
Keesokan harinya,...
Kehebohan di dalam keluarga Prakoso, masih saja terjadi. karena Oma Keisha, masih tetap wbenar khawatir dengan kondisi cucu menantu kesayangannya itu.
"Oma, Zidane berangkat dulu ya?"pamit laki-laki berwajah manis itu pada wanita renta itu.
"mau ke mana kau?"tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan yang sangat tajam.
Zidane mengerutkan keningnya sejenak."Tentu saja aku ingin pergi ke kantor. memangnya, kenapa?"tanya laki-laki itu tak paham.
"Kau masih memikirkan pekerjaan, sementara istrimu terbaring lemah tidak percaya seperti ini? Di mana hati nuranimu."semprot Oma Keisha galak.
Zidane yang mendengar itu seketika menghela nafas panjang."aku ada penting-penting Oma, aku harus segera pergi dari sini."sahut laki-laki itu tetap melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Omah Keisha yang merasa sangat kesal, hendak berdiri dan kembali mengomeli cucunya itu. namun tindakannya seketika terhenti. saat merasakan tangan lembut Tiara, menyentuh punggung tangannya.
"sudah Oma tidak apa-apa."ucapnya Seraya tersenyum simpul. membuat Oma Keisha yang melihat itu, seketika lirik ke arah cucu laki-lakinya itu dengan tatapan sengitnya.
"tuh beruntung kamu memiliki istri yang pengertian seperti itu. jika Oma yang jadi Tiara, maka kamu akan Oma kurung dan tidak boleh pergi."ucapnya sewot.
Zidan yang mendengar itu pun tak memperdulikan apa perkataan dari wanita tua itu. karena laki-laki berwajah manis itu masih tetap melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman Prakoso.
"sial kenapa menjadi seperti ini?!"tanya laki-laki itu Seraya memukul setir mobil dengan perasaan kesal.
Setelah mencoba untuk menenangkan diri, laki-laki itu memutuskan untuk segera berangkat ke kantor.
Tak membutuhkan waktu lama, karena mobil yang dikendarai oleh Zidane, telah sampai di perusahaan milik keluarganya.
"Tuan Zidane, anda sudah datang?"seseorang karyawan datang menghampiri laki-laki itu dengan wajah sedikit panik.
"kenapa, apa yang sebenarnya terjadi?"tanya laki-laki berwajah manis itu seraya memicingkan matanya. karena melihat kepanikan dari para karyawannya itu.
"Tuan Dirgantara telah sampai."ucap wanita itu sering membungkuk hormat.
"oh, shiitt." umpatan kecil itu, seketika lolos dari mulut laki-laki manis itu. membuat prakarya yang ada di sana, sedikit tersentak. karena mereka semua tidak pernah mengetahui jika Tuan muda dari perusahaan PRK.Corp mampu melompat sampai seperti itu.
"di mana dia sekarang?"tanpa memperdulikan tatapan dan juga raut wajah dari para karyawannya, Zidane segera mempertanyakan Di mana letak dari laki-laki yang terkenal disiplin dan otoriter itu.
__ADS_1
"dia sudah berada di ruangan."jawab mereka dengan sedikit takut.
Zidane yang mendengar itu segera berlari untuk menuju ke tempat di mana mana Tuan Bayu Dirgantara berada.
brakk
"kenapa Anda terlambat, Tuan?"tanya Bayu dengan nada suara yang sangat dingin.
"maafkan saya tuan Bayu. saya mengaku salah."ucapnya Seraya mengandung hormat.
"saya tidak bisa mentolerir sebuah keterlambatan sekecil apapun itu. karena bagi saya, seseorang yang telah terlambat tidak bisa diajak kerjasama. karena orang itu pasti tidak akan pernah serius"jawabnya dengan tegas.
Tentunya itu membuat Zidan yang mendengarnya, seketika mendesah pasrah. dalam hati laki-laki itu tak henti-hentinya mengumpat karena merasa kesal.
"dasar menyebalkan!" gumamnya Seraya membuang nafasnya kasar.
