Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 122


__ADS_3

Saat ini, Zidane tengah berada di depan ruangan rawat putra kecilnya. laki-laki berwajah manis itu, sejak tadi hanya terdiam. memikirkan masalah yang sepertinya silih berganti keluar masuk dalam hidupnya. Seakan-akan, semesta tidak mengizinkan dirinya untuk bahagia.


"apa yang kamu pikirkan?"tanya Ajeng Seraya duduk di samping sang Putra. Zidane ketika menoleh ke arah sumber suara.


"apakah aku tidak pernah diperbolehkan untuk bahagia?"bukannya menjawab, laki-laki berwajah manis itu malah balik bertanya dengan nada suara yang sangat memprihatinkan. menandakan bahwa laki-laki itu, merasa sangat frustasi.


"maafkan Mami sayang."dengan secepat kilat, wanita paruh baya itu segera memeluk tubuh putranya dengan sangat erat. dan tak lama berselang, terdengar isakan tangis di sana.


"Mami jangan bicara seperti itu. ini bukan kesalahan Mami. ini adalah murni kesalahan dari orang-orang yang memiliki ambisi besar itu."ucapnya terdengar sedikit meninggi.


Ajeng yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya." tidak sayang, andai saja Mami merestui hubungan kalian, mungkin saja hal ini tidak akan pernah terjadi."ucapnya penuh dengan penyesalan yang sangat dalam.


Zidane yang mendengar itu hanya terdiam. laki-laki itu sibuk untuk menenangkan sang Mami yang tampak terpukul dengan semua ini.


"kapan Haidar diperbolehkan pulang?"tanya Zidane mengganti topik pembicaraan agar tidak menimbulkan kesedihan yang berlarut-larut terhadap ibunya itu.


"kata dokter kemarin, hari ini Haidar juga sudah boleh dibawa pulang."ucapnya tersenyum simpul. tentunya Hal itu membuat Zidane, juga ikut tersenyum.


"kalau begitu, lebih baik kita siap-siap sekarang. jangan sampai orang-orang itu menyadari kalau kita tidak ada di dekat mereka. karena Mami yakin, urusannya akan panjang jika mereka menyadarinya."ucap Ajeng mengajak putranya itu untuk segera beranjak dari sana.


Dan pada akhirnya, Ajeng dan juga Zidane pulang dengan membawa Haidar bersama dengan mereka.


Sesampainya di rumah milik Zidane, Ajeng segera memerintahkan orang-orang untuk kembali menjaga dan mengasuh Haidar seperti kemarin. namun bedanya, kali ini setiap Haidar tidur baju milik Asmirandah dan juga milik Zidane, telah bertengger dan dijadikan selimut di dalam box bayi itu.


"ingat kalian semua. kalian harus mengganti baju milik kedua orang tuanya setiap ingin menidurkan Haidar. apakah kalian mengerti?!"tanya Ajeng Seraya menatap intens ke arah para pekerja itu. dan hal itu hanya dijawab anggukan kepala oleh mereka semua.


Setelah selesai dengan urusan di tempat itu, Zidane dan juga Ajeng memutuskan untuk kembali ke kediaman Prakoso. karena dapat dipastikan, saat ini mungkin Oma Keisha dan juga Tiara tengah misuh-misuh karena ditinggal oleh Zidane saat mereka sedang belanja.

__ADS_1


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat dua wanita berbeda generasi tengah menggerutu kesal dan sesekali akan mengumpat. karena mereka berdua ditinggal oleh seseorang. siapa lagi orang itu jika bukan Oma Keisha dan juga Tiara.


"dia benar-benar keterlaluan! awas saja jika sampai di rumah, Oma akan langsung hukum dia! berani-beraninya dia meninggalkan kita begitu saja, memangnya dia siapa?!"di sepanjang perjalanan, Oma Keisha masih tetap mengomel.


