
"apakah ini tidak berlebihan?"tanya Asmirandah Seraya menatap sekeliling bangunan itu yang telah didekorasi sedemikian rupa menjadi bangunan penyambutan untuk putrinya.
"tidak ada yang berlebihan untuk seorang ayah kepada anaknya." jawab laki-laki itu Seraya memberikan satu kali kecupan di kening Asmirandah.
Mereka berdua segera berjalan untuk masuk ke dalam Mansion yang memang telah berubah menjadi area pesta yang begitu mewah.
"ini hanya kita dan juga para pelayan yang ada di Mansion ini, kan? bukankah ini termasuk tindakan berlebihan?"Asmirandah masih mencoba untuk mempertanyakan fungsi dari dekorasi mewah yang ada di Mansion itu.
Jordan menggelengkan kepalanya."siapa bilang ini hanya untuk kita dan juga para pekerja di Mansion ini."
"maksudnya?"
"lihat itu!"tunjuk Jordan pada orang-orang yang ada di sana. kedua mata Asmirandah seketika menyipit ingin memastikan apa yang ia lihat saat ini.
"mereka,..." ucapan dari Asmirandah seketika terhenti saat menyadari bahwa keluarga dari para pelayan itu pun juga diundang secara khusus dan tentunya dibiayai oleh Arthur.
"iya aku juga mengundang mereka. tidak adil bukan jika salah satu dari mereka merasakan kenikmatan ini, tapi yang lainnya masih berada di rumah dengan makanan seadanya?"tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis itu Seraya menaikkan sebelah alisnya.
Tanpa sadar, asmiranda menyunggingkan senyuman yang begitu tipis saat mendengar penuturan dari laki-laki yang sebenarnya sangat ia benci itu.
"sebentar lagi, dokter Mala akan datang ke sini untuk memeriksa kondisi dari Putri kita. sebaiknya, kau beristirahat saja. karena pasti, Kau sangat kelelahan karena bergadang selama 3 hari ini untuk mengurus Putri kita."ujar laki-laki itu Seraya mengambil alih bayi mungil itu dari gendongan sang istri.
Asmirandah hanya menurut saja. Karena Wanita cantik itu, memang benar-benar sangat lelah karena terlalu fokus untuk merawat bayinya.
Wanita itu memutuskan untuk memejamkan matanya sesaat. dan tanpa sadar, dengkuran halus seketika terdengar dari mulut wanita itu. membuat Jordan yang melihatnya, seketika tersenyum simpul.
__ADS_1
"Sepertinya dia lelah sekali!"gumam laki-laki itu Seraya terkekeh pelan.
Sementara orang-orang yang ada di Mansion itu mulai sibuk untuk mendekorasi yang belum selesai.
"maaf tuan, acaranya dilaksanakan kapan?"tanya salah seorang pelayan menghampiri Jordan yang tengah menimang-nimang putrinya itu.
"nanti malam!"sahutnya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. pelayan itu pun menganggukkan kepala dan langsung memerintahkan yang lain untuk segera mempercepat pekerjaan mereka.
"kau begitu cantik dan menggemaskan sayang. Daddy akan memberikan kamu nama, Arabella Belva Laurence."bisik laki-laki itu Seraya mencium kening mungil milik putrinya.
Setelah ke hari kelahiran putrinya itu, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu mulai sedikit melunak. wajah tegasnya tidak selalu mengerikan seperti sebelumnya. emosi dari laki-laki itu, sedikit terkontrol.
Sontak saja hal itu membuat para pekerja yang ada di sana, merasa begitu senang. karena setidaknya, mereka sedikit merasa bebas untuk melakukan pekerjaan tanpa harus takut dimaki atau dilempar ke kandang buaya milik laki-laki itu.
