
Saat ini, Zidane tengah berada di kediamannya sendiri bersama dengan Putra dan juga sang ibu. mereka saat ini tengah berbincang-bincang hangat. membahas tentang barang yang baru saja sampai di rumah itu. apalagi jika bukan susu dan juga baju bayi yang dibelikan langsung oleh racun dari suatu tempat.
"bagaimana, apakah kamu suka modelnya?"tanya Ajeng Seraya menenteng baju bayi berwarna coklat itu.
Zidane yang mendengar itu, seketika tersenyum simpul. kemudian dengan segera menganggukkan kepala.
"semua yang Mami pilihkan, cocok-cocok saja untuk Haidar."balas laki-laki itu Seraya sesekali menatap Sang putra yang tampak tertidur lelap di atas pangkuannya.
Hening.
Sesaat suasana di antara mereka mendadak menjadi hening. karena saat ini kedua orang itu tengah memikirkan sesuatu di dalam otak masing-masing hingga tak berselang lama,..
"apakah kamu sudah sempat menemui Asmirandah?"tanya sang Ibu mencoba untuk membuka pembicaraan.
Membuat Zidan yang mendengar itu, seketika menatap ke arah wanita paruh baya itu dengan tatapan sedikit tak percaya. bagaimana ibunya tahu jika dirinya sempat bertemu dengan Asmirandah beberapa waktu yang lalu? apakah ibunya itu menurunkan bala bantuan?
Otak kecil dari Zidane, seakan langsung dipaksa untuk memikirkan sesuatu hal yang begitu rumit.
"apa Mami sengaja mengikuti langkahku dengan menyewa orang-orang kepercayaan Mami?"akhirnya pertanyaan yang sejak tadi menggantung dan berputar-putar di dalam otaknya, berhasil diucapkan oleh Zidane.
Ajeng yang mendengar itu seketika menggelengkan kepala."tidak."jawabnya santai.
"lalu?"tanya laki-laki itu Seraya menaikkan sebelah alisnya.
"hanya feeling saja. kau lupa aku ini siapa? aku adalah ibumu. wanita yang telah bertaruh nyawa untuk mengeluarkanmu dari dalam perut. Tentu saja aku merasakan apa yang kamu rasakan dan juga memiliki feeling yang cukup kuat."jawab wanita itu Seraya menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Zidane hanya terdiam. pikiran dari laki-laki berwajah manis itu seketika malanglang buana terlempar di kejadian saat dirinya baru saja menemukan keberadaan wanita yang sangat ia cintai itu. Namun semua, harus gagal total akibat aksi dari adik sepupunya itu.
Mengingat hal itu kembali, Zidane seketika mengepalkan kedua tangannya karena merasa geram dengan tingkah laku dari laki-laki yang masih memiliki hubungan kerabat dengan itu.
"kenapa?"tanya Ajeng Saat melihat ekspresi dari putranya itu yang tak biasa.
"tidak apa-apa!"kilah Zidane Seraya membuang muka ke arah lain. karena memang, laki-laki manis itu tidak ingin melihat tatapan mata ibunya. hingga nantinya, dirinya tidak akan pernah bisa berbohong.
"Zidane!"panggil Ajeng dengan nada suara yang sedikit berbeda. dan jika sudah seperti itu, laki-laki itu sama sekali tidak bisa untuk mengelak lagi.
"aku memang sudah bertemu dengan Asmirandah. tapi sayangnya, Jordan segera menyadari hal itu. Dan Dia mengancam, akun melenyapkan Asmirandah. untuk itulah, aku mengalah dan melepaskan Asmirandah kembali ke dalam pelukan Jordan. karena aku tidak ingin, wanita yang aku sayangi dan masih berada di titik tertinggi dalam hatiku, menjadi hancur karena keegoisan ku sendiri."ungkap laki-laki itu Seraya menundukkan kepala karena tidak kuasa dalam menahan kesedihan di dalam dadanya.
Sementara Ajeng sendiri, wanita paruh baya itu hanya dapat membekap mulutnya karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh anak dari adiknya itu.
