Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 222


__ADS_3

setelah menunggu dengan kesabaran penuh, pada akhirnya Zidane dan juga Haidar telah sampai di tempat tujuan. tak lupa, laki-laki berwajah manis itu juga memerintahkan beberapa pengawal dan juga pengasuh Haidar untuk berjaga-jaga di sana.


Yap Zidane membawa sebagian pengawal dan juga pengasuh untuk ikut bersama dengan mereka kembali ke negara asal. karena laki-laki berwajah manis itu tidak akan pernah rela Jika sesuatu hal yang tidak ia inginkan terjadi. walaupun, itu adalah Asmirandah sekalipun.


"sekarang kalian semua bersihkan rumah itu. saya ingin, dalam waktu 1 jam nanti rumah itu sudah dalam keadaan bersih!"titahnya dengan tetapan yang begitu dingin.


Membuat mereka semua yang ada di sana, seketika menundukkan kepala karena merasa takut dengan tatapan majikan mereka itu.


"baik Tuan."


Setelah mengatakan hal itu, para pekerja yang memang dibawa oleh Zidane, segera melaksanakan perintah. sementara Zidane sendiri, laki-laki itu segera membaringkan tubuh milik putranya di dalam mobil.


Tangan besarnya mengusap kepala mungil milik putranya itu dengan perasaan campur aduk. karena laki-laki itu memikirkan beberapa kemungkinan-kemungkinan yang ada setelah Haidar bertemu dengan ibunya.


Apakah nanti bocah kecil ini akan merasa lega karena bertemu dengan ibunya? dan membiarkan ibunya kembali pada kehidupan yang baru? atau malah sebaliknya. dia akan melarang ibunya kembali pada keluarga baru dan tidak ingin terpisah lagi?


Pemikiran-pemikiran itu masih berputar di kepala milik Zidane. membuat laki-laki yang memiliki wajah manis itu seketika mengerang frustasi.


Karena memang laki-laki itu tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. "aaaakkhh sssstttt apa yang harus aku lakukan sekarang?"tanya laki-laki itu Seraya menjambak rambutnya sendiri karena sungguh merasa frustasi saat ini.


Drrrttt Drrrttt


Di saat laki-laki itu tengah kalut, ponsel miliknya berdering. dan setelah mengetahui siapa peneleponnya, laki-laki itu segera mengangkat. dan mengatakan, bahwa dirinya saat ini berada di tempat yang mereka janjikan.


("baiklah Mami akan segera datang ke sana.")

__ADS_1


Zidane segera memutus sambungan telepon itu. dan kembali memejamkan mata memeluk tubuh mungil milik Haidar yang masih terlelap dalam buaian alam mimpi yang begitu indah.


tak terasa, kedua sudut bibir dari laki-laki itu pun tertarik ke atas dan membentuk sebuah senyuman yang begitu manis. namun berbeda dengan tatapan matanya. karena tatapan mata laki-laki itu, seketika berubah menjadi sendu.


"bantu Ayah sayang. apa yang harus Ayah lakukan sekarang ini?"tanya laki-laki itu bersamaan dengan tetesan air mata yang membasahi wajah tampannya.


*****


Sementara itu di dalam keluarga Prakoso, terlihat Ajeng tengah menyusun rencana bagaimana dia keluar saat ini. karena kebetulan, di rumah masih ada keluarga yang lain. mereka belum ada yang memutuskan untuk keluar dari rumah itu. sehingga membuat ajang sendiri menjadi sedikit kebingungan dan juga kesulitan.


'ayolah kapan kalian mau pergi? aku sudah sangat rindu dengan cucuku. 'batin wanita paruh baya itu Seraya menatap p kekanan dan ke kiri dengan posisi duduk yang begitu gelisah.


Tak lama berselang dari itu, Oma Keisha bangkit dari tempat duduknya. membuat Ajeng yang melihat itu, refleks bertanya.


Oma Keisha yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah menantunya itu dengan tatapan datarnya.


