
Setelah puas melihat rumah minimalis itu beserta isinya, mereka berdua memutuskan untuk beristirahat. apalagi Asmirandah. wanita muda itu baru saja dinyatakan berbadan dua sehingga harus dijaga dengan ketat.
"kenapa kita harus istirahat lagi sih?"tanya Asmirandah mengeluh menatap ke arah sang suami yang masih berbaring di samping wanita itu dengan menyandarkan punggung di kepala ranjang.
"karena aku tidak ingin membuatmu kenapa-napa."jawabnya Seraya mengeratkan pelukan pada sang istri.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu seketika mendengus kesal."aku itu lagi hamil Bang bukan lagi sakit keras. Jadi untuk apa aku harus beristirahat?"tanya wanita itu menatap manik hitam dan tegas milik laki-laki itu.
Zidane yang mendengar itu seketika tersenyum simpul. tak menjawab pertanyaan dari wanita kesayangannya itu. tentunya Hal itu membuat wanitanya membernggut kesal. hingga membuat bibirnya, ketika manyun beberapa senti centi.
Dengan gemas Zidane menarik lembut bibir wanitanya itu dan mengecupnya beberapa kali. membuat Asmirandah semakin merasa kesal dengan tingkah laku suaminya itu.
"udah nggak usah marah-marah. lebih baik sekarang, kamu bilang sama Abang mau dibikinkan apa?"tanya laki-laki berwajah manis itu mencoba untuk menghibur wanita kesayangannya.
Sejenak, Asmirandah terdiam. hingga kedua matanya, seketika berbinar saat mengingat sesuatu yang sangat ia inginkan saat ini.
"janji ya mau membuatkan aku apa saja?" tanya wanita itu untuk memastikan ucapan dari sang suami. mengacungkan jari kelingkingnya ke udara. sebagai simbol
Zidane yang melihat itu seketika tersenyum geli. namun demikian, laki-laki itu tetap melakukan apa yang diinginkan oleh wanitanya itu. menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking istrinya.
"sudah puas kan sekarang kamu?"tanya laki-laki berwajah hitam manis itu menatap ke arah wanita kesayangannya. yang hanya dibalas cengiran oleh wanita itu.
"kalau gitu, aku ingin merasakan martabak manis dan juga martabak telur sekarang juga."ucap wanita itu dengan antusias.
"hanya itu?"tanya Zidane menatap ke arah sang istri.
__ADS_1
"iya." jawabnya singkat.
Zidane menganggukkan kepala. laki-laki itu beranjak dari atas tempat tidur untuk meminta beberapa pelayan memenuhi permintaan dari wanitanya itu. namun langkah laki-laki itu terhenti saat mendengar seruan dari Asmirandah.
"tapi Abang sendiri yang harus masak martabak itu."ucapan dari Asmirandah itu sukses membuat langkah laki-laki berwajah manis itu berhenti total
"a...apa kamu bilang? kamu menyuruh Abang untuk membuatkan martabak itu? tapi sayang, Abang tidak pernah bisa memasak!"jujur laki-laki itu Seraya memandang wanita kesayangannya itu dengan ekspresi wajah teraniaya.
Bagaimana bisa wanitanya itu menyuruhnya untuk memasak. sedangkan dianya saja, tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat yang bernama dapur itu.
Asmirandah mendengus. menatap tajam ke arah laki-laki itu."pokoknya aku tidak mau tahu. kau harus bisa memasak kan semua pesananku itu tanpa bantuan orang lain. jika tidak mau, aku tidak ingin mau makan apapun."ancamnya Seraya menghentak-hentakkan kaki karena merasa kesal.
Oh God! bagaimana ini? dia tidak bisa memasak dan sekarang istrinya ingin merasakan makanan yang dibuat langsung dari tangannya. bolehkah Zidane menukar istrinya itu dengan orang lain? sungguh saat ini dia benar-benar merasa Asmirandah berubah total.
