Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 235


__ADS_3

"huh udah aku juga ternyata mereka memang benar-benar bersekongkol pantas saja sikap mereka berdua sedikit aneh."gumam Ajeng Saat mereka berdua telah berhasil membawa tubuh dari Tiara dan juga Nanda untuk memasuki kamar dan memberikan mereka di atas tempat tidur.


"Tante sudah merasa curiga dengan perlakuannya ditunjukkan oleh Nanda?"tanya Asmirandah Seraya menunjukkan arah wanita yang mengenakan pakaian pelayan itu.


"tentu saja karena tante juga mengawasi gerak-gerik semua orang yang ada di rumah ini termasuk para pelayan."sahutnya dengan cepat.


Asmirandah yang mendengar itu tampak terdiam. namun beberapa saat kemudian, wanita cantik itu seketika mengukir senyuman tipis karena merasa beruntung memiliki wanita paruh baya sekuat dan sehebat Ajeng di sampingnya.


"tunggu apa lagi ayo sekarang kita pergi."ucap Ajeng Seraya menarik tangan pada Asmirandah.


Membuat wanita itu sedikit tersentak kaget. Namun demikian tak lama berselang dari itu kedua sudut bibir dari wanita itu seketika tarik ke samping membentuk sebuah senyuman tipis.


"sebentar tante!"cegah Asmirandah saat mereka sudah berada di halaman depan rumah kediaman keluarga Prabowo.


"kenapa Ada apa?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menatap ke arah Asmirandah dengan raut wajah bingung.


" aku akan menitipkan Arabella dan juga Elvio pada para pelayan itu agar mereka memberikan yang terbaik pada keduanya."Asmirandah segera melangkahkan kakinya menjauh dari tempat di mana mereka berdiri saat ini.


Sementara Ajeng sendiri, menatap kepergian dari wanita itu dengan tatapan kagum. ternyata walaupun sudah disakiti oleh orang-orang yang ada di sekitar hidupnya, dia masih bersikap baik pada orang-orang itu.


"ayo Tante semuanya sudah selesai!"ucap wanita cantik itu Seraya menarik tangan di racun untuk segera keluar dari sana.


****


"huuuaaa! Mama!"


Zidane seketika menjembak rambutnya sendiri karena laki-laki berwajah manis itu benar-benar sangat kebingungan saat ini melihat putranya menangis dengan kencang dan memanggil mamanya berulang kali.


'ayo Asmirandah kapan kau akan datang kau tidak kasihan dengan putramu ini?"tanya laki-laki berwajah manis Seraya menatap putranya itu dengan iba.


Karena sejak semalam, bocah kecil berusia 2 tahun itu menangis dengan sangat kencang dan mencari keberadaan Asmirandah. tentunya segala upaya dan juga cara telah dilakukan oleh Zidan untuk menenangkan putranya itu. Namun ternyata angan-angannya tidak sesuai dengan kenyataan.

__ADS_1


karena pada kenyataannya header tidak bisa dikendalikan. mungkin karena rasa sayang dan juga rasa rindu yang begitu menggebu-gebu di dalam hati, sehingga membuat bocah kecil itu sampai seperti ini.


"sayang tenangkan dirimu."cek Zidane mencoba untuk menenangkan putranya itu. namun bukannya mendengarkan, Haidar justru malah semakin menangis dengan histeris.


Tentunya hal itu, membuat Zidan merasa sangat kewalahan. bahkan, para pengasuh dan juga pengawal yang biasa menangani anak itu pun juga ikut angkat tangan karena tidak bisa menanganinya lagi.


Tin Tin


Wajah dari mereka semua seketika berubah menjadi kebingungan saat mendengar suara klakson mobil dari arah gerbang sana.


"coba kalian periksa siapa yang datang itu!"perintah Zidane pada para pengawal yang memang sudah sedia di depan rumah.


Mereka semua menganggukkan kepala dan segera menuruni tangga rumah itu untuk menuju ke gerbang depan.