Karena merasa putrinya telah tertidur, dengan hati-hati Jordan meletakkan bayi mungil itu tepat di samping Asmirandah. sementara dirinya, juga ikut berbaring dengan bayi Ara berada di tengah-tengah mereka. dan secara otomatis, turun sebuah kelambu yang menutupi tubuh mereka dari orang-orang Yang masih berlalu lalang untuk mempersiapkan acara penyambutan itu.
Karena hati dari wanita itu setengahnya masih bersama dengan Zidan dan juga Putra mereka. dan wanita itu, tidak bisa berpaling sampai saat ini.
***
Sementara itu di kediaman Prakoso, terlihat suasananya begitu sangat heboh. Apalagi, mereka kedatangan keluarga Delano. yang tidak lain adalah keluarga dari Tiara. mereka begitu antusias dan sekaligus terkejut karena mendapati Tiara sudah melahirkan.
Padahal kandungan dari wanita itu, baru akan memasuki usia 7 bulan. tentunya Hal itu membuat Tika dan Bagas begitu sangat terkejut. Namun demikian kedua manusia paruh baya itu, juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa. karena pada akhirnya, putri satu-satunya dari keluarga Delano mendapatkan jodoh yang setara.
"kenapa wajahmu kusam sekali? apakah kau sangat kelelahan?" celetuk Sevita--sepupu dari Tiara yang ikut menjenguk ke rumah keluarga suami dari wanita itu.
__ADS_1
Tiara yang mendengar pertanyaan dari sepupunya itu, hanya menganggukkan kepala. tanpa berniat mengatakan apapun.
"kalau begitu, kau istirahat saja di kamar. Oma sampai lupa kalau kamu belum memberikan air kehidupanmu pada putramu ini."ucap wanita sepuh itu dengan raut wajah bersalah.
tanpa banyak alasan, Tiara segera menggendong bayi mungil itu dengan hati-hati dan membawanya ke kamar. namun langkah dari Tiara terhenti. saat mendapatkan pertanyaan dari Oma Geisha.
"kau mau tidur di mana?"tanya wanita renta itu.
"di kamarku Oma."sahutnya cepat. dan itu membuat wanita ranta itu menggelengkan kepala.
"tidur di kamar yang telah kita siapkan untuk kalian. di sana terlihat kamarnya lebih luas dari kamar yang sebelumnya. dan di sana, juga sudah ada peralatan-peralatan yang kamu butuhkan untuk memberikan air kehidupanmu itu pada cicitku."tunjuk Oma Keisha pada sebuah kamar yang paling besar di rumah itu.
Tiara hanya menurut saja. wanita itu segera masuk ke dalam kamar pribadinya dan meletakkan bayi mungil itu dengan asal.
"diamlah kau sangat berisik!" umpat wanita itu menatap tajam ke arah bayi laki-laki yang masih menangis sampai saat ini.
Karena merasa sangat geram, Tiara segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. dirinya sama sekali tidak memperdulikan suara tangisan bayi malang itu. Tiara juga tidak ada niatan untuk memberikan ASI kehidupannya. biarkan saja bayi itu menangis sepuasnya. toh di kamar ini, memiliki alat peredam suara. dan hal itu sangat menguntungkan baginya.
Saat dirinya melangkahkan kaki untuk menuju ke kamar mandi, matanya tidak sengaja melihat alat penanak nasi dan juga beberapa beras yang ada di sana.
Sepertinya Oma Keisha, benar-benar memperlakukannya dengan baik. terbukti dengan mempersiapkan bahan-bahan makanan. agar wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, tidak usah keluar kamar hanya untuk memakan sesuatu. karena semuanya, sudah dipersiapkan. di kamar kecil itu, juga terdapat dapur mini.
"kau harus bukan? baiklah kalau begitu aku akan membuatkanmu sesuatu."ucapnya tersenyum menyeringai.
Beberapa saat kemudian....
__ADS_1
Terlihat Tiara baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan senyum yang begitu mengembang sempurna. hingga membuat Zidane dan juga Ajeng yang melihat itu, seketika saling melemparkan pandangan satu sama lain.