Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 92


__ADS_3

Dua hari kemudian,...


Kondisi dari Asmirandah sudah lebih membaik dari sebelumnya. dan Hal itu membuat Zidane, memutuskan untuk membawanya pulang. tapi bukan pulang ke kota keluarganya. melainkan pulang ke kota persembunyian mereka.


"Bang Zidane!"panggil Asmirandah dengan ekspresi wajah yang sedikit tegang.


"iya Sayang, ada apa?"tanya laki-laki itu menoleh ke arah sumber suara. karena saat ini, lagi berwajah hitam manis itu tengah mengendalikan kendaraannya.


Sementara Jordan dan juga Tiara, dua manusia itu memutuskan untuk pulang ke tempat tinggal masing-masing. karena menurut mereka, semuanya telah baik-baik saja. karena kondisi dari Asmirandah sudah lebih baik dari sebelumnya.


"kenapa tiba-tiba saja aku ingin bertemu dengan Bunda dan juga Papa?"tanya wanita itu bersandar pada dada bidang milik suaminya.


Pertanyaan dari Asmirandah itu, sukses membuat Zidane seketika tercengang. namun sebisa mungkin, laki-laki itu mencoba untuk bersikap biasa saja. jangan sampai, dirinya salah dalam menampilkan ekspresi wajah. karena akan fatal akibatnya.


"Bang."panggil Asmirandah lagi. karena tidak ada tanggapan lagi lawan bicara dari wanita itu.


"iya Sayang, ada apa?"tanya laki-laki itu masih berusaha untuk bersikap lembut terhadap istrinya. walaupun saat ini, hatinya sedikit teriris karena mencoba untuk membohongi wanitanya itu.


Karena memang Asmirandah sangat membenci yang namanya sebuah kebohongan. mungkin juga wanita itu sudah merasa muak dengan bohongan kebohongan itu akibat masa lalunya.


"apa kita bisa pulang sebentar ke kediaman Orlando?"tanya wanita itu penuh dengan ekspresi wajah melasnya.


Sekuat tenaga Zidane mencoba untuk mencari alasan yang tepat agar dapat menolak permintaan dari wanitanya itu.


"emm nanti kita pikir-pikir dulu ya sayang. sekarang lebih baik, kamu istirahat saja. ingat kan apa kata dokter tadi?"hanya laki-laki itu Seraya membelai wajah cantik istrinya.

__ADS_1


Asmirandah yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala. kemudian menyandarkan tubuhnya tepat di dada bidang sang suami. sementara laki-laki itu sendiri, sudah beberapa kali mendaratkan kecupan-kecupan kecil di wajah cantik Asmirandah.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh keduanya telah sampai di depan rumah pribadi milik Asmirandah dan juga Zidane. tanpa pikir panjang lagi, laki-laki berwajah hitam manis itu segera menggendong tubuh istrinya untuk masuk ke dalam bangunan itu.


"Abang mau ke mana?"tanya Asmirandah saat melihat pergerakan dari sang suami yang semakin lama semakin menjauh itu.


"aku ada urusan sebentar. kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah sedikit merasa tidak enak.


Asmirandah yang mendengar itu, sejenak terdiam. hingga tak berselang lama, wanita itu menganggukkan kepalanya.


drrrttt drrttt


Tepat saat pintu kamar itu ditutup, ponsel milik Asmirandah berdering. dan tak lama berselang, terdengar suara seseorang yang sangat ia kenal sebelumnya yang menyahut dari seberang sana. saat Asmirandah menekan tombol hijaunya.


(halo sayang, kamu apa kabar?)


Karena setelah penghianatan yang dilakukan oleh Yudha itu, Asmirandah sama sekali tidak pernah berhubungan dengan orang-orang yang berada di sekitaran laki-laki itu. termasuk juga dengan Yudha dan juga Celine. padahal sebelumnya, mereka bertiga terlihat sangat akrab dan juga sedekat nadi. namun sekarang, sejauh matahari.


