
Sementara itu di dalam kamarnya terlihat Asmirandah yang tengah gelisah. entah apa yang dipikirkan oleh wanita cantik itu saat ini sehingga dia tidak fokus. bahkan sesekali, Jordan akan menegurnya karena sesekali melamun saat diajak berbicara.
"kamu ini kenapa sebenarnya sayang?"tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu saat melihat ekspresi wajah dari wanita yang ia cintai itu.
Asmirandah yang mendengar penuturan dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, seketika menoleh ke arah sumber suara.
"entahlah aku juga tidak mengerti apa yang aku pikirkan saat ini."jawab wanita itu dengan lesu.
"Ada apa kenapa kamu memikirkan sesuatu?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah khawatir.
"tiba-tiba saja aku kepikiran akan Tiara."sahut wanita itu dengan cepat. dan tak lama berselang, air matanya mengalir dengan begitu derasnya.
Sontak saja hal itu membuat Jordan yang melihatnya, merasa begitu terkejut. laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajah yaitu langsung memeluk tubuh dari sang istri untuk menenangkannya.
" tenanglah sayang, mungkin itu hanya perasaanmu saja."ucapnya mencoba untuk menenangkan hati dari istrinya itu.
Asmirandah yang mendengar itu seketika menggelengkan kepalanya."tidak sayang. aku benar-benar merasa khawatir saat ini seperti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatku itu."ucapnya tanpa sadar menyebutkan bahwa Tiara masih menjadi sahabatnya.
Padahal wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, sudah melakukan kejahatan luar biasa. tapi tetap saja, dalam hati kecil Asmirandah masih menganggap Tiara sebagai sahabatnya.
Entahlah terbuat dari apa hati nurani dari wanita itu sehingga dapat memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya sedemikian rupa itu. bahkan pada Naomi sekalipun, Asmirandah juga sudah memaafkan wanita yang berstatus sebagai kakak kandungnya itu. walaupun, dia tidak berani untuk mengungkapkannya secara langsung.
"apakah aku boleh meminta sesuatu padamu?"tanya Asmirandah Setelah lama berdiam diri dalam pelukan suaminya itu.
"apa, apa yang sebenarnya ingin kau katakan sayang?"tanya Jordan dengan nada suara antusias. karena selama mereka menikah beberapa tahun ini, Jordan tidak pernah mendengar permintaan dari Asmirandah. entah wanita itu masih merasa sakit hati karena dirampas begitu saja, atau mungkin karena memang tidak berani untuk meminta sesuatu hal padanya karena pernah mendapatkan sebuah kekerasan dari laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu.
"tolong hubungi Mama Sahara. aku ingin mendengar suara dari mama Sahara!"pinta wanita itu pada akhirnya.
Jordan sempat mengerutkan pentingnya untuk beberapa saat kemudian. sebelum pada akhirnya, laki-laki itu pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Drrrttt Drrrttt
Lama laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu menunggu. hinggaktak lama berselang, sambungan telepon itu pun terhubung.
("iya Jordan ada apa?")
"mah ini ada Sheila yang ingin berbicara."beritahu laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu pada sang ibu.
Dengan gerakan cepat, pada akhirnya Jordan menyerahkan ponsel itu pada sang istri.
"halo bagaimana keadaan Mama sekarang?"tanya wanita itu dengan nada suara berbasa-basi.
Sebenarnya Asmirandah ingin sekali langsung menanyakan sesuatu hal pada Sahara. namun lagi-lagi, keberanian dari wanita itu yang setipis tisu, meruntuhkan semuanya.
("iya sayang semuanya baik-baik saja kok.")
"aaaakkhh sssstttt ampun! tolong jangan sakiti aku!"
"i...itu suara siapa Ma?"tanya Asmirandah dengan nada suara terbata-bata.
Bahkan kedua lututnya pun sudah seperti tidak memiliki tenaga untuk berdiri. sehingga pada akhirnya, wanita cantik itu memutuskan untuk langsung terduduk di atas tepian ranjang.
("itu istri dari Zidane tengah histeris karena katanya melihat hantu dari Naomi!")dengan segera, Sahara mengatakan hal itu.
Membuat Asmirandah sendiri yang mendengar itu seketika merasakan terkejut yang luar biasa.
'apa katanya tadi, Tiara melihat hantu dari Kak Naomi? sebenarnya ada apa ini?"tanya wanita itu dengan raut wajah kebingungan.
("Sheila kau masih ada di sana, kan?")
__ADS_1
Pertanyaan dari Sahara itu sukses membuat Asmirandah seketika terlonjak kaget. dan tak lama berselang, wanita cantik itu segera menganggukkan kepala.
"aku masih ada di sini Mah. oh ya kalau begitu, aku mau beres-beres dulu sampai jumpa nanti lagi ya Ma."setelah mengatakan hal itu Asmirandah segera mematikan sambungan teleponnya dan menyerahkannya pada Jordan.
"ternyata memang benar firasatku ini."gumam wanita itu dengan nada suara yang begitu pelan. demikian hal itu masih didengar oleh Jordan yang memang berada tepat di hadapannya.
"emangnya kau merasakan firasat apa?"tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu.
"aku beberapa hari ini di mimpikan oleh Tiara entah apa maksudnya aku juga tidak tahu. mungkin saja karena wanita itu saat ini tengah membutuhkan bantuanku."jelas Asmirandah pada suaminya itu.
"hah? bahkan setelah kau disakiti oleh Tiara kau masih menganggap wanita itu sebagai sahabatmu?"tanya Jordan dengan raut wajah tidak percaya.
Asmirandah yang mendengar itu seketika menatap ke arah Jordan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan."aku sudah memaafkannya. Karena bagaimanapun juga, Dia pernah menjadi sahabatku susah senang bersama. dan aku tidak bisa untuk membuat hal itu menjadi buruk." sejujurnya, Randa juga tidak mengetahui apa yang saat ini ia rasakan.yang jelas, Asmirandah sangat begitu berat untuk membenci Tiara.
Jordan yang mendengar penuturan dari istrinya itu, semakin terdiam. karena laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu benar-benar tidak menyangka bahwa hati dari Asmirandah akan seluas ini untuk memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya.
"aku memang benar-benar tidak salah memilihmu sebagai istri dan juga Ibu dari anak-anakku."dengan perlahan tapi pasti, Jordan segera memeluk tubuh dari Asmirandah dan membawanya masuk ke dalam kamar.
****
Sementara itu di dalam kamarnya, terlihat Tiara yang tampak gelisah. wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu sudah seperti orang yang tidak waras karena sesekali merasa takut luar biasa akibat teror yang diterima.
"apakah aku sekarang benar-benar sudah merasa tidak waras?"tanya wanita itu pada dirinya sendiri.
Karena jujur saja, wanita itu saat ini benar-benar merasa takut luar biasa. takut jika semua akan terbongkar begitu saja dan membahayakan posisinya sebagai menantu idaman di dalam keluarga Prakoso.
"Nyonya muda, apakah anda ingin makan sesuatu?" tanya Seorang perawat yang datang menghampiri kamar milik wanita itu.
Dengan secepat kilat, wanita itu seketika menggelengkan kepalanya. "tolong jangan ganggu aku dulu."pinta wanita itu dengan tubuh sedikit gemetaran.
__ADS_1
Perawat itu, hanya menganggukkan kepala Seraya menyerahkan sebuah botol di atas nakas. dan setelah itu, meninggalkan tempat itu.