"aku mau pergi ke panti asuhan yang biasanya disambangi oleh Zidane."setelah mengatakannya, wanita renta itu segera pergi meninggalkan ruang tengah bersama dengan Opa Galang dan juga beberapa orang yang memang bekerja pada wanita tua itu.


Ajeng yang mendapatkan balasan sedikit tidak mengenakan itu, segera memalingkan wajahnya ke arah lain. dengan sesekali menghela nafas panjang. mencoba untuk bersabar.


"ditanya baik-baik malah gitu jawabannya. dasar menyebalkan!"ucapnya Seraya menggerutu kesal.


Sementara Sahara, Garda dan juga Rafael yang mendengar itu, seketika hanya terkekeh pelan. karena mereka, tidak asing lagi dengan perilaku yang ditunjukkan oleh wanita tua itu. karena bukan hanya pada menantu keluarga itu, Oma Keisha bersikap demikian. pada putra-putra kandungnya pun, wanita sepuh itu juga melakukan hal yang sama. sehingga mereka semua tidak akan merasa kaget dengan perilaku wanita tua itu.


"emangnya mbak udah berapa tahun jadi menantu keluarga ini? kenapa masih merasa kesal saat mendengar penuturan dari ibu yang terkadang pedas?"tanya Sahara sedikit menyindir kakak iparnya itu.

__ADS_1


Hal itu semakin membuat Ajeng yang mendengarnya, semakin merasa kesal. wanita itu bahkan tidak lagi merespon ledekan yang dilontarkan oleh Sahara itu. saat ini dua wanita paruh baya itu tengah sama-sama menggendong cucu mereka. cucu kandung dari anak-anak mereka. namun sayangnya, salah satu dari mereka tidak mengetahui hal itu. siapa lagi orang yang suka bukan Sahara. sungguh malang nasib wanita paruh baya itu karena masih menganggap Arabella adalah orang lain yang sengaja dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Putra dan juga menantunya.


Entah apa yang terjadi nantinya jika wanita paruh baya itu tahu tentang kebenaran yang disembunyikan oleh putranya itu. juga tentang kebenaran kebenaran yang lain yang bahkan mungkin lebih besar dari hanya sekedar menyembunyikan jati diri Arabella.


Drrrttt Drrrttt


Di tengah keheningan itu, terdengar suara ponsel yang berdering. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, segera mencari sumber suara. dan ternyata itu milik Sahara


Kedua alisnya seketika bertaut saat membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang dari perusahaannya.


"Pa, Sepertinya kita harus segera pergi."ucap Sahara setelah membaca pesan singkat itu.


"memangnya ada apa?"tanya Garda dengan alis terangkat satu.


"ada masalah di perusahaan. dan kita berdua, minta untuk datang ke sana untuk menyelesaikan semuanya. karena sekretaris perusahaan mengatakan, masalah ini tidak bisa diwakilkan."ucap Sahara panjang lebar Seraya menunjukkan isi pesan yang dikirimkan oleh sekretaris perusahaan itu.


Membuat Garda yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang. kemudian segera bangkit dari tempat duduknya itu dan menuju ke kamar. dan tak lama berselang, Sahara pun juga ikut bangkit untuk menyerahkan Arabella pada kedua orang tuanya.


Ajeng yang melihat itu diam-diam tersenyum simpul. karena sepertinya, rencananya kali ini akan berhasil.


"kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?"tanya Rafael Seraya menyenggol lengan milik istrinya. membuat laki-laki itu langsung mendapatkan hadiah tatapan tajam dari Ajeng. karena hampir saja, laki-laki paruh baya itu mencelakai cucu mereka.


"apaan sih Pi. kenapa Papi nyenggol-nyinggul Mami? nanti kalau Elvio jatuh gimana?"semprot wanita paruh baya itu dengan tatapan yang begitu galak.


Membuat Rafael yang mendengar itu sedikit tersentak. laki-laki paruh baya itu seketika beringsut mundur. dan tak lama berselang mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.

__ADS_1


__ADS_2