Karena meeting yang diidam-idamkannya gagal, pada akhirnya Zidan memutuskan untuk menemui sang Putra. karena memang, jadwal hari ini hanyalah meeting dengan perusahaan Dirgantara.
Dan pada akhirnya, laki-laki berwajah manis itu memutuskan untuk pergi menemui anaknya saja daripada harus pusing memikirkan kerjasama yang tidak bisa dilanjutkan lagi itu.
Sesampainya di kediaman pribadinya, Zidane segera bermain dengan putranya yang saat ini tengah latihan berlari. tentunya Hal itu membuat laki-laki berwajah manis itu, tersenyum senang saat melihat perkembangan yang begitu pesat dari putranya itu.
Di saat laki-laki itu tengah asik bermain, ponsel yang ada di dalam sakunya pun berdering.
"iya Mi, ada apa?"tanya laki-laki itu masih mencoba untuk fokus bermain dengan putranya.
("halo Zidane, kamu sekarang ada di mana?")
"aku ada di rumah bersama dengan Haidar."
("loh kenapa ada di sana? memangnya kamu nggak kerja? bukankah ada meeting dengan keluarga Dirgantara?")
Terdengar pertanyaan bertubi-tubi dari Ajeng di seberang sana. membuat laki-laki berwajah manis itu, seketika menghela nafas kasar. karena jika mengingat akan hal itu, mod dari laki-laki itu memburuk.
("kenapa Sayang, ada apa?")
"sebaiknya Mami datang ke sini saja."setelah mengatakan hal itu, Zidane segera mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
****
"kenapa kau sampai pendarahan seperti ini?"tanya Oma Keisha dengan nada yang sangat lembut.
Sementara Tiara sendiri, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu sempat terdiam untuk beberapa saat. hingga tak lama berselang, wanita itu mulai menceritakan apa yang ia alami.
Tentu saja hal itu membuat Oma Keisha yang mendengarnya, merasa begitu terkejut. wanita sepuh itu memutuskan untuk mencari keberadaan dari wanita yang tidak tahu diri seperti Naomi itu.
"sudah Oma tidak usah. lagi pula setelah kita bertengkar itu, dia juga terluka parah mungkin saja sudah kabur entah ke mana."ucapnya mencegah wanita renta itu.
Helaan nafas lega, seketika langsung terhembus dari mulut wanita renta itu."syukurlah kalau begitu. ya sudah kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja.
Sepeninggalan dari wanita renta itu, senyuman miring seketika tercetak dari wajah cantik milik Tiara.
"Kau ingin melawan ku Naomi? sekarang lihatlah dirimu. sudah menjadi abu."ucapnya Seraya terkekeh kecil.
***
Ajeng kini sudah berada tepat di depan rumah milik putranya itu. dengan segera, wanita paruh baya itu masuk ke dalam sana. senyumnya sempat mengembang saat melihat tingkah lucu dan menggemaskan dari Haidar.
"kenapa wajahmu kusut sekali?"tanya Ajeng Saat melihat raut wajah dari Putra tunggalnya itu.
Dengan perlahan tapi pasti, Zidane mulai menceritakan semuanya. membuat Ajeng yang mendengar itu, seketika menghembuskan nafasnya pelan.
"sudahlah mungkin itu bukan rezeki kita."ucap wanita paruh baya itu mencoba untuk menenangkan Sang putra.
****
Sementara itu di tempat lain, Asmirandah baru saja membuka matanya. dan wanita itu sempat merasa terkejut dengan kehadiran Jordan yang masih berada di sampingnya.
"kenapa dia tidak bekerja?"tanya Asmirandah pada dirinya sendiri.
"aku sengaja libur karena ingin menghabiskan waktu denganmu."Asmirandah tersentak kaget saat mendapatkan jawaban dari laki-laki itu. ditambah lagi dengan tubuh rampingnya yang telah di dekat oleh Jordan.
"a.. aku mau ke kamar mandi."entah mengapa wanita itu sedikit merasa gugup akhir-akhir ini jika berdekatan dengan laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu.
yok bisa yok melipir ke sini sebentar.
__ADS_1