Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 231


__ADS_3

Tak lama berselang dari itu, Asmirandah segera membuka kedua bola matanya yang sempat tertutup sempurna akibat tertidur pulas Di samping Haidar. wanita cantik itu seketika terperanjat kaget saat mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar.


Padahal seingatnya, dirinya berada di dalam mobil bersama dengan putranya. tapi kenapa sekarang malah sudah berada di dalam kamar seperti ini.


Asmirandah sama sekali tidak terkejut Jika dia berada di kamar seperti ini. karena pastinya, itu adalah ulah dari Zidane mantan suaminya itu pasti yang membawanya masuk ke dalam kamar ini.


Akan tetapi bukan itu masalahnya. melainkan dia merasa tidak enak karena digendong oleh laki-laki itu padahal mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun. kenapa tidak dibangunkan saja kenapa harus diangkat secara diam-diam? itulah yang membuat masalah. karena Asmirandah masih merasakan detak jantungnya tidak normal saat berdekatan dengan laki-laki itu. karena memang, Dia sangat mencintai laki-laki itu.


Setelah puas melamun, Asmirandah segera menetap ke arah samping tubuhnya. di mana pandangan wanita itu, sudah disuguhkan oleh pemandangan di mana putranya berada saat ini. dan dengan hati-hati, wanita cantik itu segera mengalihkan tangan mungil milik Haidar, dari tubuhnya. karena dia harus menuju ke ruang tamu di mana Zidane dan Ajeng berada.


"i love you my boy!"bisik wanita itu dengan lelehan air mata karena tidak kuasa untuk menahannya. apalagi saat melihat raut wajah damai milik putranya itu.


Ibu mana Yang tega meninggalkan Putra menggemaskan seperti ini? akan tetapi semua harus dilakukan oleh Asmirandah agar tidak ada lagi salah paham di antara mereka semua. Asmirandah selalu berharap, jika Haidar nantinya bisa mengerti tentang posisinya itu.


"maafkan Mama sayang. Mama mohon, suatu saat nanti Jika kamu sudah dewasa dan mengetahui akan cerita ini tolong jangan membenci mama."ucap wanita itu berbisik di telinga putranya kemudian memberikan beberapa kali kecupan di sana.


Setelah puas melakukan hal itu, Asmirandah segera turun dari ranjang. kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu dengan langkah gontai.


"apakah kamu sudah ingin pulang?"Asmirandah telonjak kaget. saat wanita itu mendengar suara dari seseorang yang berada tepat di belakangnya. jantung dari wanita itu juga merasa tidak aman saat ini. karena bekerja lebih cepat dari sebelumnya.


Dengan perlahan tapi pasti, Asmirandah membalikkan tubuhnya. kemudian, dengan perlahan-lahan menganggukkan kepala.


"apakah besok aku boleh datang ke sini lagi?"tanya wanita itu dengan raut wajah mencoba untuk bernegosiasi dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Padahal tanpa diminta pun Zidan pun akan memberikan izin itu. karena memang, tujuan laki-laki itu datang membawa Haidar karena memang hal itu. namun entah mengapa, Asmirandah tetap saja mempertanyakan hal-hal yang sudah pasti seperti itu.


"Tentu saja boleh. bukankah memang tujuanku membawa Haidar ke sini hanya untuk bertemu denganmu?"tanya laki-laki berwajah manis itu Seraya terkekeh kecil.


Hal itu membuat Asmirandah seketika tersentak diam. namun dengan segera, wanita itu pun memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena tidak ingin berpapasan dengan senyuman laki-laki itu yang begitu memikat hati.


Hingga hal itu, membuat senyuman dari Zidane ketika luntur. dan tak lama berselang, berubah menjadi sosok seperti sebelum-sebelumnya yaitu datar dan juga penuh dengan aura intimidasi.


"kalian mau sampai kapan berada di sana?"pertanyaan dari Ajeng itu, sukses membuat keduanya seketika menoleh ke arah sumber suara.


Kemudian Asmirandah dengan segera melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita paruh baya itu.


"sebaiknya sebelum pulang, Kita habiskan makanan ini dulu. dan setelah itu, kau akan aku antarkan pulang." Zidane berucap di tengah-tengah suasana hening yang menyelimuti ruangan makan itu.


Ajeng yang mengerti apa yang diminta oleh Asmirandah, seketika menghela nafas panjang.


"biarkan dia pulang bersama Mami."ucapan dari Ajeng itu, membuat Zidan seketika menoleh kepada maminya dengan tatapan protes.


"jangan sekarang Zidane. apakah kau nanti ingin ketahuan dengan mereka?"tanya Ajeng menatap ke arah putranya itu.


Membuat Zidan seketika membuang nafasnya kasar. sementara Asmirandah sendiri, wanita cantik itu hanya terdiam. karena memang, dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh pasangan ibu dan anak itu.


****

__ADS_1


Setelah selesai menikmati makanan yang ada di atas meja makan itu, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk masuk ke dalam kamar di mana putranya berada.


Sementara Asmirandah, wanita cantik itu tampak kikuk. dirinya merasa bahwa Zidane saat ini, pasti merasa hatinya tidak enak. karena perubahan sikap dari Zidane itu, dilakukan setelah dia menolak permintaan dari laki-laki. tapi apa mau dikata, memang untuk saat ini dia tidak berani untuk melakukan hal yang aneh-aneh.


Asmirandah hanya bisa berdoa, semoga masalah ini segera terselesaikan dengan baik.


"kau tidak ingin menemui putramu terlebih dahulu sebelum kau pulang?"pertanyaan dari Ajeng itu, membuat kesadaran Asmirandah kembali. membuat wanita itu seketika langsung menoleh ke arah sumber suara. dan tak lama berselang, segera menganggukkan kepalanya walaupun sedikit merasa ragu.


Karena di sana, ada Zidane. dan Asmirandah merasa sedikit tidak nyaman jika harus berduaan dengan laki-laki itu. karena memang, sebagian hatinya masih berada pada laki-laki itu. akan tetapi sekali lagi, Asmirandah seperti tidak memiliki pilihan lain.


Pada akhirnya wanita cantik itu, memutuskan untuk segera menemui putranya yang berada di kamar.


Ceklek...


Saat pintu kamar dibuka dari luar, jantung dari wanita itu seakan ingin lepas dari tempatnya saat melihat kedua mata hitamnya itu bertatapan dengan mata elang milik Zidane.


Untuk beberapa saat kemudian, kedua pasangan mata itu saling menatap satu sama lain. hingga tak lama berselang, Asmirandah segera membuang wajah ke arah lain karena merasa tidak tahan dengan apa yang ia lihat saat ini.


Membuat Zidane yang melihat itu, sedikit merasa kecewa. Namun demikian, laki-laki itu tetap memaksakan diri untuk bersikap tenang. dia mencoba memposisikan diri sebagai Asmirandah. karena pastinya, hari-hari yang dilalui oleh wanita itu tidak akan pernah mudah.


"aku akan menunggumu sampai Kau benar-benar lepas dari laki-laki itu."bisik Zidane tepat di telinga Asmirandah. saat wanita itu melewatinya ingin menemui Haidar.


Jantung dari Asmirandah seketika berhenti berdetak. tubuhnya terasa kaku saat mendengar penuturan yang sangat merdu di gendang telinganya itu.

__ADS_1


Namun dengan cepat, Asmirandah memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke arah lain. sementara Zidane sendiri, seketika terkekeh kecil.


__ADS_2