Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 220


__ADS_3

Zidane tampak terdiam cukup lama saat mendengar penuturan dari wanita paruh baya yang telah berhasil melahirkannya itu. dan tak lama berselang, laki-laki yang memiliki wajah manis itu memalingkan wajahnya sendiri ke arah lain. karena sebenarnya Zidane merasa tidak rela jika Asmirandah bertemu dengan Haidar untuk saat ini. karena laki-laki yang memiliki wajah manis itu, masih belum bisa menerima keadaan ini.


"ingat Zidane, bukankah Asmirandah juga merupakan faktor terbentuknya Haidar? maka dari itu, kau tidak boleh melupakan hal itu."ucap Ajeng mencoba untuk mengingatkan putranya itu.


Setelah berdiam diri cukup lama, pada akhirnya laki-laki berwajah manis itu segera menganggukkan kepalanya. dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.


"baiklah aku akan mencoba untuk membawa Haidar menemui Asmirandah."ucap laki-laki itu pada akhirnya.


Membuat Ajeng yang mendengar itu seketika tersenyum kecil. kemudian menepuk bahu dari putranya itu berulang kali.


"Mami yakin kamu bukan orang yang memiliki pikiran se picik itu."setelah mengatakannya dengan segera wanita paruh baya itu segera beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam menemui Elvio.


Sementara itu di ruangan lain, terlihat sepasang suami istri yang masih berbincang-bincang dengan harmonis.


"bagaimana apakah kamu ingin langsung pulang?"tanya Jordan mencoba untuk bernegosiasi kembali bersama dengan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


"Jordan aku mohon, bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya?"tanya wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya.


Membuat laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu seketika kembali menghembuskan nafasnya pasrah.


"baiklah baiklah terserahmu saja. tapi jika wanita itu melakukan sesuatu hal padamu lagi, aku tidak akan segan-segan langsung membawamu pergi dari sini dan tidak akan pernah membuatmu kembali menginjakkan kaki di rumah ini. apakah kamu mengerti?"tanya laki-laki itu dengan tatapan yang penuh dengan keseriusan.


Asmirandah yang mendengarnya pun, menganggukkan kepala. kemudian setelah memberikan beberapa kali kecupan di kepala dan juga wajah kedua wanita kesayangannya itu, pada akhirnya Jordan segera pergi dari sana. karena laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu, memutuskan untuk kembali membantu Opa Galang di ruangannya.


"Asmirandah."


Tepat saat Jordan pergi dari sana untuk menuju ke uang kerja milik keluarganya, seseorang yang berada di belakangnya memanggil nama wanita itu. hingga membuatnya seketika menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"tante,"cicitnya pelan.


Asmirandah segera berjalan untuk menghampiri wanita paruh baya yang pernah menjadi Ibu mertuanya itu.


"ada apa?"tanya Asmirandah setelah sampai di depan tubuh milik Ajeng. laut wajah dari wanita itu tampak kebingungan karena mendapati wanita paruh baya itu memanggilnya.


Sementara Ajeng sendiri, wanita paruh baya Itu tampak menghela nafas beberapa kali. sebelum akhirnya, memutuskan untuk membuka suara.


"apakah kamu ingin bertemu dengan Haidar?"tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Ajeng.


Sontak saja, Asmirandah yang mendengarnya merasa begitu terkejut. bahkan wanita itu sampai melangkah mundur karena merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.


"a... apakah tante serius?"tanya wanita itu dengan nada suara terbata-bata. Ajeng yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.


Seketika itu pula tetesan air mata mengalir dengan deras dari kedua kelopak mata milik Asmirandah. Karena Wanita cantik itu benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu dengan putranya saat ini.


"kapan aku harus bertemu dengan dia?"tanya wanita itu dengan ada yang begitu antusias.


"temui Zidan dan juga Haidar di tempat ini. ingat jangan ada orang yang mengetahuinya. karena jika hal itu terjadi, maka kemungkinan besar kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Haidar untuk selamanya."ucap Ajeng penuh dengan nada ketegasan.


Membuat Asmirandah sendiri, seketika mengerutkan keningnya karena merasa bingung dengan apa yang baru saja ia dengar itu.


"maksud tante bagaimana?"tanya wanita itu dengan raut wajah yang sama sekali tidak mengerti.


Ajeng tampak menghela nafas beberapa kali. sebelum akhirnya, wanita paruh baya itu memutuskan untuk mulai menceritakan apa yang ia dengar dari Zidane.


Tentunya, itu membuat Asmirandah sangat begitu terkejut. wanita cantik itu bahkan harus membekap mulutnya agar tidak berteriak saat mendengar cerita dari Ajeng itu.

__ADS_1


Tak berselang lama dari itu, Asmirandah segera menganggukkan kepalanya dengan cepat."aku janji aku tidak akan pernah melakukan kesalahan sedikitpun."setelah mengatakannya, Asmirandah segera meraih pendaki yang ada di tangan Ajeng itu kemudian membuka aplikasi yang memang diperintahkan oleh wanita paruh baya itu.


"gedung Y? bukankah letaknya sangat jauh dari sini?"gumam wanita itu ditujukan pada dirinya sendiri. namun sayangnya, hal itu masih didengar oleh Ajeng.


"memang benar. karena Zidane tidak ingin putranya kembali terancam jika terlalu dekat dari sini."setelah mengatakannya, Ajeng memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Meninggalkan Asmirandah seorang diri yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri. tak lama berselang, wanita cantik itu pun mendesah pelan. kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa frustasi dengan keadaan yang ada saat ini.


"bagaimana ini? bagaimana caranya supaya aku bisa menemui Haidar tanpa ketahuan oleh Jordan?"tanya wanita itu berpikir keras.


Hingga tak lama berselang, sebuah ide licik seketika berkelibat di dalam otaknya."tidak ada cara lain aku harus melakukan hal ini agar bisa bertemu dengan Haidar lebih lama."Asmirandah segera melangkahkan kakinya menuju dapur setelah mantap dengan rencananya itu.


Sesampainya di sana, wanita cantik itu segera disambut oleh para pelayan dengan begitu ramah dan juga sopan.


"Nyonya Mau membuat apa biar kami saja yang membuatkannya?"tanya salah seorang pelayan Seraya membungkuk hormat.


"tidak usah biar aku saja."tolak wanita itu dengan nada suara yang begitu halus dan juga tersenyum lebar. membuat para pelayan itu, pada akhirnya menurut.


****


Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di kediaman tersembunyi milik Zidane, laki-laki itu tengah membujuk putranya agar bisa membawanya pergi menemui Asmirandah.


"Ayah kita mau ke mana?"Tanya bocah kecil itu dengan raut wajah kebingungan.


Sementara Zidan sendiri, laki-laki berwajah manis itu seketika tersenyum tipis dan berjongkok untuk mensejajarkan pada anak laki-laki itu.


"Haidar, apakah Haidar ingin bertemu dengan Mama?"tanya laki-laki berwajah manis itu pada putranya.

__ADS_1


membuat Haidar yang mendengar itu sontak saja membulatkan kedua matanya. dan tak lama berselang, segera menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"mau Haidar mau bertemu dengan Mama."ucapnya Seraya tersenyum lebar. Hal itu membuat Zidan yang mendengarnya seketika itu tersenyum.


__ADS_2