
'Jika kamu mampu menghancurkan harapanku, maka aku juga akan menghancurkan harapanmu. Karena aku tahu, kau sebenarnya sangat mencintai Kak Zidane. tapi kau terlalu gengsi untuk mengakuinya ' batin Tiara. saat wanita itu, sudah berada dalam kamar pribadinya sendiri.
Rasa sakit hati yang luar biasa dirasakan oleh Tiara, sepertinya tidak mampu lagi untuk dibendung. Karena Wanita itu, menepis segala rasa yang ada di dalam hatinya hanya untuk membalaskan sejumput dendam yang mulai menggerogoti hati nuraninya.
"kau yang memulai menghancurkan harapan dan juga impianku. Maka jangan salahkan aku, jika aku akan melakukan hal yang sama padamu."setelah mengatakan hal itu, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu bangkit dari tempat duduknya.
Bersamaan dengan suara ketukan dari arah luar kamarnya. membuat wanita itu, seketika melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.
"apakah kamu sudah siap?"tanya Tika menghampiri putrinya yang sudah terlihat cantik itu.
Tiara yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke ruang keluarga di mana sang Papa berada.
"apa kita berangkat sekarang?"tanya Bagas saat melihat istri dan juga anaknya telah siap dan juga rapi.
Pasangan ibu dan anak itu, seketika menganggukkan kepala. membuat Bagas yang melihat itu, seketika tersenyum simpul.
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil mewah milik keluarga Delano itu terasa sangat sepi dan juga mencekam. membuat sepasang suami istri paruh baya itu, saling pandang satu sama lain. karena mereka berdua, baru pertama kali ini mendapatkan situasi seperti ini.
Karena biasanya, Tiara adalah sosok anak yang sangat cerewet dan juga suka sekali bercanda pada kedua orang tuanya. namun sekarang, wanita itu hanya terdiam Seraya matanya menatap lurus ke depan seperti memancarkan kekecewaan yang sangat mendalam.
"apakah ada masalah?"tanya Tika saat melihat ekspresi wajah putrinya yang tidak enak dipandang itu.
"tidak apa-apa Ma. aku hanya kepikiran tentang pekerjaanku saja."jawab wanita itu sekenanya.
Namun kedua orang itu tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh Tiara. tapi untuk saat ini, mereka memilih untuk mendiamkannya saja. siapa tahu, wanita itu akan bercerita dengan sukarela.
"oh ya Sayang bagaimana kondisi dari Asmirandah?"pertanyaan dari Tika yang secara tiba-tiba itu, sukses membuat Tiara yang awalnya memandang ke arah luar jendela, sontak saja menatap ke arah ibunya dengan tetapan yang sedikit horor.
Membuat wanita paruh baya itu, seketika merasa aneh dengan tingkah laku dari putrinya itu.
__ADS_1
"kau tidak ada masalah kan dengan Asmirandah?"kini giliran Bagas yang bertanya.
Membuat tatapan tajam itu, sekarang beralih menatap ke arah laki-laki paruh baya itu. membuat orang yang ditatap, menaikkan satu alisnya. seakan bertanya,'ada apa?'
Tiara yang melihat itu seketika menggelengkan kepala."aku baik-baik saja dengan Asmirandah. dia hanya sibuk bekerja. membuat kami, jarang sekali untuk bertemu."ucap wanita berambut panjang sampai pinggang itu pada akhirnya.
Rasanya sangat muak sekali saat harus mengatakan dan menyebut nama dari wanita yang pernah dianggap sebagai saudaranya sendiri itu.
****
"Zidane, apakah kamu ada di dalam?"tanya seorang wanita paruh baya yang saat ini tengah berdiri tepat di ruangan laki-laki itu.
Membuat si pemilik nama, seketika mengangkat wajahnya. Setelah beberapa jam lamanya, laki-laki itu menunduk untuk mengerjakan laporan di komputernya.
"Mami? untuk apa dia ada di sini?"tanya laki-laki berwajah manis itu Seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati ke arah sumber suara dan membukakan pintu ruangan itu.
"Ada apa Mi?"tanya Zidane menatap suara Ajeng dengan tatapan yang sulit diartikan juga penuh dengan kewaspadaan.
"Mi, kita mau ke mana?"tanya Zidane saat mereka berjalan dengan langkah terburu-buru.
"sudah lebih baik kamu ikut saja!"setelah mengatakan hal itu, Ajeng segera memasukkan putranya ke dalam mobil. sementara wanita paruh baya itu sendiri, langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Karena memang saat ini Zidan tengah berada di kota kedua orang tuanya untuk menjalankan bisnis keluarga mereka. menggantikan posisi Jordan yang memang menghilang tidak tahu kemana bersama dengan istrinya. sementara Haidar, berada kota yang lumayan jauh.
***
Tak membutuhkan waktu lama mobil yang ditumpangi oleh Zidane dan juga Ajeng itu telah sampai di kediaman keluarga Prakoso. bukan di kediaman Rafael. melainkan, di kediaman sesepuh keluarga itu.
"Akhirnya datang juga!" seru Oma Keisha dengan suara girangnya.
__ADS_1
"Ada apa ini?"tanya Zidane tanpa memperdulikan pertanyaan dari sang Oma.
Bukannya mendapat jawaban atas pertanyaannya itu, laki-laki berwajah manis itu segera ditarik oleh Opa Galang menuju ke sebuah aula yang memang ada di sana.
Seketika itu pula, kedua mata dari laki-laki berwajah manis itu membulat sempurna saat mendapati sosok yang ada di hadapannya saat ini.
Belum sempat laki-laki berwajah manis itu mengatakan protesnya, sang Opa sudah terlebih dahulu mengambil alih semuanya.
"saya Galang Prakoso, dengan ini menikahkan cucu laki-laki saya kepada putri dari keluarga Delano!"ucap laki-laki sepuh itu dengan suara yang sangat lantang.
Tak lama berselang, pemuka agama yang ada di hadapan mereka semua, memberikan anggukan kepala. yang menandakan, bahwa pernikahan itu telah Sah menurut keluarga Prakoso dan juga menurut pandangan Tuhan.
Syok? tentu saja. bahkan laki-laki itu, membeku di tempatnya untuk beberapa saat kemudian.
"apa ini maksudnya?"tanya laki-laki itu setelah selesai dalam menguasai dirinya sendiri.
Dengan perlahan tapi pasti, Tiara menghampiri laki-laki itu dan berbisik tepat di telinganya.
"kalau istrimu saja bisa merebut orang yang aku cintai, kenapa aku tidak bisa."ucapnya dengan tersenyum mengerikan.
Seketika itu pula, Zidane segera kembali membulatkan kedua matanya. dan tak lama berselang, laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
Dengan gerakan cepat, laki-laki berwajah manis itu segera menarik tangan wanita yang telah sah menjadi istrinya itu untuk menjauh dari kerumunan.
" apa yang kamu lakukan?"tanya laki-laki itu menatap tajam ke arah sahabat dari istrinya itu.
"apalagi, Tentu saja aku akan melakukan apa yang dilakukan oleh istrimu."ucapnya tersenyum miring.
"kau jangan gila! bukankah kau tahu sendiri jika apa yang dilakukan oleh mereka itu bukan salah Asmirandah?"tanya laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"aku tidak peduli! yang aku pedulikan saat ini, adalah membalaskan rasa sakit hatiku!" teriaknya dengan lelehan air mata yang membasahi wajah cantiknya itu.
"dasar gila!" Zidane tak henti-hentinya mengumpat wanita yang sukses menghancurkan kepercayaannya itu.