Laki-laki berwajah hitam manis itu tidak lagi menemukan sosok wanita yang lemah lembut dalam diri Asmirandah. yang ada, Zidan malah menemukan sosok wanita garang dan juga mudah marah.
Berharap bahwa wanita yang sangat ia cintai itu mau sedikit memberikan kompensasi terhadap apa yang ia negosiasikan itu. namun semuanya runtuh saat mendapatkan gelengan kepala dari Asmirandah.
Karena tidak mendapatkan persetujuan dari wanitanya itu, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk menuruti permintaan dari wanita itu.
"awas jangan ngedumel! nanti kalau ngedumel, makanannya menjadi tidak enak. dan aku tidak mau makan!"teriak wanita cantik itu dari ambang pintu.
Sungguh demi apapun, Zidan merasa sangat kesal saat ini. beberapa kali laki-laki berwajah manis itu, melirik tajam ke arah wanita itu.
"huh, untung sayang."gumamnya Seraya melangkah pergi dari sana. Dengan hati yang sedikit dongkol, laki-laki itu segera masuk ke dalam dapur dan mulai menjalankan aksinya. dan melakukan arahan sesuai yang diajarkan di aplikasi yang ada di dalam ponselnya itu.
__ADS_1
Entahlah. mengapa sekarang Zidane menjadi sosok egois seperti ini. Sudah terhitung dua kali laki-laki berwajah manis itu berdebar dengan istrinya. padahal biasanya, Zidan tidak pernah melakukan hal itu. tentunya Hal itu membuat dirinya sendiri merasa kebingungan.
Setelah tersadar dari apa yang ia lakukan, laki-laki itu segera menjalankan aksinya dengan benar dan juga sepenuh hati. tidak ada lagi dumelan yang keluar dari bibirnya. apalagi saat mengingat bahwa istrinya berada dalam pengaruh ramuan itu.
"Kau ini bodoh sekali Zidane."gumamnya pada diri sendiri.
Setelah hampir 10 kali melakukan percobaan itu, akhirnya Zidan dapat menghidangkan satu loyang martabak manis bersama dengan martabak telur pesanan dari sang istri.
"bereskan kekacauan ini!"setelah mengatakan hal itu pada beberapa pelayan yang ada di sana, Zidane segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam kamar.
****
"bagaimana rasanya apakah enak?"tanya Zidan menatap ke arah istrinya dengan tatapan harap harap cemas. apalagi wanita itu, belum membuka suaranya untuk mengomentari hasil kerja kerasnya itu.
"emmm. ini enak sekali. Makasih Abang."ucapan itu Seraya memeluk tubuh Sang suami dengan erat.
Zidane yang mendengar itu sejenak terdiam. hingga beberapa saat kemudian, laki-laki berwajah hitam manis itu menghirup udara sebanyak mungkin dan akhirnya bernafas dengan lega.
"bolehkah aku meminta sedikit?"tanya laki-laki itu menatap berbinar ke arah makanan yang ada di atas meja kecil itu.
"tidak boleh! ini semua aku punya!"setelah mengatakan hal itu, wanita cantik itu segera menyembunyikan piring yang berisi makanan buatan suaminya itu di tempat lain.
Namun hal itu tidak membuat Zidan mengalah. laki-laki itu segera merebut piring yang berada di belakang tubuh istrinya dan mengambil satu potong martabak manis. karena entah mengapa, laki-laki itu merasa sangat menginginkan makanan yang ada di piring itu.
"Abang!" pekik Asmirandah dengan deraian air mata. membuat Zidan yang melihat itu, ketika terperangah dengan mulut yang sudah penuh akibat martabak itu telah masuk sempurna ke dalam sana.
__ADS_1
Tingkah laku mereka ini seperti seorang anak kecil yang baru saja berebut makanan yang tidak pernah mereka makan. hingga membuat keduanya, sama-sama terdiam. karena melihat keanehan yang muncul saat ini.