
Sementara itu di dalam keluarga kediaman Orlando, terlihat Naomi menatap ke layar ponselnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Jadi mereka akan bertemu?"tanya Naomi pada seseorang yang ia tugaskan untuk memata-matai Tiara.
"benar Nyonya mereka akan bertemu hari ini."setiap orang itu Seraya menganggukkan kepala.
Kedua sudut bibir dari wanita itu seketika tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman iblis.
"apakah anda ingin melakukan sesuatu?"tanya orang itu pada Naomi.
Membuatnya seketika menoleh. dan tak lama berselang, menggelengkan kepalanya. "tidak perlu. aku memiliki rencana yang bagus untuk menghancurkan mereka sekaligus."ucapnya Seraya tersenyum miring.
"baiklah Nyonya kalau begitu saya permisi dulu. saya harus kembali pada keluarga itu agar tidak ketahuan."setelahnya wanita yang menyamar sebagai perawat itu segera pergi dari sana untuk kembali masuk ke dalam keluarga Prakoso.
Meninggalkan Naomi yang masih terdiam di tempatnya dengan sesekali tersenyum aneh dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"ini belum saatnya untuk kau hancur Asmirandah. sekarang ini, aku sedang fokus untuk memberikan pelajaran pada Tiara. dan untukmu, masih aku pikirkan tentang apa yang harus aku lakukan nantinya."ucapnya Seraya tersenyum menyeringai.
*****
Sementara itu di perjalanan, Asmirandah sudah merasa tidak sabar ingin bertemu dengan Putra sulungnya itu. wanita itu bahkan terlihat begitu gelisah sesekali akan menatap kiri dan kanan dengan ekspresi wajah gugupnya.
Sementara Ajeng sendiri, wanita paruh baya itu hanya menatap mantan menantunya itu dengan tatapan aneh. dan tak lama berselang, menggelengkan kepalanya karena merasa tingkah yang dilakukan oleh Asmirandah saat ini, adalah tingkah laku yang begitu aneh dan juga ganjil.
"kamu sampai seperti itu?"tanya Ajeng dengan raut wajah terheran-heran.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu seketika menoleh ke arah sumber suara. dan tak lama berselang, wanita muda itu pun tersenyum canggung. karena saking excited-nya ingin bertemu Putra sulungnya, Asmirandah sampai bersikap aneh seperti itu dan membuat orang yang ada di sekitarnya menjadi heran.
__ADS_1
Sementara Ajeng sendiri, seketika menggelengkan kepalanya pernah melihat tingkah dari Asmirandah itu.
****
Sementara itu di bangunan tua yang telah mereka sepakati sebelumnya, terlihat Zidane yang tengah duduk dengan gelisah. laki-laki berwajah manis itu hampir saja frustasi karena masih belum mendapati tanda-tanda akan kehadiran dari mantan istrinya itu.
"jika kamu melakukan hal ini, itu artinya kamu benar-benar membuatku kecewa Asmirandah. atau bahkan bukan hanya aku saja yang kecewa tapi juga Haidar. karena kamu, tega membohongi anak sekecil ini untuk melampiaskan sifat egois dalam dirimu itu.
"Ayah, kenapa Mama belum datang juga?"Tanya bocah kecil berusia 2 tahun itu dengan wajah yang begitu cemberut. biner bahagia yang sempat terpancar dari bola matanya, ini berubah menjadi tatapan sendu dan juga kekecewaan yang begitu dalam.
tentunya Hal itu membuat Zidan yang melihatnya, seketika merasa tidak tega. laki-laki berwajah manis itu langsung memeluk tubuh milik putranya itu untuk menenangkan dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"tenang Sayang Mama pasti datang kok."ucap laki-laki itu Seraya mengusap punggung mungil milik Haidar.
Tin tin tin
Sejenak, Zidane memutuskan untuk menyerahkan Haidar pada para pekerja di sana. sedangkan dirinya hendak memeriksa. apakah yang datang itu Asmirandah dan juga Ajeng atau orang lain. karena jika itu bukan mereka, Maka Zidane akan langsung membawa Haidar pergi dari sana.
"Ayah mau lihat siapa yang datang. kamu di sini dulu ya sama mbak-mbak dan juga mas-mas. jangan ke mana-mana oke?"sahut laki-laki itu Seraya mengecup pipi milik Haidar.
Beruntungnya bocah berusia 2 tahun itu pun menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh sang ayah. sehingga Haidar tidak banyak bertanya pada laki-laki itu.
Setelah menyerahkan Haidar pada orang-orang yang bekerja dengannya, laki-laki berwajah manis itu segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri siapa yang tengah berdiri di gerbang sana.
Krieeett....!!
Bunyi nyaring itu seketika memekakkan telinga. saat Zidane menarik gerbang itu agar terbuka.
__ADS_1
Degh
Tes ..
Kedua bola mata dari dua insan yang terpisah secara tragis itu seketika bertemu. dan entah dari mana datangnya, setetes air mata berhasil lolos begitu saja dari bola mata indah milik Asmirandah.
Sungguh wanita itu tidak akan pernah kuat jika harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. karena sesungguhnya dalam hati wanita itu, masih sangat mencintai sosok laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Namun, apa yang mau dikata semuanya sudah terlanjur dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. kecuali dengan satu hal. yaitu dengan kematian dari Jordan. namun itu tidak akan pernah terjadi jika tidak ada campur tangan dari sang maha kuasa.
Jadi mulai saat ini, Asmirandah benar-benar harus melapangkan dadanya untuk bisa menerima laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu sebagai suaminya. mungkin satu tahun, 10 tahun, atau bahkan selamanya. Asmirandah belum bisa untuk memprediksi akan hal itu.
"sampai kapan kau akan berdiri di depan sana? apakah kau tidak ingin masuk menemui anakmu?"pertanyaan dari Zidane itu ,sukses membuat Asmirandah gelagapan.
Dengan suasana yang begitu kikuk, pada akhirnya wanita cantik itu memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan itu.
sejenak Asmirandah terdiam saat kedua matanya melihat sekeliling bangunan itu yang sudah tidak layak dihuni.
'apakah Zidan benar-benar membawa Haidar ke tempat seperti ini?'batin Asmirandah bertanya-tanya.
"kami hanya sementara di sini. setelah kalian selesai melepas rindu, kami akan kembali ke negara yang tidak akan ditemui oleh orang lain kecuali orang-orang tertentu."seakan mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Asmirandah, Zidane menyahut dan dengan segera langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Asmirandah untuk masuk ke dalam rumah.
Karena sebenarnya laki-laki berwajah manis itu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Asmirandah. dan untuk menutupi akan hal itu, Zidane memutuskan untuk bersikap dingin pada wanita itu.
Walaupun pada kenyataannya, laki-laki itu juga merasakan kesakitan yang luar biasa setiap kali mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya itu.
'maafkan aku Asmirandah. tapi sejujurnya, aku melakukan hal ini karena memang terpaksa agar keluarga besarku tidak ada yang mencurigainya. karena aku tidak ingin, orang-orang itu mencelakai Putra ucapnya dalam hati Seraya tersenyum miris.
__ADS_1
namun dengan secepat kilat,