Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 121


__ADS_3

"Cup cup Sayang. jangan nangis ya," gumam Ajeng mencoba untuk menenangkan cucunya itu. karena Ajeng pun, juga merasa sangat kewalahan.


Karena bayi mungil berusia hampir 3 bulan itu, masih bisa untuk ditenangkan. tentunya,membuat Ajeng, semakin merasa bingung.


"apakah dia merindukan sosok ibunya?"tanya wanita paruh baya itu pada dirinya sendiri. Ajeng mulai kembali menenangkan bayi mungil itu.


"aduh kenapa malah semakin kencang menangisnya?"tanya wanita itu dengan nada yang sangat frustasi.


"apakah sudah diberi susu?"tanya wanita itu menoleh ke arah beberapa orang yang berdiri di belakangnya.


"sudah nyonya. tapi Tuan kecil tidak ingin meminumnya. ini juga bingung karena semuanya baik-baik saja."sahut salah satu dari mereka dengan menunduk hormat.


'apa terjadi sesuatu pada cucuku ini?'tanya Ajeng membatin. tanpa basa-basi lagi, wanita paruh baya itu segera menggendong dan membawa Haidar untuk ke rumah sakit.


Siapa tahu saja, memang tidak ada yang tidak beres dengan cucunya. Dan semoga saja, Haidar bisa ditangani oleh ahlinya di tempat itu. pikir Ajeng tanpa basa-basi.


Tak membutuhkan waktu lama, Ajeng dan yang lain Akhirnya sampai juga di rumah sakit khusus untuk bayi. merdeka segera masuk ke dalam tanah dengan langkah tergesa-gesa. dan dengan segera, ditangani oleh ahlinya yang kebetulan memang tengah bertugas.


"bagaimana keadaan cucu saya?"tanya Ajeng khawatir Seraya melirik ke arah Haidar yang masih ditidurkan di dalam box.


"sepertinya, cucu Anda tengah mengalami sakit."jawab dokter itu Seraya ikut melirik ke arah bayi yang masih menangis itu.


"kalau begitu, tolong sembuhkan dia. berapapun yang kalian minta, aku akan segera membayarnya. Asalkan, cucuku itu bisa sembuh."ucapnya tanpa pikir panjang lagi.


Karena memang pada dasarnya, Ajeng sangat menyukai dan menyayangi Asmirandah. hanya karena ego dari keluarga besarnya dan juga rasa takut yang menghampiri, membuat wanita itu bersikap demikian kepada menantunya.

__ADS_1


"kalau dia terkena penyakit luar, mungkin saya bisa bantu. tapi Ini masalahnya, cucu Anda ini terkena penyakit dalam."terang dokter itu. semakin membuat Ajeng yang mendengarnya, tidak mempercayai apa yang dimaksud.


"maksudnya bagaimana?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah bingungnya.


"sepertinya, cucu Anda ini sangat merindukan salah satu dari keluarga inti."jelas dokter itu.


degh


Jantung Ajeng seakan ingin lepas dari tempatnya. saat wanita paruh baya itu, mendengar penuturan dari dokter anak yang ada di hadapannya saat ini.


"apakah Ayah dan Ibu anak ini masih ada?"tanya dokter itu lagi Seraya menatap sekilas ke arah Ajeng.


"Ten... tentu saja. mereka semua masih ada dan juga masih lengkap."jawabnya dengan sedikit terbata-bata.


"kalau begitu, segera datangkan mereka. karena jika tidak, maka bayi itu tidak akan bisa diam. karena hanya dengan orang-orang yang bisa membuatnya nyaman yang dapat membuat bayi itu terdiam."setelah mengatakannya, dokter itu segera pergi dari sana. meninggalkan Ajeng yang masih termangu seorang diri.


Namun sayangnya, sampai detik ini pun wanita cantik itu masih belum bisa dihubungi. dan hal itu, semakin membuat Ajeng merasa sangat frustasi.


