Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 240


__ADS_3

Ajeng yang mendengar penuturan dari Asmirandah itu, segera menganggukkan kepala. karena memang itu adalah solusi terbaik untuk saat ini. wanita paruh baya itu hanya berdoa jika orang-orang yang ada di dalam keluarga Prakoso masih tidak menyadari akan tidak adanya kehadiran mereka dalam keluarga itu.


Karena jika sampai hal itu terjadi, maka kedua wanita itu akan dipastikan tamat. karena keluarga dari Prakoso pasti tidak akan pernah membiarkan mereka berdua lolos begitu saja.


Ajeng melangkahkan kakinya untuk menuju ke pintu utama rumah itu. namun tiba-tiba saja, ponselnya berdering. dan Hal itu membuat suasana seketika menjadi mencekam.


Apalagi saat Ajeng, menatap ponsel itu dengan tatapan yang begitu ketakutan. seperti seseorang yang baru saja melihat penampakan yang begitu menyeramkan.


Zidane yang melihat ibunya mematung, seketika melangkahkan kakinya untuk menghampiri wanita paruh baya itu.


"Ada apa, Mi?"tanya laki-laki yang memiliki wajah manis itu dengan raut wajah heran karena melihat raut wajah dari ibunya yang begitu tegang.


"se.. sepertinya me.. mereka sudah bangun."jawab wanita paruh baya itu dengan tubuh bergetar hebat dan juga nada suara terbata-bata.


Raut wajahnya tampak sekali pias dengan bola mata yang bergerak liar. menandakan bahwa wanita paruh baya itu saat ini tengah dalam keadaan gelisah dan juga ketakutan yang luar biasa.


Zidane yang melihat penuturan dan juga raut wajah dari ibunya, seketika langsung menatap ke arah layar ponsel yang berada dalam genggaman itu. dan mendadak, wajah dari laki-laki manis itu berubah sama seperti apa yang dialami oleh Ajeng.


"lalu apa yang harus kita lakukan?"tanya laki-laki itu mencoba untuk meminta pendapat orang-orang yang ada di sana.


"Ada apa ini kenapa wajah kalian tegang seperti itu?"tanya Asmirandah menatap ke arah mantan suami dan juga mantan mertuanya itu dengan tatapan kebingungan.


Karena memang wanita cantik itu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


Zidane seketika menoleh ke arah Asmirandah. "sepertinya mereka sudah kembali tersadar dan mungkin sudah mengetahui apa yang telah kita lakukan di sini."

__ADS_1


Degh


Penuturan dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, sukses membuat Asmirandah menyentuh dadanya karena terasa berdenyut akibat kata-kata yang terlontar dari bibir Zidane.


"a..apa ? ja... jadi, me.. mereka sudah tahu?"dengan tubuh gemetaran, Asmirandah bertanya seperti itu Seraya menatap ke arah dua manusia itu secara bergantian.


tanpa pikir panjang lagi Asmirandah langsung berlari untuk masuk ke dalam kamar milik Haidar kemudian menggendong tubuh bocah kecil itu yang masih terlelap. dan karena tindakan dari Asmirandah itu, membuat Haidar seketika terbangun dengan paksa.


Dan hal itu, sukses membuat bocah kecil itu pun menangis dengan begitu kencangnya. karena mungkin saja, Dia sangat terkejut.


"cup cup Sayang maafkan Mama ya."ucap wanita itu Seraya mengusap-usap punggung mungil milik putranya itu.


Hingga tak lama berselang, bocah kecil berusia 2 tahun itu pun seketika terdiam dan sudah tidak menangis lagi.


"apa yang harus kita lakukan sekarang?"tanya Ajeng dengan raut wajah panik dan langsung menghampiri Haidar dan juga Asmirandah yang masih berada di depan pintu kamar.


"tidak ada cara lain! sepertinya aku harus segera membawa Haidar untuk kembali ke negara persemaian kita. semua sudah diketahui oleh orang-orang itu. Akan sangat bahaya jika Haidar masih berada di sini."Zidane berucap Seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati orang-orang itu.


Asmirandah yang mendengarnya seketika menoleh kemudian menatap laki-laki itu dengan tetapan mata sulit untuk diartikan.


Setelah menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya secara perlahan, pada akhirnya Asmirandah menganggukkan kepala dengan ekspresi wajah yang begitu berat.


"baiklah kalau begitu Sekarang kita harus mempersiapkan diri agar lebih cepat keluar dari rumah ini dan lebih cepat untuk selamat dari genggaman orang-orang jahat itu."ucap Zidane mencoba untuk menenangkan orang-orang yang ada di sekitarnya terutama Asmirandah.


Karena laki-laki itu tahu saat ini Asmirandah sangat berat untuk berpisah dengan Haidar. tapi semua ini harus dilakukan agar putranya itu bisa hidup dengan normal dan juga terselamatkan.

__ADS_1


"kau tidak akan pernah jauh darinya. karena sewaktu-waktu, aku akan memberikan kabar melalui ponsel yang diberikan oleh Mami padamu itu. bagaimana?"tanya Zidan mencoba untuk menghibur wanita yang ada di sebelahnya itu.


Asmirandah seketika menganggukkan kepala. kemudian dengan segera, membawa tubuh mungil milik Haidar untuk dipeluk. karena memang, wanita itu tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi.


Menyadari akan hal itu, membuat Asmirandah menitihkan air mata. karena tidak kuasa menahan kesedihannya.


****


Sementara itu di tempat lain terlihat orang-orang yang tengah berkumpul di halaman rumah tengah membicarakan apa yang akan mereka lakukan pada Asmirandah dan juga Zidan karena telah berani menipu mereka semua. sementara Jordan sendiri, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu sudah diamankan oleh orang-orang yang ada di sana.


"tolong jangan apa-apa kan Asmirandah aku mohon!"ucap laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu dengan menatap iba ke arah Oma Kesha dan yang lain.


"diam kau bedebah! beraninya kamu lindungi mereka!"senta wanita tua itu dengan nada suara yang menggelegar menandakan bahwa Oma Keisha saat ini, benar-benar sangat marah.


Wanita tua itu merasa sangat terhina karena dibohongi oleh cucu-cucunya seperti ini. melayangkan tatapan tajamnya kepada Jordan dan juga Tiara yang masih terikat di tempatnya.


"berani-beraninya kalian bermain-main denganku! akan aku tunjukkan bagaimana nasib orang-orang itu jika bermain-main dengan seorang Keisha Prakoso!"ucap wanita tua itu dengan nada suara yang begitu angkuh.


Sementara Tiara sendiri, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu sedikit memohon dan mengatakan bahwa dia sudah tidak berada dalam pihak mereka bertiga.


Namun sepertinya hal itu tidak berpengaruh bagi wanita tua itu. karena rahang dari Oma Keisha, masih mengeras. menandakan bahwa wanita itu, masih sangat marah untuk saat ini.


"segera kalian lacak di mana keberadaan Asmirandah dan juga Zidane!"perintah wanita tua itu pada orang-orang yang bekerja di sana.


"baik Nyonya!"dengan nada kompak mereka menganggukkan kepala dan mulai menja wab perintah dari majikan mereka itu.

__ADS_1


sementara Sahara dan juga Garda, masih menatap anak mereka dengan tatapan tidak percaya karena selama ini telah dibohongi seperti itu.


__ADS_2