Tak lama berselang dari itu mereka semua kembali menghampiri Zidane yang masih mencoba untuk menenangkan putranya itu.


"siapa yang datang?"tanya Zidane dengan raut wajah penasaran dan juga sedikit khawatir. takut jika yang datang itu adalah orang suruhan Oma Keisha seperti dulu lagi.


Hal itu membuat Zidan yang mendengarnya seketika bernafas dengan lega karena apa yang ia pikirkan ternyata adalah sebuah kesalahan besar.


Dengan langkah tergesa-gesa dan langsung mengambil Haidar yang masih menangis, Zidan segera membawa tubuh mungil milik putranya itu untuk menghampiri Asmirandah dan juga yang ternyata sudah melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah itu.


"huh akhirnya kalian datang juga."ucapnya Seraya membuang nafas kasar.


"memangnya ada apa?"tanya Asmirandah dengan raut wajah heran karena melihat ekspresi wajah dari mantan suaminya itu yang begitu lega saat melihat mereka datang.


"Haidar sejak tadi malam terus saja menangis dan memanggil kamu."ucapnya Seraya menatap ke arah bocah kecil itu yang masih meronta-ronta dalam gendongan pengasuhnya.


Kedua bola mata dari wanita itu seketika membuat sempurna saat melihat bagaimana Haidar tantrum seperti itu. dengan perlahan tapi pasti, wanita cantik itu segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri Putra sulungnya itu.


"Mama!"

__ADS_1


Saat melihat Asmirandah berjalan menghampiri, Haidar langsung menyadarinya dan meminta untuk turun kemudian memeluk tubuh wanita itu dengan erat.


"Mama huuuaaa!"Kamis dari Haidar seketika pecah saat mendapati ibunya berada tepat di hadapannya dan langsung meminta gendong pada wanita itu.


"cup cup Sayang. jangan menangis seperti ini. bukankah kita sudah bertemu?"tanya wanita itu Seraya mengusap air mata dari putranya yang masih mengalir dengan begitu derasnya.


Kemudian setelah beberapa saat, Haidar tampak terdiam. kemudian bocah kecil berusia 2 tahun itu, tampak menguap. Asmirandah yang melihat itu segera membawa tubuh mungil putranya untuk berada dalam pelukan.


Kemudian wanita itu segera membawa Haidar untuk menuju ruang tamu.


"sudah tidur?"tanya wanita itu dengan raut wajah tidak percaya.


"karena dia memang tidak tidur semalaman menangis karena teringat dengan kamu."sahutan dari Zidane itu, membuat Asmirandah seketika tertegun.


Bukan karena mendengar suara dari Zidane yang membuatnya terdiam. Melainkan, saat mendengar ucapan dari laki-laki itu. jadi karena mencarinya, putranya ini sampai tidak terlelap sedikitpun? oh Tuhan kenapa rasanya sakit sekali? batin Asmirandah meronta-ronta.


"lalu bagaimana selanjutnya ini?"tanya Ajeng yang juga ikut cemas di hadapan mereka berdua.


"maksud Mami bagaimana?"tanya Zidane yang masih merasa tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ibunya itu.


"jika Haidar seperti ini terus, maka akan sangat sulit untuk membuat dia melepaskan Asmirandah. sementara itu, bukankah kita tahu bahwa Asmirandah memiliki kehidupan yang lain?"tanya Ajeng dengan raut wajah kebingungan.


Asmirandah dan juga Zidan yang mendengar itu seketika terdiam. karena apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu memang sangat benar sekali.


"hanya ada satu cara."ucap Zidane setelah mereka terdiam cukup lama.


"apa itu?"Ajeng dan juga Asmirandah kompak bertanya dan menatap ke arah laki-laki itu dengan raut wajah penasaran.


"kita berikan dia ramuan seperti apa yang dulu pernah aku berikan pada Asmirandah."ucap Zidane dengan ragu-ragu.


Kedua bola mata dari dua wanita itu, seketika membulat dengan sempurna saat dengar penuturan dari laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2