Jangan pernah menyalahkan tindakan dari Asmirandah yang menjauhi orang-orang di sekitaran Yudha. karena alasannya hanyalah satu. yaitu rasa sakit yang ditorehkan oleh laki-laki itu sangatlah dalam.


(Sayang apakah kamu masih mencintai Yudha?) bukannya menjawab, Celine justru malah mempertanyakan sesuatu yang membuat hati dari Asmirandah itu tercapai kembali.


(Jika kamu memang masih mencintai anak tante, tolonglah kembali. tante mohon.) ucapan Celine dari seberang sana seketika membuat Asmirandah meremas ponselnya dengan sangat kuat.


Tut

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi, wanita yang tengah berbadan dua itu segera memutus sambungan teleponnya dan melemparkan benda putih kesayangannya itu asal.


"aaakkkhhhh hiks hiks hiks. kenapa rasanya sakit sekali Ya Tuhan?"tanya wanita itu Seraya sesekali memukul-mukul dadanya sendiri.


Asmirandah memang sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Yuda. entah itu karena efek ramuan yang diberikan oleh Zidane, ataupun karena memang dari lubuk hati yang paling dalam wanita itu sudah tidak menginginkan dan menyematkan nama laki-laki itu di dalam hatinya. namun begitu, Asmirandah masih sangat menyayangi Celine dan juga Indra. orang tua dari mantan kekasihnya itu.


Karena terlalu lelah menangis, pada akhirnya Asmirandah tertidur pulas di atas tempat tidur dengan posisi meringkuk di sana. membuat siapa saja yang melihat itu, ketika akan merasa prihatin dengan kondisi dari Asmirandah.


***


"apa yang Mama lakukan?"tanya Indra dengan sorot mata tajam saat melihat istrinya menangis tersedu-sedu setelah mengakhiri panggilannya itu.


"aku hanya ingin anakku kembali lagi Pah. apakah Papa tidak merasa kasihan dengan anak kita? Dia sangat hancur. dan yang dapat mengembalikan gairah hidupnya, hanyalah satu orang."ucapnya ter jeda. Seraya menghirup udara sebanyak mungkin.


"Asmirandah adalah alasan untuk anak kita hidup. dan aku sebagai seorang ibu, ingin membuat putraku kembali. apa itu salah, hmm?"tanya Celine dengan air mata bercucuran.


Sementara Indra, laki-laki paruh baya itu hanya terdiam. tak lama berselang, kedua tangan kekarnya langsung memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


"aku tahu apa yang kamu rasakan. tapi bukankah kamu tahu sendiri Itu semua terjadi akibat kelalaian dari Putra kita? dia sendirilah Yang menghancurkan masa depannya."ucapnya dengan sangat lembut mencoba untuk menyadarkan istrinya kembali.


Celine yang mendengar itu seketika menundukkan kepala."aku tahu apa yang kamu maksud. tapi aku sebagai seorang ibu yang berjuang sekuat tenaga untuk melahirkannya, tidak akan pernah tega melihat keadaan seperti ini."ucapnya dengan berderai air mata.


Tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang mampu membiarkan ataupun melihat anak-anak mereka dalam kehancuran. tidak peduli seberat apapun masalah yang mereka hadapi. yang jelas kemauan dari semua orang tua adalah melihat anaknya tersenyum bahagia. dan itu tak terkecuali Celine.


Indra yang mendengar itu hanya dapat menghirup udara sebanyak mungkin dan setelah beberapa detik, menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


"sudah lebih baik kita istirahat saja."ucap laki-laki itu mencoba untuk mengalah. karena semakin diladeni, ego dari wanita yang telah menemani selama puluhan tahun itu akan semakin berkembang pesat dan tidak terkendali.


Celine yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala. menurut saat tubuhnya digiring oleh sang suami untuk masuk ke dalam kamar pribadi mereka untuk beristirahat.


__ADS_2