
Satu minggu kemudian,.....
Keromantisan Zidane dan juga Asmirandah semakin lama semakin menjadi. bahkan mereka seperti perangko dan juga lem. tidak terpisahkan di manapun mereka berada. bahkan sesekali, orang-orang yang ada di sekitar mereka merasa geli dengan tingkah laku kedua manusia yang telah disatukan oleh ikatan pernikahan itu.
Namun demikian, baik Asmirandah ataupun Zidane tidak merasa terganggu dengan ucapan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka berdua sangatlah lebay. justru sebaliknya. mereka merasa bahagia dengan hubungan itu. terutama Zidane. laki-laki berkulit hitam manis itu, merasa berada di awang-awang.
Walaupun laki-laki itu tak menampik bahwa ada rasa takut yang sangat besar di hatinya. bagaimana jika ramuan itu nanti sudah tidak bereaksi? apakah mereka akan berpisah? dengan segera, laki-laki itu menggelengkan kepalanya. menepis semua rasa yang ada di dalam hatinya.
"jangan pikirkan sekarang itu bisa di pikirkan nanti. setidaknya saat ini, dia masih dalam pengaruh ramuan itu."Zidan Menghela nafas panjang.
Kemudian atensi laki-laki itu teralihkan pada ambang pintu. Karena sekarang, terdapat sosok bidadari yang tengah berdiri dan menatapnya dengan senyuman yang begitu manis.
"ada apa?"tanya Zidane yang melihat raut wajah berbeda dari istrinya itu.
"Bang aku ingin pulang. apakah aku boleh menemui kedua orang tuaku?"tanya wanita itu dengan raut wajah memelas.
"tidak ***..."ucapan Zidane seketika menggantung di udara. saat laki-laki itu melihat raut wajah sedih yang begitu mengiba dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Tak lama berselang, laki-laki itu menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya, menghembuskannya secara perlahan. biarkanlah wanita itu menemui kedua orang tuanya. toh dirinya telah menghabiskan banyak waktu dengan wanita kesayangannya itu. dan yang terpenting, dirinya telah menanamkan berbagai macam bibit di dalam ladang kesayangannya itu. pikir Zidane.
Memikirkan hal itu saja, membuat wajah Zidane seketika merah pada ada perasaan malu dan juga bangga yang tercipta dari wajah manisnya itu.
__ADS_1
"Abang!"pekik Asmirandah dengan raut wajah kesal saat wanita itu tidak mendapati jawaban yang memuaskan dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"iya iya. kita akan kembali ke kota kita. tapi, kamu harus janji sama Abang. bahwa kita akan sering bertemu."pinta Zidane dengan setengah hati.
Jika boleh memilih, Zidan ingin rasanya tetap mengungkung Wanita kesayangannya itu di rumah ini. namun, itu sama sekali tidak akan pernah terjadi.
Karena mereka memiliki kesibukan masing-masing yang harus mereka jalani setiap harinya. Lagipula, hubungan mereka ini masih disembunyikan dari orang-orang yang ada di dalam keluarga besarnya ataupun keluarga besar dari Orlando. dan Zidane masih memikirkan cara untuk mengatakan semuanya pada mereka.
Entah apa yang akan ia terima nantinya dari perbuatannya ini. yang jelas, Zidane masih belum memikirkan hal itu. biarlah dia menjadi tumbal oleh keluarganya sendiri. yang terpenting saat ini, dirinya telah memiliki Asmirandah seutuhnya. pikir Zidane dengan enteng.
Mendengar penuturan dari laki-laki itu, membuat Asmirandah seketika girang. wanita itu langsung memeluk tubuh Sang suami dengan erat. dan Hal itu membuat sesuatu di bawah sana, sedikit terusik.
Membuat senyuman dari Zidane seketika terbit dengan sempurna. dan tanpa basa-basi, laki-laki itu segera menggendong tubuh mungil istrinya untuk membawa ke kamar. tentunya Hal itu membuat Asmirandah seketika merasa terkejut.
Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Zidane. karena laki-laki berwajah hitam manis itu, masih tetap melangkahkan kakinya untuk menyusuri tempat demi tempat untuk menuju ke kamar mereka.
"Abang aku capek!"rengek Asmirandah. berharap bahwa laki-laki itu, akan melepaskannya untuk hari ini saja. karena sesungguhnya, Asmirandah merasa sangat kelelahan menghadapi aksi dari suaminya itu.
"hari ini saja. setelah ini, aku mengizinkanmu untuk pulang ke rumah dan menjalani hidup seperti biasa."pinta laki-laki itu dengan ekspresi wajah yang begitu menggemaskan.
Sehingga membuat Asmirandah yang melihat itu, seketika merasa tak kuasa dengan tingkah laku dari laki-laki itu.
__ADS_1
"baiklah tapi aku mohon, Abang melakukannya harus pelan-pelan."pinta wanita itu dengan raut wajah memelas.
Seketika itu pula, ada perasaan bersalah yang menyeruak masuk ke dalam relung hati laki-laki itu saat mendengar penuturan dari sang istri.
"apa selama ini aku berbuat kasar?"tanya Zidane menatap ke arah istrinya itu dengan tatapan yang sangat dalam.
Tanpa basa-basi, Asmirandah menganggukkan kepala. dan hal itu sukses membuat bulir bening yang ada di pelupuk mata Zidane, seketika mengalir dengan deras. sontak saja hal itu membuat Asmirandah ketika merasa terkejut dengan reaksi laki-laki itu.
"Ab.... Abang kenapa?"tanya wanita itu sedikit merasa takut dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"maafkan Abang sayang, Abang benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang Abang lakukan ini pernah menyakitimu."ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan. dan tak lama berselang, terdengar isak kan tangis dari laki-laki itu.
Asmirandah yang mendengar itu seketika menggelengkan kepala. jujur Saja, wanita itu sama sekali tidak berminat untuk membuat suaminya itu menyesali perbuatannya. sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Asmirandah itu hanyalah sebuah protes kecil. karena terkadang, laki-laki itu kelewat senang sehingga tidak jarang membuatnya kesakitan.
"Maaf Bang, tapi aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih seperti ini."ucap Asmirandah penuh dengan rasa penyesalan yang luar biasa di dalam dadanya. wanita cantik itu tidak menyangka bahwa apa yang baru saja ia katakan itu, benar-benar menyakiti hati suaminya.
Mereka berdua akhirnya larut dalam rasa penyesalan masing-masing. sebenarnya hal itu adalah masalah sepele. namun akan menjadi masalah besar jika wanita atau pria itu benar-benar menyayangi pasangannya. dan hal itu yang dialami oleh Zidane dan juga Asmirandah.
Setelah hampir tiga puluh menit menuangkan rasa yang ada di dalam kedua manusia itu, akhirnya sedikit bernafas dengan lega karena dapat mengontrol dan membuat hati mereka sedikit tenang.
"jadi, apakah kegiatan yang tadi bisa dilanjut?"tanya Asmirandah dengan raut wajah menggoda. tentu saja hal itu membuat Zidane yang mendengarnya, sedikit terperangah. namun tak lama berselang, senyuman menyeringai terbit dari bibir tipis laki-laki itu.
__ADS_1
"kau akan menyesal!"bisik laki-laki itu, tepat di telinga sang istri.
"siapa takut." tantang Asmirandah dengan senyuman yang sulit diartikan. dan pada akhirnya, Asmirandah benar-benar diterkam oleh laki-laki itu dan tidak diberikan ampun sedikitpun oleh Zidane.