
Setelah mendengar penuturan dari sang Papi, Zidane mulai mengerti dan mulai berusaha untuk melupakan Asmirandah. karena bagaimanapun juga, wanita itu tidak akan pernah menjadi kriteria dari keluarga laki-laki itu.
Karena keluarga besar dari Zidane, sangat menjunjung bibit bebet bobot. dan sepertinya, nama baik dari keluarga Orlando, sudah sangat tercemar akibat pernikahan dari Yudha dan juga Naomi itu. apalagi di dalam keluarga Prakoso.
Mereka sangat menatap rendah keluarga yang terkenal kaya raya itu. mereka semua tidak peduli Mau sekali apapun keluarga itu jika memiliki suatu kecacatan, maka akan selamanya dianggap buruk oleh keluarga itu.
"apa yang harus aku lakukan untuk kali ini?"tanya laki-laki berparas manis itu pada dirinya sendiri.
Saat ini, Zidane telah berada di taman belakang rumah mewahnya itu. keluar yang akan diambil oleh laki-laki karena jujur saja, Zidane sangat mencintai Asmirandah dan laki-laki itu tidak ingin kehilangan wanita yang ia cintai untuk yang kedua kalinya.
Setelah merenungi cukup lama dan tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah itu, Zidane memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya guna beristirahat. Di tengah perjalanan menuju ke kamar pribadinya, laki-laki itu tidak sengaja berpapasan dengan sang ibu yang baru saja keluar dari jalan dapur.
"kamu dari mana Zidane?"tanya Ajeng pada putranya itu.
"tidak dari mana-mana Mam, hanya dari taman belakang saja."setelah mengatakan hal itu, Zidane memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar pribadinya.
Sesampainya di dalam sana, laki-laki itu segera menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran king Size itu.
"bagaimana caranya agar keluar dari masalah ini?"tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri. Zidane mencoba untuk menenangkan dan mencari jalan keluar agar terbebas dari masalahnya saat ini. namun sampai waktu yang menunjukkan pukul sebelas malam, pikiran laki-laki itu masih tetap buntu tidak menemukan jalan keluar untuk masalahnya saat ini. pada akhirnya, Zidane memutuskan untuk menyerah dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur itu.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat suasana hati yang juga hampir sama dengan yang dialami oleh Zidane. wanita itu terlihat sangat cemas. dan sejak tadi, wanita itu mondar-mandir Seraya menatap ke arah kedua orang tuanya yang masih bercengkrama secara bergantian.
__ADS_1
Yap dia adalah Asmirandah. selama beberapa bulan ini, Zidane mencoba untuk meluluhkan hati wanita itu. dan sepertinya, usaha dari laki-laki berwajah manis itu sangat berhasil. Karena sekarang, Asmirandah juga telah memiliki perasaan pada laki-laki itu.
Namun di samping rasa Bahagia yang meluap-luap saat ini, Asmirandah juga merasa sangat takut. karena kedua orang tuanya, pasti tidak akan pernah setuju tentang hubungan yang akan dijalani oleh Asmirandah saat ini.
Karena seperti di keluarga Zidane yang sangat menentang keras sebuah keluarga yang telah memiliki masa kelam menjadi bagian dari keluarga mereka. dan begitu pula dengan keluarga Orlando. mereka telah merasa takut sebelum berani melangkah lebih jauh untuk masuk ke dalam keluarga orang lain.
Karena mereka sadar, jika diri mereka saat ini telah tidak pantas untuk dimiliki oleh keluarga-keluarga yang lain termasuk juga keluarga Prakoso. dan Hal itu membuat Asmirandah, merasa sangat ketakutan.
"aku harus berbuat apa sekarang?"tanya Asmirandah dalam hati. sungguh wanita itu benar-benar merasa sangat bingung saat ini.
drrrttt drrttt
Terdengar suara ponsel yang berdering dari dalam kamar wanita itu. tentu saja hal itu membuat Asmirandah segera berlari untuk menghampiri benda pipih yang menjadi kesayangannya itu.
"halo, apakah kamu baik-baik saja?"tanya Zidane dari seberang sana. karena laki-laki manis itu merasa, bahwa ada perubahan yang terjadi pada wanita yang sangat ia cintai saat ini.
"hmmm. aku baik-baik saja."ucap wanita itu Seraya tersenyum simpul. namun hal itu tak lantas membuat Zidane percaya. karena laki-laki berwajah manis itu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh kekasihnya saat ini.
"maafkan aku Asmirandah, aku belum bisa untuk membuat mereka menerimamu seratus persen. tapi aku janji, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat mereka merestui hubungan kita."terdengar suara yang sangat sungguh-sungguh dari seberang sana.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu, tanpa menggigit bibir bawahnya untuk menghindari wanita itu menangis. karena merasa dunia tidak adil padanya. Berkali-kali, wanita itu dibuat gagal oleh urusan cinta. dan itu membuat Asmirandah, merasa sangat frustasi.
"apakah kita bisa bertemu?"pertanyaan dari Zidane itu, sukses membuat wanita itu terjingkat dan tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"o...oh, baiklah kita akan bertemu beberapa saat kemudian."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah segera mematikan sambungan teleponnya dan segera melangkahkan kakinya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan sang kekasih.
Kembang yang sempat gugur akibat pengkhianatan itu, kini kembali merekah dengan sempurna dengan kehadiran Zidane yang begitu tulis mencintainya.
Sungguh, Asmirandah merasa sangat bersyukur mendapatkan cinta yang tulus dari laki-laki yang awalnya sangat ia benci itu.
****
"bagaimana keadaanmu, sayang?"tanya Zidane saat mereka telah berada di sebuah restoran kecil di kota itu.
"aku baik Bang. Abang sendiri apa kabar?"tanya wanita itu Seraya mengulas senyum tipis dengan sedikit malu-malu.
Tentu saja hal itu membuat Zidane yang melihatnya, merasa semakin gemes. laki-laki itu merasa sangat bersyukur karena telah berhasil menaklukkan dinding pembatas di dalam hati milik Asmirandah. entah apa yang akan terjadi jika wanita itu sampai saat ini masih membencinya? mungkin saja, Zidan tidak akan pernah kuat dalam menjalani hidup yang semakin lama semakin menyesakkan dada itu.
"bagaimana keadaan keluargamu?"tanya laki-laki itu menatap ke arah wanita yang sangat ia cintai itu.
"Papa sama Bunda baik-baik saja."jawabnya singkat.
"lalu Yudha dan juga Naomi?" tanpa sadar, Zidane bertanya mengenai hal itu pada Asmirandah. tentu saja hal itu membuat wanita cantik itu, seketika mendadak murung. dan Hal itu membuat Zidane yang menyadari akan hal itu, seketika salah tingkah dibuatnya.
"ummm Maaf aku tidak sengaja?"ucap laki-laki itu menundukkan kepalanya. karena merutuki kebodohan yang baru saja ia lakukan. hingga membuat wanita kesayangannya, seketika murung dan tidak lagi tersenyum cerah seperti saat mereka bertemu pertama kali.
"Tidak apa-apa Bang."ucap Asmirandah mengulas senyum tipis.
__ADS_1