Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 148


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar milik Tiara, terlihat wanita berambut panjang sampai pinggang itu tengah tersenyum bahagia karena berhasil menjalankan aksinya dengan begitu mulus.


"akhirnya aku akan menghancurkan Asmirandah dengan secara perlahan."setelah mengatakan hal itu, Tiara tertawa terbahak-bahak.


drrrttt drrttt


Tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan bahwa ada sesuatu yang masuk ke dalam benda pipih yaitu.


Dahi Tiara seketika mengerut saat mendapati sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal. tak lama berselang, salah satu sudut bibir dari wanita itu terangkat membentuk sebuah senyuman meremehkan.


" dasar wanita tidak berguna. Dia pikir, dia bisa mengancamku? hah tidak akan pernah bisa sampai kapanpun!"ucap wanita itu Seraya mengibaskan tangannya di udara.


"aku akan memastikan bahwa kaulah yang akan hancur terlebih dahulu."lanjutnya Seraya tertawa terbahak.


drrrttt drrttt


Tiba-tiba saja ponselnya kembali berdering dengan begitu panjang dan juga nyaring. menandakan bahwa ada seseorang yang menelponnya. dan tanpa pikir panjang lagi, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu segera menyambar dan mengangkatnya.


("lawan aku wanita perebut!")


baru saja Tiara menekan tombol berwarna hijau di aplikasi whatsapp-nya, seseorang di seberang sana sudah mengatakan sesuatu hal dengan nada yang begitu tinggi. hingga harus membuat Tiara segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"apakah kau ingin bermain-main denganku?"tanya wanita itu dengan senyuman iblisnya.


("Tentu saja aku tidak akan pernah takut jika harus melawanmu.") terdengar suara Naomi yang begitu menggebu-gebu di seberang sana.


"baiklah kita ketemu di mana?"tanya wanita itu masih dengan nada yang begitu lembut dan juga berwibawa.


hening

__ADS_1


Untuk beberapa saat kemudian, suasana di dalam kamar itu Terdengar sangat hening. karena Naomi, tidak membalas ucapannya. membuat senyum remeh dari Tiara, kembali terbit.


"apakah sekarang kamu yang merasa takut sehingga tidak berani untuk membalas ucapanku?"tanya wanita itu dengan nada yang begitu menyebalkan.


("dasar kurang ajar baiklah kalau kau ingin bermain-main denganku! jangan pernah salahkan aku, jika aku akan melenyapkanmu dan merebut posisimu sebagai menantu keluarga Prakoso!")


Tiara yang mendengar itu seketika tertawa terbahak-bahak. dan tak lama berselang, jemari lentiknya itu menekan tombol merah di ponselnya. yang menandakan, bahwa Wanita itu, telah mengakhiri ponselnya secara sepihak.


"sudahlah tidak usah banyak omong lebih baik kita bertemu saja di tempat yang telah kau janjikan itu."setelah mengatakannya, Tiara segera mematikan sebelum telepon itu.


***


Setelah memastikan semuanya aman, Zidane segera pergi dari rumah megah itu. bersama dengan Ajeng karena wanita paruh baya itu, pemaksaan ikut karena sangat merindukan Haidar cucu kesayangannya.


"ayo Zidane kita berangkat sekarang."ucapan dari Ajeng itu sukses membuat laki-laki berwajah manis itu, tersentak kaget.


Dengan segera laki-laki itu mengendarai kendaraan roda empatnya untuk menuju ke tempat di mana putranya berada saat ini.


"sejak kapan dia bisa berjalan seperti itu? Bukankah umurnya baru akan menginjak 9 bulan?"tanya Ajeng dengan lelehan air mata yang membasahi wajah keriputnya itu.


"memang perkembangan dari tuan kecil, begitu sangat pesat Nyonya. kami sendiri pun juga merasa sangat takjub dengan perkembangan dari bayi kecil itu."ungkap salah satu pengasuh yang juga ikut menitipkan air mata.


Tanpa pikir panjang lagi, Ajeng segera berlari menghampiri cucu pertamanya itu. dan dengan segera menggendong dan mengajaknya untuk bercanda.


"kau benar-benar hebat sayang!"puji Ajeng pada cucu laki-lakinya itu. wanita paruh baya itu masih tidak menyangka jika perkembangan dari Haidar begitu sangat pesat. Padahal, bayi kecil itu terlahir dalam keadaan belum waktunya alias prematur. tapi kenyataannya, dia mampu mengimbangi anak-anak yang lahir secara normal dan bahkan sedikit mengungguli mereka.


Sungguh betapa bangganya Ajeng melihat itu semua. tak berbeda dengan Ajeng yang menangis dengan rasa haru yang luar biasa. Karena di sana, juga ada seseorang yang menangis dengan cara yang sama.


Siapa lagi orang itu jika bukan Zidan Prakoso. laki-laki yang menjadi ayah dari Haidar itu, begitu bangga saat melihat bagaimana perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh bocah kecil itu.

__ADS_1


"Ayah benar-benar bangga padamu nak."ucapnya Seraya mengambil alih gendongan dari tangan ibunya.


"Ma...Mama!"


Kedua orang itu seketika saling pandang satu sama lain. saat mereka berdua, mendengar suara menggemaskan dari bocah kecil itu yang menyebut kata "Mama". membuat Zidan yang mendengar itu, langsung terdiam dan tidak berkutik untuk beberapa saat ke depan.


"di...dia memanggil dan menyebutkan kata 'Mama' ?"tanya Ajeng dengan raut wajah sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar itu.


Sama seperti wanita paruh baya itu, karena Zidane sendiri, juga melakukan hal yang sama. mereka tidak mempercayai bahwa bayi yang baru berusia 8 bulan setengah itu, sudah mampu berjalan dan mampu mengatakan kalimat yang biasanya diucapkan pada anak usia 1 tahun ke atas.


"anakmu ini benar-benar ajaib!" pekik Ajeng dengan wajah yang begitu girang. sementara Zidane sendiri, laki-laki itu hanya tersenyum tipis. melihat bagaimana bahagianya sang ibu saat mengetahui hal ini.


****


Sementara lain tempat, terlihat sepasang suami istri paruh baya tengah berpelukan dengan seorang laki-laki tampan yang memiliki jambang di kiri dan kanan wajahnya.


"bagaimana keadaanmu apakah kau baik-baik saja di sini?"tanya Sahara dengan sedikit khawatir menatap ke arah Putra tunggalnya itu.


"Mama tidak usah khawatir aku baik-baik saja di dan lagi pula, aku merasa bebas berada di tempat ini aku juga tidak tertekan oleh peraturan-peraturan aneh dari keluarga Prakoso."ungkap Jordan dengan sedikit menyindir tatanan dan juga konsep dari keluarga Prakoso.


Membuat Garda dan juga Sahara yang mendengar itu, seketika saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, keduanya menghela nafas panjang.


"apakah itu yang membuatmu memilih untuk pergi dari rumah?"tanya Sahara menatap ke arah putranya itu.


Jordan yang mendengar itu seketika hanya tersenyum simpul. tak lama berselang, laki-laki itu menganggukkan kepala. membenarkan apa yang menjadi persepsi kedua orang tuanya.


"aku di sini baik-baik saja kalian tidak usah khawatir."ucap laki-laki itu saat melihat raut wajah sedih dari kedua orang tuanya.


Sejujurnya, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu juga merasakan rindu yang luar biasa kepada kedua orang tuanya. namun apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa diubah lagi.

__ADS_1


yuk gaes gaskeun intip-intip



__ADS_2