"aku harus hubungi Zidane."setelahnya, segera Mendail nomor Sang putra dan menghubunginya.


("Zidane, segera datang ke sini. karena putramu, sejak tadi menangis dan tidak bisa diam. kata dokter, Mungkin dia sangat merindukan kedua orang tuanya. cepatlah datang kemari. Mami tunggu!")


Karena tidak mendapatkan respon dari Zidane, pada akhirnya Ajeng hanya mengirimkan pesan pada laki-laki berwajah manis itu. kemudian kembali menatap ke arah sang cucu yang saat ini telah terlelap mungkin akibat kelelahan menangis cukup lama.


"maafkan Oma sayang. tapi Oma janji, Oma akan berusaha untuk menebus semuanya."ucapnya serah ya mengusap dinding kaca yang memisahkan jarak di antara mereka.

__ADS_1


****


drrrttt drrttt


Zidane ingin sekali mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering untuk mengangkat panggilan itu. namun, hal itu selalu diurungkan. saat Tiara dengan sengaja, menarik tangannya di hadapan Oma Keisha. hingga membuat laki-laki itu tidak bisa berkutik dan hanya bisa untuk mengikuti kemauan dari Tiara.


Setelah sedikit menjauh dari wanita tua itu, Zidane mulai melepaskan genggaman tangannya dan menatap tajam ke arah wanita itu. namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Tiara. Karena Wanita itu, hanya tersenyum menanggapi tatapan tajam suaminya.


Zidane seketika membuang nafasnya kasar. laki-laki itu memilih untuk duduk di kursi panjang yang ada di sana. sementara Tiara, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, sudah menghilang entah ke mana. dan yang jelas, Zidane tidak memperdulikan hal itu.


Dan di saat seperti itulah, dirinya bisa membuka ponselnya dengan leluasa. kedua matanya seketika membulat sempurna saat membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh sang Mami. tanpa pikir panjang dan memperdulikan apa yang ada di sekitarnya, laki-laki itu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu.


"aku harus cepat. aku tidak ingin, putraku kenapa-napa."gumamnya Seraya mempercepat langkah.


Tak membutuhkan waktu lama, laki-laki itu telah sampai di rumah sakit tempat putranya dirawat. entah bagaimana caranya, tapi yang jelas Zidane telah sampai di rumah sakit itu. padahal Jika waktu normal, laki-laki itu baru akan sampai jika sudah menempuh jarak waktu hampir 6 jam. namun bisa sampai dalam waktu kurang dari 1 jam. bisa kalian bayangkan bagaimana cepatnya laki-laki itu mengendarai kendaraan.


"bagaimana keadaan Putraku?"tangan Zidane. saat laki-laki itu, telah sampai di depan ruangan itu.


"masuklah ke dalam. temui anakmu! dekap dia!" titah wanita paruh baya itu dengan menyeka air matanya yang hampir saja jatuh karena melihat kondisi dari cucunya itu.


Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera masuk ke dalam setelah mensterilkan tubuhnya dan memasang semua atribut.


Di dalam sana Zidane tampak tertegun saat memandang ke arah Haidar yang masih menangis. tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera berjalan dan menghampiri bayi mungil itu.


Kemudian dengan segera, mulai mendekap tubuhnya dengan sangat erat. hingga membuat bayi mungil itu seketika tak mengeluarkan tangisnya.

__ADS_1


"maafkan Ayah sayang. Ayah belum bisa untuk membuatmu bahagia. karena sampai saat ini, Ayah belum menemukan keberadaan Mamamu."ucap laki-laki itu dengan tubuh bergetar hebat. tak lama berselang, terdengar isakan tangis yang sangat memilukan.


Sementara Ajeng di luar sana, juga ikut menitikan air mata karena tidak kuasa melihat penderitaan dan juga kesedihan dari Putra dan juga cucunya itu.


__ADS_2