"kenapa Jordan bisa berubah seperti itu?"tanya Ajeng lirih Soraya menggelengkan kepalanya. karena wanita paruh baya itu, benar-benar tidak menyangka bahwa keponakannya akan menjadi sosok monster yang sangat menakutkan.
*kalau begitu, kita harus benar-benar mengatakan hal ini pada kedua orang tua Jordan. karena Mami tidak ingin, laki-laki itu akan semakin semena-mena."putus Ajeng secara tiba-tiba.
Sontak saja perkataan dari wanita paruh baya itu, membuat Zidan yang mendengarnya seketika menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat.
"kenapa?"tanya Ajeng dengan raut wajah tidak mengerti.
"jika Mami melakukan hal ini, maka itu artinya seluruh rahasia Zidane juga akan terungkap. dan untuk yang satu itu, Zidan masih belum bisa menerimanya."ucapnya Seraya tertunduk lesu.
Ajeng yang mendengar itu, seketika itu terdiam. karena apa yang dikatakan oleh putrinya itu ada benarnya. jika sampai dirinya mengadu kepada kedua orang tua Jordan, maka tidak mungkin, rahasianya juga akan terbongkar. dan hal itu akan membahayakan Asmirandah dan juga Haidar. dan Zidane tidak ingin, jika hal itu sampai terjadi.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu. lebih baik, sekarang kita pulang dulu."ucap Ajeng mengajak putranya itu untuk segera pergi dari sana. sebelum semua orang, semakin curiga terhadap tingkah lakunya akhir-akhir ini.
Zidane segera menganggukkan kepala dan dengan segera, laki-laki itu mengantarkan putranya hingga sampai ke kamar.
"kalian semua!"tunjuk Ajeng pada para pekerja di rumah itu dan juga beberapa pengasuh yang ditugaskan untuk menjaga Haidar.
"semua keperluan dari Haidar, sudah saya persiapkan dan semuanya sudah ada di ruang penyimpanan. Jadi, jangan ada seseorang pun yang boleh membawa Haidar keluar dari rumah ini. karena semua fasilitasnya, sudah saya lengkapi termasuk juga dengan kesehatan dan juga imunisasi anak setiap bulannya. jaga dia dengan baik."setelah mengatakan hal itu, Ajeng dan juga Zidan segera pergi dari sana.
***
Sementara itu di tempat lain, terlihat dua orang wanita berbeda generasi tengah berbincang-bincang dan sesekali akan dipijat dan juga diperlakukan seperti seorang tuan putri. karena memang saat ini keduanya tengah berada di sebuah Spa termahal di kota itu.
"bagaimana Sayang, apakah kamu sudah rileks?"tanya Oma Keisha pada cucu menantunya itu.
"tentu saja Oma. badanku terasa sangat ringan."ucap Tiara dengan jujur.
"Bagus kalau begitu."ucap wanita renta itu Seraya tersenyum dengan begitu manis. hingga pandangannya, jatuh ke atas perut Tiara.
"kok tiba-tiba Oma jadi pengen cucu?"celetuk wanita tua itu.
uhuk uhuk uhuk
Seketika itu pula, Tiara tersedak salivanya sendiri karena merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Oma Keisha.
"kenapa Sayang, apakah Kau tidak ingin memiliki keturunan?"tanya wanita renta itu Seraya meneliti ekspresi wajah dari cucu menantunya itu. dan sialnya, tebakan yang yang dikatakan oleh Oma Keisha itu memang benar adanya. karena tujuan Tiara menikahi Zidane, hanya ingin membalaskan dendamnya.
__ADS_1
Mana mungkin wanita itu menginginkan memiliki keturunan bersama dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai? Tiara tidak mau dan tidak akan pernah mau untuk mengorbankan dirinya sampai sejauh itu.
"tidak apa-apa Oma. aku hanya merasa terkejut saja. nanti akan aku pikirkan kembali ucapan Oma."ucap wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu setelah berhasil mengendalikan dirinya sendiri.