketika menoleh ke arah sumber suara saat mendapatkan sebuah kalimat yang tidak mengenakan di Indra pendengarannya itu.

__ADS_1


"Bu, kenapa jadi nyalahin Zidane? bukankah ini,..."Ajeng tidak kuasa untuk kembali melanjutkan kalimatnya karena mendapatkan tatapan tajam dari semua orang yang ada di sana. terutama wanita tua itu.


Membuat Ajeng sendiri, seketika hanya dapat menghela nafas lelah dan frustasinya. selalu saja, wanita rentah itu tidak mau disalahkan dan malah menyalahkan orang lain dengan alibi yang tidak masuk akal itu. padahal jelas-jelas, semua itu kesalahan dari orang yang dianggap sesepuh di keluarga Prakoso itu.


Karena merasa lelah dan juga jengah, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk pamit ke kamarnya.


"sudahlah Mi, tidak usah dipermasalahkan lagi ini semua memang salah Zidane. kalau begitu, Zidane pamit dulu."pamit laki-laki berwajah manis itu pada semua orang yang masih anteng di tempatnya.


braaakk


Zidane segera menutup pintu kamarnya itu rapat-rapat. laki-laki berwajah manis itu tampaknya sudah tidak memperdulikan apa yang akan dilakukan oleh keluarga dari Prakoso atas tindakan sedikit tidak supaya itu. Zidan benar-benar tidak peduli. yang jelas saat ini, laki-laki itu hanya ingin beristirahat setelah bermain cukup lama dengan Putra tunggalnya itu.


Yap saat ini, Haidar memang masih menjadi Putra tunggal dari Zidane. dan dengan lancangnya, laki-laki berwajah manis itu menyematkan gelar Prakoso di belakang nama putranya.


Zidane sama sekali tidak peduli tentang apa yang akan dilakukan oleh orang-orang itu jika mengetahui nama belakang dari bocah kecil itu. karena menurut laki-laki berwajah manis itu, Haidar juga mewarisi darah dari keluarga Prakoso. sehingga seharusnya, bocah kecil itu juga memiliki hak untuk menyandang nama belakang itu.


tok tok tok


"sebentar Mi."dengan langkah gontai, Zidane segera membukakan pintu kamarnya. tersenyum manis saat melihat keberadaan dari wanita yang telah berjuang melahirkannya itu.


Mereka berdua segera duduk di sofa panjang yang memang ada di ruangan itu. sesekali mereka akan melihat momen saat keduanya bermain dengan Haidar. bocah kecil itu, sudah sedikit lancar berjalan dan juga pepatah dua patah kata, berhasil menyebutkan sebuah kalimat. tentunya Hal itu membuat Zidane sebagai sang Ayah merasa begitu bangga.


"oh ya nama lengkap anak kamu itu siapa?"tanya Ajeng secara tiba-tiba. hingga membuat Zidane yang mendengarnya, sedikit merasa heran.


"kenapa memangnya Mami?"tanyanya dengan raut wajah penasaran.


"oh tidak Mami hanya ingin tahu saja."jawabnya Seraya tersenyum simpul.

__ADS_1


"namanya adalah Haidar Prakoso!"ucapnya Seraya membalas senyuman sang ibu.


Mendengar ucapan dari putranya itu, mendadak senyum dari Ajeng seketika luntur.


"kenapa? Mami tidak suka?"tanya Zidane menatap lekat ke arah wanita paruh baya itu.


"bukannya Mami tidak suka atau apa? Tapi, bukankah nama itu lebih beresiko? kamu pasti tidak akan pernah lupa, kan jika keluarga dari ayahmu itu begitu kejam?"tanya Ajeng mencoba untuk memperingatkan putranya.


"aku tahu Mi. tapi aku rasa, Haidar itu adalah darah dagingku. dia itu juga berhak mendapatkan gelar dari keluarga kita."sahutnya Seraya menyandarkan kepala di sandaran kursi.


"Mami tahu itu Sayang. tapi bukankah lebih baik, jika untuk saat ini menghindar saja. karena Mami tidak ingin, ada masalah ke depannya.


"aku harus menggantinya dengan apa?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah lesu dan juga penasaran.


"bagaimana jika gabungan antara namamu dan juga nama Asmirandah?"katanya wanita paruh baya itu memberikan usul.


Zidane yang mendengar itu, tampak terdiam untuk memikirkan sejenak.


"Haidar Azdha Kurniawan."ucapnya Seraya tersenyum simpul.


"nah itu lebih baik."sahut Ajeng Seraya menganggukkan kepala. telah berbincang-bincang cukup lama dengan putranya itu, pada akhirnya Ajeng memutuskan untuk kembali ke kamar menemui sang suami.


Karena Ajeng takut, apa yang dia lakukan akhir-akhir ini menjadi kecurigaan tersendiri untuk orang-orang yang ada di sana. Apalagi, Tiara sudah mengetahui. dan wanita itu, susah sekali untuk ditebak jalan pikirannya.


"Ya sudah! kalau begitu, Mami kembali lagi ke kamar. supaya tidak ada yang mencurigai kita."setelah mengatakannya, Ajeng segera pergi dari sana.


Sementara Zidane sendiri, laki-laki itu kembali menatap ke arah ponselnya sesekali akan tersenyum saat melihat tingkah lucu dari putranya itu.

__ADS_1


bisakah kalian mampir di sini?



__ADS_2