Membuat Tiara yang mendengarnya, sedikit merasa risih. karena kupingnya, terasa panas dan juga berdenyut akibat omelan tiada henti yang dilakukan oleh wanita rentah itu.


'memangnya tidak bosan apa sejak tadi mengomel terus? aku yang mendengarkannya saja merasa sangat risih." gerutunya dalam hati. tentu saja wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu tidak akan pernah berani untuk berkata terus terang pada wanita yang ada di sampingnya.


Karena jika hal itu sampai terjadi, maka misi balas dendam Tiara, akan menghilang dan juga tidak ada kesempatan kedua baginya untuk melakukan hal itu.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh mereka Akhirnya sampai juga tepat di di depan kediaman mewah milik keluarga Prakoso.


" kalau begitu, Oma masuk dulu."pamit wanita renta itu pada Tiara. hal itu hanya dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.


Pada saat Tiara ingin mengikuti Oma Keisha masuk ke dalam rumah, seseorang datang menghampirinya.


"benar, memangnya ada apa?"tanya wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu dengan raut wajah kebingungan.


"ini ada surat dari pengadilan."jawab orang itu Seraya menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada wanita itu.


"terima kasih."ucap wanita itu Seraya menerimanya dan dengan segera kembali masuk ke dalam rumah mewah itu.


Sesampainya di dalam sana, Tiara segera masuk ke dalam kamarnya. dan dengan segera, wanita itu membuka barang itu.


Kedua matanya seketika membulat sempurna saat telah meneliti dan membaca surat itu dengan seksama. dan tak lama berselang, kedua sudut bibir wanita itu seketika melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis.

__ADS_1


"Jordan memang benar-benar bertindak cepat."setelahnya wanita itu kembali melipat dan memasukkan sesuatu yang ada di dalam amplop itu seperti semula.


"tidak sabar rasanya ingin menyerahkan ini pada Kak Zidane."lanjutnya Seraya tersenyum manis.


Tepat saat wanita itu menutup amplop, terdengar suara dari mesin mobil yang berhenti tepat di halaman rumah itu. Hal itu membuat Tiara, dengan cepat menghampiri laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.


"Kakak sudah pulang?"tanya wanita itu menyambut kedatangan Zidane dan juga Ajeng.


Membuat pasangan ibu dan anak itu, seketika saling pandang satu sama lain karena merasa aneh dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh wanita yang ada di hadapan mereka saat ini.


"apa yang kau rencanakan? kenapa kau bersikap manis seperti ini?"berondong Zidane tanpa basa-basi.


Tiara yang mendengar itu, seketika memasang wajah yang ditekuk dan mencebikkan bibirnya kebawah. namun tak lama berselang, wanita itu menerbitkan senyum anehnya. hingga membuat Ajeng dan juga Zidan yang melihat itu, semakin memasang gerakan waspada.


"aku baru saja mendapatkan ini!"ucap wanita itu Seraya menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Zidane.


Dengan perlahan, laki-laki itu menerimanya."siapa yang mengantarkannya?"tanya Zidane menatap ke arah Tiara.


"tukang pos!"jawabnya singkat Seraya terlalu pergi dari sana.


Ajeng yang mendengar itu, seketika menepuk pundak dari putranya mencoba untuk menenangkan laki-laki itu.


"buka dan lihat apa isinya."perintah wanita paruh baya itu dan langsung dituruti oleh Zidane.


Kedua bola mata laki-laki itu seketika membulat sempurna saat membaca tulisan yang ada di kertas itu.


"tidak itu tidak mungkin!" seru laki-laki itu Seraya menggelengkan kepalanya. Zidan sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

__ADS_1


"apa ini benar-benar tulisan dari Asmirandah?"tanya Ajeng yang juga ikut syok dengan tulisan tangan itu.


Dengan lemah, laki-laki itu menganggukkan kepala. karena dia tahu betul tulisan tangan dari istrinya itu.


__ADS_2