Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 251


__ADS_3

Beberapa saat kemudian....


Kini, kondisi Ajeng dan juga Haidar telah membaik. dan juga, semua sudah diperbolehkan pulang.tentu saja hal itu membuat orang-orang yang ada di sana merasa sangat bahagia terutama Zidane. laki-laki yang memiliki wajah manis itu, bahkansudah merasa tidak sabar jika ya Iya sayang itu akan segera pulang.


"emm Aku mau tinggal di mana sekarang ?"tanya Asmirandah bingung.karena jujur saja wanita itu merasa tidak enak jika harus tinggal bersama dengan Zidane karena mereka sudah bukan lagi memiliki hubungan yang spesial.


"Kenapa mesti bingung? kan, bisa tinggal sama Zidan dan juga Haidar," goda wanita paruh baya itu Seraya tersenyum tipis ke arah mantan menantunya itu.


Blusshh


Seketika, wajah dari Asmirandah memerah akibat godaan yang ditunjukkan oleh wanita paruh baya itu. Asmirandah benar-benar merasa sangat malu saat ini. mungkin saja, pipi dari Wanita itu sudah berubah menjadi merah seperti tomat.


Pada akhirnya mereka semua memutuskan untuk segera pulang. dan di sepanjang perjalanan itu, Asmirandah benar-benar sangat bingung bagaimana nantinya wanita itu bersikap.

__ADS_1


"sudah tidak usah dipikirkan pasti akan ada jalan keluar setelah ini."Ajeng berbisik di telinga wanita itu dan langsung menggenggam tangannya untuk menenangkan.


Asmirandah yang mendengarnya ketika menganggukkan kepala. tak lama berselang, mereka telah tiba di tempat tujuan. tentu saja Ajeng langsung membawa haida r untuk masuk ke dalam rumah itu.


Namun tiba-tiba saja langkah dari wanita paruh baya itu segera terhenti. saat kedua bola matanya tidak sengaja melihat sekumpulan orang-orang yang menurutnya sangat ia kenal.


Ajeng seketika langsung menoleh ke arah Zidane yang berjalan di belakang Asmirandah.


"dia---"


***


"apa sebenarnya yang terjadi Kenapa mereka semua sekarang berada di sini?"tanya Ajeng yang langsung merasa tidak sabar saat mereka baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi ruang tamu.

__ADS_1


Setelah menghela nafas beberapa kali, pada akhirnya Zidane pun memutuskan untuk segera menceritakan semuanya pada sang ibu. tentu saja hal itu membuat Ajeng seketika seperti tersambar petir di siang bolong. tangis dari wanita paruh baya itu, seketika pecah.


Namun beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu segera mengusap air matanya yang tampak membasahi wajah yang mulai ditumbuhi penuaan.


"mungkin itu adalah balasan untuk orang-orang jahat seperti mereka."ucapnya terdengar tegas.


Zidane yang mendengar penuturan dari ibunya, seketika terperangah. pada awalnya laki-laki berwajah manis itu mengira bahwa ibunya pasti akan langsung merasa terpukul jika mendengar berita ini. Namun ternyata juga hanya salah besar. Ajeng justru sedikit merasa lega terlihat dari raut wajahnya itu.


"Apakah Mami membenci mereka?"tanya Zidan dengan hati-hati.


Ajeng yang mendengar itu seketika menoleh ke arah sang Putra."siapa orangnya jika disiksa seperti itu tidak merasa sakit hati?"tanya wanita paruh baya itu dengan nada datar.


Zidane dan juga Asmirandah sempat terdiam beberapa saat. tak lama berselang, mereka berdua pun juga menganggukkan kepala. karena memang mereka setuju dengan penuturan yang dilontarkan oleh Ajeng itu.

__ADS_1


"mungkin, jika mereka hanya menyiksa Mami saja, mungkin Mami tidak akan pernah mempermasalahkan akan hal itu. tapi, tindakan mereka yang menyiksa Haidar tanpa henti itu, benar-benar membuat Mami marah. Jadi, sudah seharusnya mereka mendapatkan hukuman seperti itu." tukasnya Seraya melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.


__ADS_2