
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Sang Ibu, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. sesaat laki-laki berwajah manis itu terkejut saat mendapati makanan yang ada di atas meja kecil samping tempat tidur.
"siapa yang memberikan makanan kepadaku?"tanya Zidane pada dirinya sendiri. dan untuk menuntaskan rasa penasarannya, pada akhirnya laki-laki berwajah manis itu memutuskan untuk bertanya pada para pelayan.
"siapa di antara kalian yang membawa makanan itu ke kamar saya."tanya Zidan pada para pekerja itu.
hening..
Sesaat suasana di ruangan itu terasa sangat bening. karena semua orang yang ada di sana, seketika saling pandang satu sama lain. membuat Zidane semakin yakin ada sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
"apakah ada sesuatu yang kalian tutupi?"tanya laki-laki itu Seraya memicingkan kedua matanya. menatap curiga kepada orang-orang yang ada di sana.
Kompak, para pekerja itu menggelengkan kepalanya.
"maaf tuan, saya hanya berinisiatif untuk memberikan Anda makan malam karena anda belum memakan apapun sejak sore tadi. maafkan atas keranjangan saya."pada akhirnya salah satu dari mereka melangkah mendekati laki-laki berwajah manis itu.
Zidane yang mendengar itu, seketika menghembuskan nafasnya panjang. sesaat pikiran buruk dari laki-laki itu enyah seketika.
Karena pada awalnya, Zidane berfikir bahwa makanan itu adalah jebakan dari Tiara untuk dirinya. namun setelah mendengarkan penuturan dari para pekerja itu, pikiran dan prasangka buruk itu seketika enyah seketika.
"Ya sudah kalau begitu saya masuk ke dalam dulu."ucap laki-laki itu Seraya melangkahkan kakinya untuk masuk kembali ke dalam kamar pribadinya. namun sebelum itu, laki-laki itu sempat menghentikan langkah kakinya.
"oh ya terima kasih atas makanannya."setelah mengatakan hal itu, Zidane kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar.
"hiks hiks hiks."setelah kepergian dari Zidane itu, salah satu dari mereka seketika menangis pilu. karena hidupnya akan segera dipertaruhkan dalam beberapa waktu ke depan itu. sementara yang lain, hanya dapat mencoba untuk menenangkan tanpa bisa berbuat apa-apa. karena memang, mereka juga berada dalam tekanan.
__ADS_1
Tak lama berselang, seseorang datang dari persembunyiannya dengan senyuman penuh kemenangan.
"akhirnya aku dan aku akan berhasil."sorak sorai wanita itu dengan begitu girangnya. siapa lagi orangnya jika Bukan Tiara. bahkan wanita itu sama sekali tidak memperdulikan pekerja yang dijadikan kambing hitam itu.
Dengan langkah kaki yang dibuat saringan mungkin, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu segera menuju ke kamar untuk mempersiapkan diri dengan penampilan sebaik mungkin. demi untuk membalaskan dendam pada Asmirandah, wanita itu mampu berubah menjadi sosok pribadi yang bahkan tidak dikenal oleh Tiara itu sendiri.
setelah selesai mengenakan baju dinas, wanita itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar Zidane. sementara para pekerja itu, memutuskan untuk tidak tahu menahu n tentang apa yang dilakukan oleh wanita itu.
tok tok tok
Perlahan tapi pasti, Tiara menjelma menjadi sosok wanita penggoda gerakan wanita itu begitu sangat lemah gemulai sangat berbeda dengan sikapnya yang sebenarnya. senyum Tiara seketika mengembang saat wanita itu mendengar suara rintihan dan juga erangan yang berasal dari dalam kamar laki-laki itu.
Senyumnya semakin mengembang, tatkala baru saja melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. kedua mata dari wanita berambut panjang sampai pinggang itu seketika berbinar saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
Perlahan tapi pasti, wanita itu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati mangsanya yang berada di atas tempat tidur dengan keadaan tak berdaya.
Tanpa pikir panjang lagi, karena Zidane sudah merasa tidak tahan dengan apa yang ia rasakan itu, laki-laki berwajah manis itu segera menerkam. namun dengan segera Tiara menahannya terlebih dahulu. Karena Wanita itu, ingin ada sensasi baru di antara mereka berdua. dirinya juga ingin merasakan bagaimana reaksi dari obat terkutuk itu.
Dengan langkah secepat kilat, wanita itu segera menyambar makanan dan juga minuman yang tersisa. tak lama berselang tubuh dari wanita itu pun juga merasakan hal yang sama. dan tiba-tiba saja matanya menjadi berkabut penuh dengan g*irah. tanpa pikir panjang lagi, Tiara segera melompat ke atas tempat tidur.
Merelakan dirinya sendiri menjadi umpan untuk dijamah orang yang sama sekali tidak ada dalam benak dan juga hatinya. memang jika orang yang sudah memiliki dendam, akan melakukan suatu hal apapun tanpa pikir panjang lagi. karena yang ada dalam pikiran mereka, hanyalah tentang rasa sakit dan juga tentang bagaimana cara untuk membalas perbuatan musuh.
***
"huh, huh huh ."nafas dari kedua insan itu seketika memburu sesaat setelah mereka berdua menyalurkan energi mereka dan mengurasnya secara total.
__ADS_1
Tiara tersenyum tipis di sela nafasnya yang masih tersengal akibat baru saja menyelesaikan permainan itu. sementara Zidane, laki-laki itu sudah terlelap karena memang merasa begitu lelah.
Di permainan kali ini, Tiara juga ikut andil dalam menjalankannya. tidak seperti pada awal mereka bermain dulu. yang semuanya, dikendalikan oleh Zidane seutuhnya.
"aku juga akan menyusulmu untuk memiliki keturunan dari laki-laki yang tidak aku cintai."ucap wanita itu lirih dengan senyuman getir yang terpatri di wajah cantiknya.
****
Sementara di kamar lain, terlihat Ajeng yang begitu gelisah. entah mengapa wanita paruh baya itu merasakan firasat yang tidak enak.
"Mami ini, kenapa?"tanya Rafael saat melihat tingkah laku dari istrinya. padahal kali ini, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. tapi wanita paruh baya itu, belum bisa untuk memejamkan mata entah apa yang ia pikirkan.
Tak lama berselang, ponsel yang ada di tangannya kembali berdering. dan hal itu semakin membuat Ajeng khawatir tidak karuan.
"tidak ada apa-apa Pi. lebih baik, Papi tidur lagi aja. Mami mau ke kamar mandi dulu."pamit Ajeng pada suaminya.
sebenarnya Rafael merasa sedikit heran dengan tingkah laku dari istrinya yang menurutnya tidak biasa itu. Namun kedua matanya terlalu malas untuk mencerna apa yang terjadi. dan pada akhirnya, laki-laki paruh baya itu memutuskan untuk kembali terlelap.
***
"halo, ada apa?"tanya Ajeng tanpa basa-basi pada orang yang ada di seberang sana.
("Maaf nyonya saya menghubungi anda sepagi ini. tapi kondisi dari tuan kecil sedikit mengkhawatirkan. sejak pukul 12.00 tadi, Tuan kecil menangis terus menerus. dan sampai sekarang, belum bisa ditenangkan.")
"baiklah kalau begitu saya akan segera ke sana."setelah mengatakan hal itu, Ajeng kembali masuk ke dalam kamar pribadinya dan kembali berbaring di atas tempat tidur.
__ADS_1